Opini oleh Tiovano Jeharut
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Semua berita tentang Gen Z dan Gen Alpha bicara soal pilihan berlimpah — streaming, karir, identitas, relasi.
Dan semua opini yang muncul di media selalu salah satu dari dua kutub: “generasi ini dimanjakan” atau “generasi ini dibebani sistem.”
Yang tidak pernah diangkat adalah ini:
Masalahnya bukan jumlah pilihan. Masalahnya adalah kita tidak pernah mengajarkan perbedaan antara memilih dan memutuskan.
Memilih adalah tindakan seleksi — scroll, filter, compare. Memutuskan adalah tindakan komitmen — menanggung konsekuensi dari satu jalan, dan merelakan semua jalan lainnya.
Algoritma melatih otak untuk terus memilih tanpa pernah menutup tab. Maka lahirlah fenomena yang belum ada namanya di media manapun: orang yang sangat melek informasi tapi lumpuh secara eksistensial — bukan karena bodoh, bukan karena malas, tapi karena otaknya terlatih untuk selalu mencari opsi berikutnya sebelum yang sekarang selesai dijalani.
Ini bukan krisis mental. Ini krisis arsitektur berpikir. Dan tidak ada yang menulis ini di berita — karena berita sendiri adalah produk dari logika yang sama: selalu ada artikel berikutnya, selalu ada angle baru, tidak ada yang perlu diselesaikan.
Media tidak bisa mendiagnosis penyakit yang ia sendiri ikut menciptakan.









