Stok Bawang Merah Labuan Bajo Aman Tiga Bulan, Inisiatif Pengusaha Lokal Tekan Harga dan Buka Lapangan Kerja

Stok Bawang Merah Labuan Bajo Aman Tiga Bulan, Inisiatif Pengusaha Lokal Tekan Harga dan Buka Lapangan Kerja

MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM – Upaya membangun tata niaga bawang merah yang lebih efisien di Labuan Bajo mulai menunjukkan hasil. Setelah menggelar pasar bawang merah murah yang mendorong penurunan harga di pasaran, pengusaha lokal yang dikenal dengan sapaan Ninonk memastikan stok bawang merah untuk kebutuhan masyarakat tersedia hingga tiga bulan ke depan.

Menurut Ninonk, seluruh pasokan diperoleh melalui pembelian langsung dari petani. Skema tersebut memberi kepastian pasar bagi petani sekaligus memangkas rantai distribusi sehingga harga jual kepada masyarakat menjadi lebih terjangkau.

Pengusaha Labuan Bajo Masuk Sektor Pertanian, Tantang Praktik Tengkulak yang Dinilai Rugikan Petani (Dok. Pribadi)

“Kami sudah menyiapkan stok yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Labuan Bajo selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Harapan kami, masyarakat tidak lagi khawatir terhadap kelangkaan maupun lonjakan harga bawang merah,” katanya.

Ia menegaskan, penyediaan stok dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan komoditas tersebut di tengah kebutuhan masyarakat.

Dampak dari pola distribusi tersebut tidak hanya dirasakan petani dan konsumen. Sebelum dipasarkan, bawang merah terlebih dahulu dibersihkan dan disortir oleh puluhan ibu rumah tangga di sekitar lokasi usaha. Aktivitas itu menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga mereka.

Kartini, salah seorang pekerja, mengaku bersyukur karena pekerjaan tersebut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.

“Kami sangat bersyukur bisa bekerja di sini. Memang bukan pekerjaan yang berat, tetapi hasilnya sangat membantu untuk menambah biaya kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan anak-anak. Terima kasih kepada Pak Ninonk yang sudah membuka kesempatan bagi kami,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Yuliana. Menurutnya, pekerjaan itu memberikan tambahan penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarga dalam waktu lama.

Bagi Ninonk, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Kalau petani mendapat harga yang baik, masyarakat bisa membeli dengan harga terjangkau, dan ibu-ibu di sekitar memperoleh tambahan penghasilan, berarti usaha ini membawa manfaat yang lebih luas,” katanya.

Sejak menerapkan pembelian langsung dari petani dan menggelar pasar murah, harga bawang merah di Labuan Bajo turun dari kisaran Rp40.000 menjadi sekitar Rp25.000, bahkan di beberapa titik mencapai Rp23.000 per kilogram. Penurunan itu menunjukkan bahwa efisiensi distribusi dapat menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat pentingnya peran pemerintah dalam memantau harga kebutuhan pokok secara berkelanjutan. Pengawasan rutin terhadap pergerakan harga dan distribusi dinilai diperlukan agar stabilitas pasar tidak hanya bergantung pada inisiatif pelaku usaha, tetapi menjadi bagian dari kebijakan yang konsisten dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Inisiatif yang dilakukan Ninonk menunjukkan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha dan petani mampu menciptakan manfaat yang lebih luas, mulai dari menjaga pasokan, menekan harga, meningkatkan kesejahteraan petani, hingga membuka peluang kerja bagi masyarakat. Model distribusi seperti ini menjadi contoh bahwa tata niaga yang lebih singkat dan berkeadilan dapat berkontribusi nyata terhadap stabilitas pangan di daerah.

Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *