MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Dalam upaya mencegah stunting sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik UNIKA St. Paulus Ruteng mendorong inovasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal di Desa Melo, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (11/8/2026).
Inovasi ini diwujudkan melalui demonstrasi pengolahan bayam merah dan ubi jalar ungu untuk ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta ibu menyusui ASI eksklusif.
Meskipun pasokan kedua bahan baku masih langkah akibat belum optimal dibudidayaka oleh warga, hal tersebut tidak menyurutkan langkah tim mahasiswa dalam menghadirkan solusi gizi yang konkret dan terjangkau.
Edukasi Pengolahan dan Pencegahan Stunting
Koordinator Kelompok KKN Desa Melo, Christian Arje Antas, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara matang bersama seluruh anggota kelompok dan telah disetujui oleh Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Kelompok 25.
Pendekatan demonstrasi sengaja dipilih agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima pasif bantuan makanan jadi, tetapi juga dibekali keterampilan praktis dalam mengolah bahan gizi secara mandiri.
“Harapannya, masyarakat sasaran tidak hanya menerima PMT, tetapi juga mampu menguasai proses pembuatannya yang sederhana. Langkah kecil ini diharapkan membawa dampak besar dalam pencegahan stunting sejak masa kehamilan hingga periode pemberian ASI eksklusif 0–6 bulan,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Anjek tersebut.
Anjek juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan penuh dari jajaran pemerintah desa dan warga setempat yang turut memfasilitasi kebutuhan logistik serta sarana selama kegiatan berjalan.
Dalam kegiatan ini, tim KKN memperkenalkan dua olahan PMT berbasis pangan lokal:
Keripik Bayam Merah (Sasaran Ibu Hamil KEK): Bayam merah kaya akan zat besi yang mendukung pembentukan hemoglobin darah.
Olahan keripik ini diposisikan sebagai alternatif makanan tambahan yang praktis dipraktikkan di rumah, tanpa menggantikan tablet tambah darah maupun penanganan medis.
Keripik Ubi Jalar Ungu (Sasaran Ibu Menyusui): Mengandung karbohidrat, serat, vitamin, mineral, dan antioksidan untuk menunjang asupan energi serta kesehatan ibu menyusui selama periode ASI eksklusif.
Sambutan Positif Warga dan Pemerintah Desa
Inovasi pangan lokal ini disambut antusias oleh warga. Emiliana Ancelina Blaang, salah satu ibu hamil peserta kegiatan, mengaku baru mengetahui manfaat gizi serta cara pengolahan sederhana dari kedua bahan tersebut.
“Saya belajar hal baru hari ini. Pembuatan keripik bayam merah dan ubi jalar ungu ini merupakan pengetahuan baru bagi saya, baik dari cara mengolah maupun fungsinya bagi ibu hamil dan menyusui,” ungkap Emiliana.
Bidan Desa Melo, Veldiana Budiwati, turut mengapresiasi langkah inovatif mahasiswa KKN karena memberikan edukasi yang sangat aplikatif untuk memperkuat ketahanan gizi keluarga.
“Kegiatan ini sangat positif karena mengedukasi cara pemanfaatan bahan lokal untuk mencukupi kebutuhan gizi serta mencegah risiko stunting. Bahannya terjangkau dan mudah diolah,” tutur Veldiana.
Apresiasi turut disampaikan jajaran Pemerintah Desa Melo. Mewakili Kepala Desa, Bendahara Desa Aprilus Supariadi Hamat menyatakan bahwa program yang dibawakan mahasiswa sangat relevan dengan agenda prioritas desa dalam menekan angka stunting.
Pemerintah Desa Melo berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan program edukasi gizi seperti ini, baik melalui pendampingan warga maupun integrasi dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.
“Kami dari pemerintah desa mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang luar biasa kepada adik-adik mahasiswa KKN Unika Ruteng. Ilmu dan praktik yang dibagikan hari ini sangat bermanfaat bagi warga kami, khususnya para ibu hamil KEK dan ibu menyusui di Desa Melo,” tegas Aprilus.
Dorong Keberlanjutan dan Budidaya Mandiri
Melalui program ini, mahasiswa KKN Unika St. Paulus Ruteng berharap keterbatasan pasokan bahan di Desa Melo saat ini dapat memicu kesadaran masyarakat untuk kembali membudidayakan bayam merah dan ubi jalar ungu secara mandiri di pekarangan rumah.
Edukasi inovasi PMT ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan demonstrasi, tetapi terus berlanjut melalui praktik mandiri di tingkat rumah tangga serta diintegrasikan ke dalam agenda rutin Posyandu setempat.











