Opini Oleh: Ninonk
(Pegiat Media Sosial dan Aktivis Aksi Kemanusiaan)
Manggarai-Pena1-Ntt.com- Pasca-gempa 15 Agustus 2026, langit di atas Serise dan Luwuk tidak pernah benar-benar sepi. Deru mesin melintasi awan, membawakan gemuruh baling-baling helikopter yang membelah udara. Di jalur darat, deretan kendaraan dinas melaju cepat, meninggalkan jejak debu yang membubung tinggi di antara reruntuhan.
Namun, setiap kali mata kami menengadah menatap bayang-bayang baling-baling helikopter yang melintas di atas kepala, harapan itu selalu berakhir menjadi kekecewaan yang berulang. Sampai detik ini, tidak ada satu pun bantuan yang mendarat di tangan kami.
Tidak ada kantong beras yang diturunkan. Tidak ada air bersih yang dibagikan. Tidak ada terpal untuk memayungi luka, apalagi tim medis yang membalut rasa sakit. Yang singgah pada kami hanyalah suara mesin yang bising dan jejak asap di langit—seolah menegaskan bahwa dari ketinggian sana, kami hanyalah sekadar pemandangan.
Pertanyaan dari Tanah yang Dingin
Di tengah duka ini, kami yang bertahan di tapak bencana hanya bisa menyimpan tanya:
– Untuk apa helikopter itu melintas saban waktu jika tak pernah meluncurkan bahan logistik?
– Untuk apa konvoi kendaraan membelah jalanan jika tak ada satu pun kotak bantuan yang diteteskan?
– Untuk apa kilatan kamera peninjauan jika perut anak-anak kami masih dibelit lapar?
Sudah tiga hari berlalu.
Ibu-ibu di Luwuk terpaksa menidurkan buah hati mereka di atas tanah basah dan dingin. Para lansia bertahan menahan sakit tanpa sebutir pun obat. Di Serise, warga menyambung hidup hanya dengan sisa-sisa apa yang tersisa dari puing-puing rumah mereka.
Kami Butuh Akses Nyata, Bukan Sekadar Tontonan Udara
Masyarakat Serise dan Luwuk tidak membutuhkan survei udara yang berulang kali, tidak juga iring-iringan pejabat yang sekadar lewat.Kami tidak butuh dipantau; kami butuh ditolong.
– Gunakan helikopter untuk dropping logistik: Jika akses darat memang lumpuh, jadikan armada udara itu penyambung nyawa, bukan sekadar wahana pemantau.
– Pangkas konvoi seremonial: Alihkan alokasi BBM dan kendaraan untuk truk-truk pengangkut bahan pokok.
– Tanggalkan formalitas: Turunkan berasnya, bukan kameranya. Turunkan tim medisnya, bukan rombongannya.
Deru baling-baling telah lama menggema di langit kami. Debu konvoi telah lama membumbung di jalanan kami. Kini, warga Serise dan Luwuk hanya menunggu satu hal: suara roda truk bantuan yang benar-benar berhenti di depan tenda darurat kami.
Sebab hingga hari ini, sambil menengadah menatap langit yang riuh, kami masih bertanya-tanya:
“Apakah kami ini sedang diperjuangkan, atau memang sengaja dibiarkan?“













