MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Hawa hangat menyergap bilik tenda terpal BNPB yang berdiri di halaman UPTD Puskesmas La’o, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT.
Suara riuh petugas medis beradu dengan gemerisik terpal yang tertiup angin. Di ruang darurat inilah, di tengah keterbatasan dan kecemasan pasca-gempa Flores, lima kehidupan baru berhasil disambut dengan selamat.
Gedung utama Puskesmas La’o kini tak lagi riuh seperti biasa. Tiga unit fasilitas vitalnya—ruang persalinan, laboratorium, dan gedung gizi—mengalami kerusakan struktural akibat guncangan gempa.
Demi keselamatan pasien dan tenaga kesehatan (nakes), ketiganya direkomendasikan untuk dikosongkan sementara waktu.
Namun, berhentinya fungsi gedung tidak lantas melumpuhkan denyut pelayanan kesehatan di wilayah tersebut.
Selama masa tanggap darurat, tim nakes Puskesmas La’o berhasil memfasilitasi proses persalinan lima orang ibu hamil.
Peralatan medis disesuaikan dengan kondisi lapangan, tetapi standar kelayakan dan kebersihan tetap dijaga ketat.
Para bidan dan dokter bersiaga bergantian, memastikan setiap proses pembukaan, detak jantung janin, hingga penanganan pascapersalinan terpantau presisi.
Kepala UPTD Puskesmas La’o, Mikael Eduard Keluman, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar di tenda darurat adalah menjaga sterilisasi dan kenyamanan pasien, terutama ibu yang hendak melahirkan.
“Bencana bisa saja merusak dinding dan atap gedung, tetapi pelayanan medis sama sekali tidak boleh terhenti. Seluruh bidan dan dokter dikerahkan untuk memastikan layanan kesehatan berjalan aman,” tutur sosok yang akrab disapa Kapus Edu tersebut.
Seluruh bayi yang lahir di tenda darurat beserta para ibu dilaporkan dalam kondisi sehat.
Ketersediaan stok obat-obatan primer, penambah darah, dan vitamin pendukung juga dipastikan aman selama masa krisis.
“Kami memastikan perawatan pascamelahirkan serta kecukupan gizi bayi tetap terpantau tanpa terabaikan sedikit pun,” tambah Kapus Edu.
Menyisir Pemukiman dan Ancaman Penyakit Pascabencana
Tugas para nakes tidak berhenti pada bilik bersalin. Di meja pemeriksaan umum tenda darurat, riwayat kesehatan warga terdampak terus dipantau.
Data tim medis menunjukkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan hipertensi menjadi dua penyakit yang paling dominan ditemukan pada masyarakat pascagempa.
Faktor debu, cuaca fluktuatif, serta tekanan emosional menjadi pemicu utamanya.
“Banyak warga mengalami lonjakan tekanan darah akibat kecemasan dan trauma pascagempa, ditambah paparan debu di lingkungan sekitar yang memicu ISPA. Selain memberikan pengobatan, kami juga menyisipkan edukasi penanganan stres secara rutin,” jelas Kapus Edu.
Menyadari tidak semua warga—terutama lansia dan anak-anak—mampu mendatangi puskesmas, tim nakes bergerak aktif melakukan kunjungan langsung.
Berbekal tas medis dan logistik obat-obatan, para petugas menyusuri pemukiman warga di wilayah kerja Puskesmas La’o.
Langkah menyisir rumah warga ini dilakukan untuk mendeteksi dini gangguan kesehatan, membagikan obat-obatan, serta memantau kondisi ibu hamil lainnya yang mendekati masa persalinan.
“Tim sengaja diturunkan menyisir tiap lorong pemukiman agar tidak ada satu pun masyarakat terdampak yang terlewat dari pelayanan medis,” tegas Kapus Edu.
Di balik dinding yang retak dan keterbatasan fasilitas tenda darurat, konsistensi nakes Puskesmas La’o menjadi benteng pelayanan yang terus menjaga harapan pemulihan masyarakat Manggarai.













