MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memfokuskan program pendampingan bagi kelompok rentan, khususnya anak-anak dan lansia, di lokasi-lokasi pengungsian pascagempa di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah ini diambil sebagai respons atas dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Di tengah keterbatasan akses layanan dan tekanan psikologis di posko pengungsian, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas menghadapi risiko penderitaan yang jauh lebih tinggi.
Kondisi tersebut mendorong Tim PKM UNESA—yang beranggotakan Dr. Iman Pasu Purba Marganda Hadiarto Purba, M.Ag., Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., Putri Aisyiyah Rachma Dewi, S.Sos., M.Med.Kom., dan Rojil Nugroho Bayu Aji, S.Hum., M.A.—untuk merancang intervensi khusus berbasis penguatan keluarga melalui program Safe Home.
Dalam pelaksanaannya, tim menjangkau tujuh titik posko pengungsian yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Manggarai.
Di Kecamatan Wae Ri’i, pendampingan dilakukan di Posko Puarwase Desa Poco, Desa Ndehes, Posko Dusun Pandang Desa Poco, dan Posko Dusun Bung Desa Benteng Poco.
Sementara di Kecamatan Langke Rembong, tim menyasar Posko Bintang Timur Kelurahan Poco Mal dan Posko Dusun Werong Desa Bangka Lelak. Adapun di Kecamatan Satar Mese Utara, pendampingan berpusat di Posko Dusun Nteer Desa Mata Wae.
Pendampingan berfokus pada kesiapan keluarga menghadapi situasi darurat, perlindungan dari tindakan kekerasan selama bencana, gotong royong komunitas, serta dukungan psikologis antaranggota keluarga.
Materi disampaikan secara interaktif dan ramah kelompok rentan melalui metode roleplay, storytelling, bernyanyi, diskusi kelompok terarah, hingga pendampingan langsung.
Anggota Tim PKM UNESA, Dr. Iman Pasu Purba Marganda Hadiarto Purba, menegaskan pentingnya kepekaan keluarga dalam menjaga anggotanya selama berada di tempat pengungsian.
“Keluarga adalah lapisan pertama perlindungan bagi kelompok rentan, terutama saat layanan formal belum sepenuhnya pulih di lokasi pengungsian. Melalui Safe Home, kami ingin memastikan setiap keluarga memiliki pengetahuan dan kepekaan untuk melindungi anggotanya, mulai dari anak-anak hingga lansia,” ujar Dr. Iman.
Senada dengan itu, Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) UNESA sekaligus anggota tim, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., menyampaikan bahwa pemulihan bencana harus memberikan rasa aman yang menyeluruh bagi seluruh warga terdampak.
“Program ini menegaskan bahwa pemulihan bencana tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga harus memastikan rasa aman bagi kelompok yang paling rentan. Kami berharap penguatan kapasitas keluarga ini dapat menjadi fondasi ketangguhan komunitas di Manggarai dalam jangka panjang,” tuturnya.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh warga pengungsi.
Manto, salah seorang warga terdampak gempa di posko pengungsian, mengaku pendampingan ini memberikan panduan praktis dalam merawat keluarga di tengah keterbatasan.
“Bantuan seperti ini sangat berarti bagi kami yang tinggal di posko. Sejak gempa terjadi, kami merasa cemas menjaga anak dan orang tua di tengah keterbatasan. Dengan pendampingan seperti ini, kami jadi lebih paham cara menjaga keluarga tetap aman selama di pengungsian,” kata Manto.
Tim PKM UNESA berharap skema pendampingan yang berfokus pada perlindungan kelompok rentan ini dapat direplikasi di posko-posko pengungsian lainnya di seluruh wilayah terdampak gempa di Flores.













