Guru dan Warga di Manggarai Timur Gotong Royong Bangun Ruang Kelas Darurat

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM — Para guru, orang tua murid, dan warga Desa Pocong, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), bergotong royong membangun ruang kelas darurat pada Selasa (8/9/2026).

Langkah swadaya ini diambil agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung secara aman pascabencana.

Pembangunan ruang belajar sementara tersebut dilakukan setelah gedung SDK Menge mengalami kerusakan berat akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.

Kerusakan fisik pada bangunan utama dinilai membahayakan keselamatan, sehingga aktivitas sekolah harus segera dipindahkan ke ruang darurat.

Dalam pengerjaannya, warga memanfaatkan material lokal seperti bambu dan kayu secara mandiri.

Sementara itu, atap terpal didapatkan dari sumbangan mitra sekolah, Wahana Visi Indonesia (WVI), serta bantuan dari jaringan keluarga perantau yang berada di Jakarta, Kalimantan, serta warga dari tiga dusun setempat, yakni Dusun Menge, Poeng, dan Leong.

Kepala SDK Menge, Petronela Karyawati, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan sekolah pascagempa membutuhkan perhatian dan penanganan bersama.

Demi menjamin keamanan serta kenyamanan peserta didik, pihak sekolah berinisiatif menggalang dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan mitra.

“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Desa Pocong, Ketua Komite, bapak dan ibu guru SDK Menge, serta orang tua peserta didik yang telah bergotong royong meluangkan waktu dan tenaga. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian, solidaritas, dan kerja sama antara orang tua dan pihak sekolah,” ujar Petronela.

Ia berharap semangat gotong royong ini terus terjaga agar proses pemulihan fisik sekolah dan kegiatan pembelajaran dapat kembali berjalan dengan lancar dan aman.

Dukungan serupa disampaikan pihak pemerintah desa setempat. Kepala Desa Pocong, Adrianus Ayon, mengapresiasi langkah cepat kepala sekolah, komite, dan para orang tua murid dalam merespons kondisi krisis tersebut.

Pemerintah desa turut memfasilitasi pergerakan warga serta memastikan seluruh elemen masyarakat bahu-membahu menuntaskan pembangunan kelas darurat.

Menurut Adrianus, penyelamatan proses pendidikan anak-anak harus menjadi prioritas bersama di tengah situasi darurat bencana.

“Melihat kondisi SDK Menge yang sebagian ruangnya rusak berat dan tidak bisa digunakan, perlu diambil langkah antisipasi bagi proses belajar anak-anak kita. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan orang tua murid, tetapi juga seluruh warga Desa Pocong,” kata Adrianus.

Sementara itu, perwakilan orang tua murid, Yordianus Budiman, menyampaikan apresiasi atas kesigapan pihak sekolah yang tetap berupaya menghadirkan ruang belajar aman meski di tengah keterbatasan.

Kolaborasi yang melibatkan berbagai unsur—termasuk Orang Muda Katolik (OMK)—menjadi kunci utama terlaksananya pembangunan kelas darurat tersebut.

“Kami mengapresiasi pihak sekolah SDK Menge yang tetap sigap di tengah situasi bencana ini, serta dukungan dari komite sekolah, pemerintah desa, Orang Muda Katolik, dan seluruh orang tua murid demi kelancaran kegiatan belajar mengajar,” tutur Yordianus.

Melalui aksi gotong royong ini, aktivitas pembelajaran para murid SDK Menge dipastikan dapat segera berlanjut kembali meski berada di ruang darurat.

Kendati demikian, pihak sekolah bersama pemerintah desa dan warga setempat berharap adanya langkah penanganan lanjutan dari pemerintah daerah untuk pembangunan kembali fasilitas gedung sekolah yang layak dan permanen.

Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan Edwin Dianto (Tokoh muda desa Pocong – Aktivis PMKRI Cabang Ruteng).

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *