KUPANG, PENA1NTT.COM – Bantuan bagi masyarakat terdampak gempa bumi Flores terus mengalir dari berbagai penjuru. Pemerintah, lembaga sosial, komunitas, relawan hingga masyarakat umum bergerak menyalurkan kebutuhan bagi warga yang berada di wilayah terdampak bencana.
Namun, di tengah derasnya bantuan yang diarahkan ke lokasi bencana, terdapat kelompok yang juga membutuhkan perhatian, yakni mahasiswa asal wilayah terdampak yang sedang menempuh pendidikan di luar Flores.
Bagi mahasiswa asal daerah terdampak, gempa tidak hanya dirasakan oleh keluarga yang berada di kampung halaman. Dampaknya juga ikut dirasakan anak-anak mereka yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.
Sebagian mahasiswa bergantung pada kiriman orang tua untuk memenuhi kebutuhan kos, makan dan minum, transportasi, internet hingga kebutuhan penunjang perkuliahan.
Ketika keluarga di kampung halaman terdampak gempa dan harus mengalokasikan kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan dasar serta menghadapi kondisi darurat, kiriman biaya hidup kepada mahasiswa di perantauan pun ikut terganggu.
Kondisi tersebut dirasakan mahasiswa asal Pota, Zainal, yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Kupang.
Zainal berharap pemerintah tidak hanya melihat mahasiswa sebagai kelompok yang berada di luar wilayah bencana.
Menurutnya, mahasiswa yang sedang berada di luar Flores tetap memiliki hubungan langsung dengan keluarga yang terdampak bencana di kampung halaman.
Ia meminta pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa terdampak, terutama selama kondisi ekonomi keluarga belum kembali normal.
“Kami memang berada di luar daerah, tetapi keluarga kami ada di wilayah yang terdampak. Ketika kondisi keluarga terganggu akibat gempa, otomatis kami yang sedang kuliah juga ikut merasakan dampaknya,” ujar Zainal.
Ia berharap Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dapat melakukan pendataan terhadap mahasiswa asal daerah terdampak yang sedang menempuh pendidikan di luar Flores.
Menurut dia, perhatian pemerintah penting agar mahasiswa tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup dan melanjutkan perkuliahan di tengah kondisi keluarga yang sedang menghadapi bencana.
Hal senada disampaikan Delon, mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang asal Kota Komba Utara.
Delon menilai dampak gempa seharusnya tidak hanya dilihat dari kerusakan fisik yang terjadi di lokasi bencana.
Ada dampak ekonomi yang juga dirasakan keluarga korban, termasuk kemampuan orang tua membiayai anak yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.
“Kami yang sedang kuliah di Kupang juga berharap ada perhatian. Keluarga di kampung sedang menghadapi kondisi akibat gempa, sementara kebutuhan kami sebagai mahasiswa tetap berjalan setiap hari,” kata Delon.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari penanganan dampak bencana.
Menurutnya, bantuan kepada mahasiswa terdampak bukan berarti mengurangi perhatian terhadap masyarakat yang berada di lokasi bencana. Sebaliknya, dukungan tersebut diperlukan agar anak-anak dari keluarga terdampak tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Pemkab Manggarai Timur Diminta Bergerak
Kondisi tersebut menjadi alasan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dinilai perlu mengambil langkah konkret.
Pemkab Manggarai Timur diharapkan melakukan pendataan terhadap mahasiswa asal wilayah terdampak gempa yang sedang kuliah di luar Flores.
Pendataan dapat menjadi dasar untuk menentukan bentuk intervensi yang tepat, baik berupa bantuan biaya hidup sementara, dukungan biaya kos, bantuan pendidikan maupun bentuk bantuan lainnya.
Hal yang sama juga diharapkan dilakukan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pemerintah Provinsi NTT dan Pemkab Manggarai Timur diminta tidak hanya melihat korban gempa berdasarkan lokasi tempat tinggal mereka, tetapi juga berdasarkan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh bencana.
Sebab, mahasiswa yang berada di Kupang, Jawa, Bali maupun daerah lainnya tetap memiliki keluarga di wilayah terdampak.
Mereka mungkin tidak berada di tenda pengungsian, tetapi ketika kemampuan ekonomi keluarga di kampung halaman terganggu, kebutuhan hidup dan pendidikan mereka di perantauan juga ikut terancam.
Bencana, dengan demikian, tidak hanya meninggalkan rumah yang rusak dan masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan.
Bencana juga dapat mengancam keberlangsungan pendidikan generasi muda.
Karena itu, di tengah derasnya bantuan yang terus mengalir ke Flores, suara mahasiswa dari keluarga terdampak juga perlu didengar.
Mereka tidak meminta perhatian khusus yang berlebihan. Mereka hanya berharap pemerintah menyadari bahwa dampak gempa dapat dirasakan jauh melampaui lokasi tempat gempa terjadi.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Pemerintah Provinsi NTT diharapkan hadir untuk memastikan mahasiswa asal daerah terdampak tetap dapat bertahan hidup, tetap mengikuti perkuliahan dan tidak kehilangan kesempatan menyelesaikan pendidikan hanya karena keluarga mereka sedang menghadapi bencana.
Membantu korban gempa bukan hanya menyelamatkan mereka dari kondisi darurat hari ini, tetapi juga menjaga agar masa depan anak-anak mereka tidak ikut menjadi korban.











