Opini  

SPIRITUALITAS DI TENGAH BADAI

Efron Datman, Penulis Opini dan Penggiat Literasi di Manggarai (Dok. Pribadi)

Oleh: Efron Datman (Penggiat Literasi di Kabupaten Manggarai)

MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Badai datang tanpa mengetuk pintu. Bisa berupa Gempa Bumi mendadak, Erupsi, Banjir Bandang, harga kebutuhan pokok naik, keluarga sakit, atau kita sendiri yang sakit atau mungkin sekadar rasa cemas yang tidak jelas sebabnya. Di saat seperti itu, kita sering panik mencari solusi: uang, relasi, rencana A,B, C, sampai Z. Tapi ada satu hal yang jarang kita sentuh lebih dulu yaitu SPIRITUALITAS.

Spiritualitas bukan soal rajin ke tempat ibadah saja; Gereja, Gua Maria, atau tempat Ibadah lainnya. Bukan juga mantra untuk langsung melunaskan utang. Spiritualitas adalah jangkar. Ketika semua tampak goyah, ia mengingatkan kita siapa diri kita, untuk apa kita bertahan, untuk apa kita mengeluh, dan kepada siapa kita bisa bersandar; kepada Tuhan atau kepada sesama ketika tenaga kita habis.

Di tengah badai, spiritualitas memberi tiga hal yang tidak bisa dibeli:

1. Tenang di dalam kekacauan (Ketenangan Batin)

Badai tidak bisa kita tahan/tolak. Tapi kita bisa memilih tidak ikut “tenggelam” di dalamnya. Doa, meditasi, zikir, atau sekedar duduk diam 5 menit membuat kalbu kita tidak hanyut oleh berita buruk dan asumsi terburuk. Orang yang tenang bisa berpikir lebih jernih karena Keputusan penting jarang lahir dari kepanikan.

2. Makna di balik luka (Hikmah)

Badai memaksa kita bertanya: “Kenapa aku?” Spiritualitas menjawab: “Untuk apa ini terjadi?” Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk menemukan pelajaran. Gempa Bumi dan Erupsi bisa jadi pintu usaha baru. Sakit bisa jadi cara tubuh minta istirahat. Pengkhianatan bisa jadi cara semesta menyaring siapa yang layak tinggal. Tanpa makna, penderitaan hanya jadi beban. Dengan makna, penderitaan jadi guru atau pelajaran.

3. Kekuatan untuk berbagi (Solidaritas)

Orang yang punya jangkar spiritual tidak jadi egois saat susah. Justru dia jadi lebih peka. Karena dia tahu rasanya jatuh, dia belajar menolong yang lain berdiri. Di banyak bencana, kita lihat gedung umum, relawan, dan donasi muncul dari orang-orang yang paling dulu bersujud dan meminta kekuatan. Badai menguji, tapi spiritualitas mengubah ujian jadi pengabdian.

Tentu, spiritualitas bukan pengganti aksi. Berdoa tanpa ikhtiar adalah angan. Tapi ikhtiar tanpa doa sering membuat kita kering dan sinis. Kombinasinya yang membuat manusia tetap manusia: bekerja dengan tangan, berserah dengan hati.

Indonesia, dan khususnya kita di Flores Manggarai NTT, sudah terlalu sering diuji badai. Gempa, erupsi, banjir, krisis ekonomi. Yang membuat kita tetap berdiri bukan hanya bantuan dan infrastruktur. Tapi juga gotong royong yang lahir dari rasa “kita bersaudara”, dan keyakinan bahwa setelah malam pasti ada fajar.

Jadi kalau hari ini hidupmu terasa seperti kapal kecil di tengah ombak, jangan buru-buru lompat. Turunkan jangkar dulu. Tarik napas. Ingat Tuhan, ingat tujuan, ingat orang-orang yang masih butuh kamu kuat.

Karena badai akan berlalu. Tapi orang yang ditempa badai dengan spiritualitas, akan keluar sebagai versi dirinya yang lebih kokoh.

Bukan badai yang menentukan arah kapal, tapi jangkar dan nahkodanya.”

 

 

Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *