Oleh : Nando Lolon
Mahasiswa Bahasa dan Sastra FKIP Undana Kupang , Nusa Tenggara Timur.
Puisi “Murka” merupakan ekspresi reflektif-kritis yang lahir dari pengalaman saya sebagai penulis terhadap proses industrialisasi energi panas bumi di wilayah Atadei, Kabupaten Lembata. Puisi ini tidak berdiri sebagai representasi emosional semata, melainkan sebagai teks kultural yang memuat respons terhadap ketegangan antara diskursus pembangunan energi terbarukan dan realitas sosial-ekologis masyarakat lokal.
Murka itu wujud Ina yang di kerdilkan pada jahitan zaman. Puisi ini saya labuhkan ke tengah jantung tanah Lembata sebagai kategori simbolik yang merepresentasikan akumulasi krisis: krisis ekologis, krisis partisipasi, dan krisis etika pembangunan. Murka tidak diarahkan secara personal, tetapi diposisikan sebagai konsekuensi struktural dari relasi kuasa yang timpang antara negara, korporasi, dan komunitas adat. Selain itu, puisi “Murka” menjadi bengkel ingatan yang bekerja sebagai medium kritik terhadap logika pembangunan yang bersifat teknokratis dan reduksionis.
Isu geotermal dalam puisi “Murka” dipahami tidak semata sebagai persoalan energi, melainkan sebagai intervensi spasial terhadap lanskap hidup. Atadei, dalam pandangan saya yang baru saja terantuk tiga halaman dari bibir kota Kupang adalah ruang ekologis sekaligus ruang simbolik yang mengandung memori kolektif, praktik ritus, dan relasi kosmologis masyarakat dengan alam. Ketika wilayah ini direkayasa melalui eksplorasi geotermal, yang terganggu bukan hanya struktur tanah, tetapi juga tatanan makna yang menopang kehidupan sosial.
Secara diskursif, puisi ini menolak narasi tunggal geotermal sebagai “energi bersih” dan “solusi berkelanjutan” tanpa konteks lokal. Saya memandang bahwa klaim keberlanjutan seringkali dibangun melalui bahasa ilmiah institusional yang menyingkirkan pengetahuan lokal dan pengalaman empirik masyarakat terdampak. Puisi “Murka” berupaya menghadirkan kontra narasi dengan menjadikan tubuh alam sebagai subjek yang mengalami dan bereaksi.
Sebagai penulis, saya memposisikan puisi ini sebagai arsip kultural atas kegelisahan yang tidak tercatat dalam dokumen perencanaan, AMDAL, maupun laporan teknis. Puisi berfungsi sebagai ruang artikulasi bagi emosi sosial-ketakutan, kecemasan, dan resistensi yang sering kali dianggap tidak relevan dalam pengambilan kebijakan, padahal memiliki dampak signifikan terhadap keberlanjutan sosial.
Lembata – Kau Ina yang tak alpa membaca ritus tua pada dahan nasib para Ama.














Hi https://pena1ntt.com,
Could you please tell me if you want to show your website on top in Google searches and to increase organic traffic on your website.
We are a digital marketing company that deals in SEO and we can bring your website to the first page of Google as we are helping more than 100+ websites to get them top in Google.
Please let me know if you would like to discuss this opportunity.
If you are interested, I can send you our past work, pricing and proposals.
Thank you,
Anna