MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM — Di tengah kepanikan akibat gempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, seorang relawan LSM ILMU, Gregorius Parera, memilih kembali masuk ke dalam bangunan Puskesmas Dampek, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Gempa yang terjadi sekitar pukul 05.58 WITA itu menyebabkan bangunan Puskesmas Dampek mengalami kerusakan. Pasien dan tenaga kesehatan berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri.

Namun, di tengah situasi tersebut, sejumlah obat-obatan dan perlengkapan medis masih tertinggal di dalam gedung. Padahal, kebutuhan pelayanan kesehatan bagi para korban sangat mendesak.
Gregorius kemudian meminta izin kepada Kepala Puskesmas Dampek, Heldy Nahur, dan dokter yang bertugas untuk masuk kembali ke dalam gedung guna mengambil obat-obatan.
Bersama seorang warga bernama Krensi, Gregorius masuk dengan hati-hati menuju ruangan penyimpanan obat. Keduanya sempat terkunci di dalam ruangan sehingga situasi semakin menegangkan.
Krensi bahkan sempat berpikir untuk memecahkan kaca sebagai jalan keluar. Namun, Gregorius meminta rekannya tetap tenang.
“Jangan panik. Tarik napas dan buka pelan-pelan pintunya,” kata Gregorius.
Pintu akhirnya berhasil dibuka. Obat-obatan yang berhasil dikumpulkan kemudian dikeluarkan dan dibawa ke tenda darurat tempat tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada korban.
Tidak berhenti di situ. Gregorius kembali masuk untuk kedua kalinya guna menyelamatkan peralatan medis yang masih dapat digunakan.
Kali ini, ia berkomunikasi melalui video call dengan Kepala Puskesmas Heldy Nahur. Dari luar gedung, Heldy memberikan arahan mengenai perlengkapan yang harus diprioritaskan.
“Ambil barang yang penting, seperti infus, kotak obat, alat tensi, oksigen dan lainnya,” ujar Heldy melalui sambungan komunikasi tersebut.
Peralatan medis yang berhasil diselamatkan kemudian dibawa keluar untuk mendukung pelayanan kesehatan darurat.
Heldy: Terima Kasih Secara Lembaga dan Pribadi
Kepala Puskesmas Dampek, Heldy Nahur, menyampaikan apresiasi kepada Gregorius. Ia mengaku berterima kasih bukan hanya atas nama lembaga, tetapi juga secara pribadi.
“Secara lembaga Puskesmas Dampek maupun secara pribadi, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Om Goris karena sudah bertindak sebagai penyelamat. Beliau sudah berani menembus bahaya di saat orang lain tidak berani masuk ke gedung Puskesmas Dampek ketika terjadinya gempa,” ujar Heldy.

Menurut Heldy, tindakan Gregorius sangat membantu tenaga kesehatan karena sejumlah obat dan perlengkapan medis yang dibutuhkan untuk menangani korban berhasil diselamatkan.
Bagi Gregorius, apa yang dilakukannya bukan untuk mencari pujian. Ia hanya melihat kebutuhan pasien yang mendesak sementara obat-obatan dan peralatan medis masih berada di dalam bangunan yang rusak.
“Saya hanya berpikir bagaimana pasien bisa mendapatkan pertolongan. Obat-obatan ada di dalam, sementara pasien membutuhkannya,” ungkapnya.
Gregorius juga mengaku meneteskan air mata ketika melihat seorang korban meninggal dunia setelah terlambat mendapatkan pertolongan.
Setelah memastikan obat dan peralatan medis berada di posko, Gregorius bersiap meninggalkan Puskesmas Dampek untuk membantu keluarganya yang juga terdampak gempa.
Sebelum pergi, ia berpesan kepada Kepala Puskesmas dan dokter agar tidak ragu menghubunginya apabila kembali membutuhkan bantuan.
“Kalau nanti masih dibutuhkan tenaga saya, silakan Ibu Kapus telepon saya,” pesannya.
Di tengah bangunan yang rusak dan kepanikan akibat bencana, tindakan Gregorius menjadi gambaran bahwa dalam situasi darurat, keberanian dan kepedulian masih dapat menjadi bagian penting dari upaya menyelamatkan pelayanan bagi para korban.













