MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mendorong percepatan pemulihan fisik penyintas gempa di Flores melalui program edukasi kesehatan dan pelatihan sport massage di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (5/9/2026).
Langkah ini diambil mengingat Ruteng menjadi salah satu wilayah yang terdampak signifikan akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Selain memicu trauma psikologis, guncangan gempa utama beserta rentetan gempa susulan menyisakan dampak fisik bagi warga, mulai dari cedera akibat reruntuhan hingga ketegangan otot dan kelelahan fisik selama proses evakuasi.
Kondisi tersebut mendorong Tim PKM UNESA yang beranggotakan Dr. Aghus Syifaq, S.Or., M.Pd., Nidya Comdeca Nurvitriana, S.Tr.Keb., M.Keb., dr. Rizky Patria Nevangga, M.Or., dan Edy Nur Zaini, SE., untuk memberikan penanganan yang berfokus langsung pada kebutuhan fisik masyarakat setempat.
Dalam pelaksanaannya, program ini membekali penyintas dengan dua fokus materi utama.
dr. Rizky Patria Nevangga memberikan edukasi mengenai pertolongan pertama dan langkah-langkah pemulihan pascabencana, mencakup penanganan awal cedera ringan serta pengenalan tanda bahaya yang memerlukan rujukan medis lanjutan.
Menurut dr. Rizky, keluhan fisik ringan seperti nyeri otot dan kelelahan sering kali luput dari perhatian pascagempa.
Hal itu terjadi karena perhatian utama masyarakat maupun petugas masih terfokus pada penanganan kebutuhan darurat.
“Melalui edukasi pertolongan pertama, kami ingin memastikan warga mampu mengenali kondisi tubuhnya sendiri dan segera mendapat penanganan yang tepat,” ujar dr. Rizky.
Sementara itu, Dr. Aghus Syifaq memaparkan prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sekaligus memberikan pelatihan teknik sport massage.
Pembekalan ini dirancang agar warga dapat meredakan ketegangan otot secara mandiri di lingkungan keluarga maupun komunitas.
“Pelatihan sport massage kami rancang agar sederhana dan mudah dipraktikkan secara mandiri oleh warga, sekaligus menekankan pentingnya prinsip K3 agar proses pemulihan berjalan aman, tanpa menimbulkan cedera baru,” jelasnya.
Selama sesi edukasi dan pelatihan berlangsung, Tim PKM UNESA turut memberikan pendampingan khusus bagi kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak.
Pelaksanaan program ini juga dikoordinasikan secara ketat bersama warga dan aparat setempat demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib serta tepat sasaran.
Melalui program ini, Tim PKM UNESA berharap skema edukasi kesehatan dan pelatihan sport massage tersebut dapat terus berlanjut serta direplikasi di berbagai wilayah terdampak bencana lainnya di NTT.
Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pemulihan kesehatan fisik warga berjalan seiring dengan upaya pemulihan psikososial yang telah dilakukan sebelumnya.













