MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Sebuah video yang memperlihatkan paket sembako bantuan bagi korban gempa dilempar dan diinjak beredar di media sosial. Aksi tersebut memicu kecaman sekaligus pertanyaan mengenai siapa pelaku dan apa yang melatarbelakangi kejadian itu.

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah paket bantuan berada di sebuah lokasi. Beberapa paket kemudian dilempar dan diinjak oleh seseorang yang terekam kamera.
Narasi yang menyertai video menyebut aksi tersebut dilakukan oleh “warga”. Namun, informasi itu kemudian dipertanyakan oleh sejumlah warganet.
Video tersebut salah satunya dibagikan oleh akun Facebook Paulus Njauk. Dalam unggahannya, Paulus meminta Ketua DPRD Manggarai Timur, Polres Manggarai Timur, dan Media Center Manggarai Timur segera menelusuri orang yang terekam dalam video tersebut.
“Harapan memanggil orang ini yang disinyalir sebagai oknum yang melakukan pengambilan video perusakan sembako bantuan di wilayah Golo Lijun Elar. Cari hingga bisa pertanggungjawabkan apa yang ada di dalam videonya,” tulis Paulus.
Di kolom komentar, muncul informasi berbeda. Sejumlah warganet menyebut orang yang melakukan aksi tersebut bukan masyarakat penerima bantuan.
Pelaku disebut sebagai oknum yang kecewa karena bantuan tidak disalurkan melalui dirinya. Sementara informasi lain menyebut bantuan tersebut memang diperuntukkan bagi posko.
Namun, informasi tersebut masih berupa keterangan yang beredar di media sosial dan belum dikonfirmasi secara resmi.
Ketua AJO Matim Kecam Keras
Sementara itu, Ketua Asosiasi Jurnalis Online (AJO) Manggarai Timur, Edvon, mengecam keras tindakan yang terekam dalam video tersebut.
Edvon menilai, apa pun persoalan yang melatarbelakangi kejadian itu, bantuan untuk korban bencana tidak semestinya diperlakukan dengan cara demikian.
“Saya mengecam keras tindakan tersebut. Kita sedang berada dalam situasi bencana, ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Kalau ada persoalan terkait distribusi, seharusnya disampaikan dan diselesaikan melalui cara yang baik, bukan dengan merusak bantuan,” tegas Edvon.
Ia juga menyoroti apabila orang yang berada dalam video tersebut benar mengatasnamakan diri sebagai wartawan.
Menurut Edvon, tindakan individu tidak boleh serta-merta digeneralisasi sebagai perilaku insan pers.
“Kalau benar yang bersangkutan mengaku sebagai wartawan, tentu ini menjadi persoalan serius. Wartawan memiliki tanggung jawab moral dan etika dalam menjalankan profesinya. Jangan sampai tindakan satu orang kemudian mencoreng nama baik seluruh wartawan,” ujarnya.
Edvon meminta pihak berwenang segera mengungkap fakta di balik video tersebut. Menurutnya, proses klarifikasi penting dilakukan agar tidak terjadi penghakiman berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Silakan aparat mengusut secara objektif. Siapa orangnya, apa motifnya, dan bagaimana sebenarnya persoalan bantuan tersebut harus dijelaskan berdasarkan fakta,” katanya.
Jangan Generalisasi Masyarakat Elar
Lokasi kejadian disebut berada di Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
Dalam foto yang turut beredar, tampak sebuah spanduk bertuliskan “KANTOR KABIRO GINEWS ://TV.COM” di lokasi kejadian.

Keberadaan spanduk tersebut kemudian ikut menjadi perhatian karena muncul dugaan bahwa orang yang terlibat dalam video memiliki keterkaitan dengan media.
Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi yang memastikan identitas orang tersebut maupun statusnya sebagai wartawan.
Sejumlah warga meminta agar kejadian tersebut tidak digeneralisasi sebagai perilaku masyarakat Elar.
“Jangan biarkan satu oknum mencoreng nama baik wartawan dan masyarakat Elar yang sedang berduka karena gempa,” tulis salah satu warganet.
Di tengah situasi bencana, bantuan sembako memiliki arti penting bagi warga terdampak. Karena itu, tindakan terhadap bantuan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Polres Manggarai Timur maupun pihak terkait lainnya mengenai kronologi kejadian.
PENA1NTT.COM masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait untuk memastikan fakta sebenarnya di balik video yang beredar.













