Jeritan Sunyi Warga Mbijar NTT: Bertahan di Tenda Darurat, Warga Sakit Belum Tersentuh Penanganan

Jeritan Sunyi Warga Mbijar NTT: Bertahan di Tenda Darurat, Warga Sakit Belum Tersentuh Penanganan (Foto: Dion Damba)

Tersentuh oleh kondisi masyarakat di pelosok NTT yang belum tersentuh bantuan, pengusaha asal Ruteng ulurkan tangan dan menyuarakan dorongan kemanusiaan.

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM — Di tengah perhatian dan bantuan yang terus mengalir bagi warga terdampak gempa di sejumlah wilayah Flores, masih ada masyarakat di pelosok yang disebut belum mendapatkan bantuan secara memadai.

Kondisi memprihatinkan itu dialami warga Mbijar, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Warga di wilayah tersebut kini masih bertahan di bawah tenda-tenda darurat yang dibuat secara sederhana. Keterbatasan tempat tinggal, air bersih, perlengkapan tidur hingga layanan kesehatan menjadi persoalan serius yang mereka hadapi setelah bencana.

Kondisi tersebut menggugah kepedulian seorang pengusaha asal Kota Ruteng, Martinus Nehot. Setelah memperoleh informasi mengenai kondisi warga Mbijar, Martinus memilih datang langsung ke lokasi dan membawa bantuan sembako untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Menurut Martinus, bantuan yang dibawanya bukanlah sesuatu yang besar. Namun, ia berharap kehadirannya dapat menjadi tanda bahwa masyarakat Mbijar tidak boleh dibiarkan menghadapi situasi sulit seorang diri.

“Hati saya sangat tersentuh dan sedih ketika mendapat informasi bahwa saudara-saudara kita di Mbijar belum tersentuh bantuan sama sekali. Meskipun bantuan yang saya bawa ini lahir dari segala kekurangan yang saya miliki, saya tidak bisa tinggal diam melihat kondisi warga di sana yang sungguh sangat memprihatinkan,” ujar Martinus.

Bertahan di Tenda Darurat

Saat berada di lokasi, Martinus mendengarkan langsung berbagai keluhan warga. Sebagian masyarakat masih bertahan di tenda darurat yang dibangun seadanya.

Kondisi tersebut semakin berat ketika malam tiba. Keterbatasan tempat tidur dan selimut membuat warga harus bertahan dengan perlengkapan yang sangat minim.

Persoalan lain yang tidak kalah mendesak adalah kebutuhan air bersih dan air minum.

Kondisi lingkungan tempat pengungsian yang serba terbatas juga mulai berdampak terhadap kesehatan warga. Anak-anak hingga warga lanjut usia dilaporkan mulai mengalami gangguan kesehatan.

Yang menjadi perhatian, menurut informasi yang diterima Martinus, warga di Mbijar hingga kini masih membutuhkan pelayanan medis yang lebih serius dan terjangkau.

Karena itu, kebutuhan warga bukan hanya berupa bahan makanan, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan dan kelayakan tempat tinggal selama masa tanggap darurat.

Sejumlah kebutuhan mendesak yang diharapkan warga antara lain tenda darurat yang layak dan kokoh, tempat tidur, selimut, air bersih dan air minum, serta pelayanan medis segera.

Bantuan Sembako Hanya Langkah Awal

Martinus mengatakan, bantuan sembako yang disalurkannya diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur warga untuk beberapa hari.

Namun, ia menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Mbijar jauh lebih besar daripada sekadar kebutuhan makanan.

Menurutnya, perhatian dari pemerintah dan berbagai pihak sangat dibutuhkan agar warga yang berada di wilayah pelosok tidak terlewatkan dalam penanganan bencana.

Ia pun menyerukan kepada pemerintah daerah, pemerintah pusat, organisasi kemanusiaan, para simpatisan, dunia usaha hingga berbagai elemen masyarakat untuk melihat kondisi warga Mbijar secara langsung.

“Bantuan dari saya ini hanyalah pemantik kecil. Harapan besar saya adalah agar para pemangku kebijakan, simpatisan, dan siapa saja yang berjiwa dermawan bisa secepatnya turun ke Mbijar. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita semua untuk bisa bangkit dari masa-masa sulit ini,” kata Martinus.

Ia berharap distribusi bantuan pascabencana dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak, termasuk masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan maupun posko bantuan.

Bagi warga Mbijar, bantuan yang datang bukan sekadar soal sembako. Di tengah tenda darurat, keterbatasan air bersih dan kebutuhan pelayanan kesehatan, kehadiran bantuan juga menjadi tanda bahwa jeritan mereka masih didengar.

Kini, perhatian dan langkah cepat dari pemerintah serta seluruh pihak sangat dinantikan warga Mbijar.

Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *