Refleksi Iman dan Panggilan Orang Muda untuk Berbela Rasa
Oleh: Rafael Ekaputra Daro (Ketua BEM STIPAS St. Sirilus Ruteng)
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tanggal 15 Agustus 2026 berkekuatan 7,7 magnitudo bukan sekadar getaran yang membuat tanah bergerak.
BMKG menjelaskan gempa bumi sebagai fenomena alam berupa getaran atau guncangan pada permukaan bumi yang terjadi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba dari dalam bumi, terutama karena pergerakan atau patahan lempeng tektonik.
Gempa juga mengguncang kehidupan banyak orang. Dalam sekejap, rasa aman berubah menjadi rasa takut.
Aktivitas masyarakat terganggu, rumah-rumah mengalami kerusakan, dan banyak orang harus berhadapan dengan situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, termasuk saya.
Di tengah keadaan itu, manusia kembali sadar bahwa dirinya begitu kecil dan rapuh di hadapan kekuatan alam.
Dalam situasi seperti ini, ada pertanyaan yang layak kita renungkan sebagai orang beriman: ketika bencana datang, mengapa kita mencari Tuhan?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Bukan pula untuk mengatakan bahwa penderitaan seseorang terjadi karena Tuhan sedang menghukumnya.
Sebaliknya, pengalaman bencana ini dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat kembali kehidupan dan relasi kita dengan Tuhan serta sesama.
Selama kehidupan kita berjalan dengan normal, manusia sering merasa mampu mengendalikan dirinya sendiri. Kita sibuk dengan pekerjaan, pendidikan, pergaulan, media sosial, dan berbagai urusan kehidupan lainnya.
Tuhan terkadang hanya menjadi bagian kecil dari keseharian kita. Doa mulai jarang, kehidupan menggereja tidak lagi menjadi kegiatan rutinitas kita, dan kepedulian terhadap sesama perlahan dapat berkurang.
Namun, ketika bumi mengguncang dan rasa aman tiba-tiba menghilang, manusia kembali bertanya: Kepada siapa saya harus berlindung?
Dalam ketakutan itu, banyak orang kembali mencari Tuhan. Doa menjadi lebih sungguh-sungguh. Keluarga berkumpul untuk berdoa.
Gereja menjadi tempat untuk mencari ketenangan dan kekuatan. Bahkan, mereka yang sebelumnya jauh dari kehidupan menggereja mulai kembali mendekat kepada Tuhan.
Dalam situasi penuh keterbatasan, manusia menyadari bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: Apakah kita hanya akan mencari Tuhan ketika sedang takut?
Tuhan bukan hanya tempat kita datang ketika kehidupan sedang hancur. Tuhan juga harus menjadi pusat kehidupan ketika keadaan kita baik-baik saja. Jika bencana membuat kita kembali mengingat Tuhan, jangan biarkan ingatan itu hilang ketika keadaan mulai normal.
Jangan sampai setelah rumah diperbaiki, hati kembali menjauh dari Tuhan. Barangkali, setelah gempa, yang perlu dibangun kembali bukan hanya rumah dan fasilitas yang rusak, melainkan juga relasi manusia dengan Tuhan dan sesama.
Gempa mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita dapat merencanakan banyak hal, tetapi tidak pernah sepenuhnya mengetahui apa yang akan terjadi.
Oleh karena itu, pengalaman ini seharusnya membawa kita kepada kerendahan hati dan kesadaran bahwa kehidupan adalah anugerah yang harus disyukuri. Namun, kembali kepada Tuhan tidak cukup hanya dengan berdoa.
Iman Katolik harus menemukan bentuknya dalam tindakan nyata. Ketika ada saudara yang kehilangan tempat tinggal, mengalami ketakutan, kekurangan kebutuhan dasar, atau membutuhkan dukungan, kita dipanggil untuk hadir.
Doa harus berjalan bersama tindakan. Kasih kepada Tuhan harus diwujudkan dalam kasih kepada sesama.
Orang Muda Dipanggil untuk Berbela Rasa
Dalam situasi pascagempa, orang muda memiliki peran yang sangat penting. Bencana bukan hanya urusan pemerintah, Gereja, atau lembaga kemanusiaan. Orang Muda Katolik dipanggil untuk memiliki sikap bela rasa terhadap sesama.
Panggilan ini tidak hanya diwujudkan melalui kehidupan rohani, tetapi juga melalui kepedulian dan keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial.
Paus Fransiskus dalam Christus Vivit menegaskan bahwa pelayanan pastoral bagi kaum muda hendaknya dilakukan dengan sikap penuh hormat, sabar, percaya diri, tanpa lelah, dan berbela rasa.
Dengan demikian, Orang Muda Katolik diharapkan mampu melihat penderitaan dan kebutuhan orang lain serta menanggapinya melalui tindakan kasih, solidaritas, pelayanan, dan berbagi.
Bela rasa berarti berani melihat penderitaan orang lain dan tidak memilih untuk berpaling. Orang muda tidak harus menunggu kaya, memiliki jabatan, atau mempunyai kemampuan luar biasa untuk mulai peduli.
Kepedulian dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membantu mengumpulkan kebutuhan, menjadi relawan, membantu membersihkan lingkungan, mengunjungi mereka yang terdampak, mendampingi anak-anak, atau sekadar hadir dan mendengarkan mereka yang sedang mengalami ketakutan.
Yang dibutuhkan dalam situasi seperti ini bukan hanya tangan yang kuat untuk bekerja, tetapi juga hati yang peka untuk merasakan penderitaan sesama.
Oleh karena itu, orang muda Katolik perlu bertanya kepada dirinya sendiri: “Di tengah penderitaan saudara-saudaraku, apa yang bisa saya lakukan?”
Pertanyaan ini penting karena iman orang muda tidak cukup hanya terlihat dari seberapa sering kita berdoa atau mengikuti kegiatan Gereja. Iman juga harus terlihat dari keberanian untuk hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Jangan sampai orang muda hanya menjadi penonton yang melihat penderitaan dari layar telepon genggam. Jangan sampai kita lebih cepat membagikan berita tentang bencana daripada mengulurkan tangan kepada mereka yang terdampak.
Media sosial seharusnya menjadi sarana untuk menggerakkan kepedulian, menggalang bantuan, dan menyebarkan harapan.
Orang muda harus menjadi generasi yang hadir ketika sesama membutuhkan.
Dalam situasi pascagempa, orang muda dari berbagai komunitas, organisasi, kampus, sekolah, paroki, dan kelompok kategorial dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Yang terpenting adalah kemauan untuk hadir, bekerja sama, dan membantu dengan tulus.
Sebab, bela rasa bukan hanya tentang seberapa besar bantuan yang kita berikan, melainkan tentang kesediaan mengatakan kepada saudara yang sedang menderita: “Engkau tidak sendirian.” Di sinilah kasih Kristiani menemukan wajahnya.
Bencana seharusnya membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Jangan sampai perbedaan kelompok, lingkungan, kepentingan, atau lembaga membuat kita kehilangan rasa persaudaraan.
Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan empati, kepedulian, gotong royong, dan solidaritas. Gereja, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang muda, dan semua pihak perlu berjalan bersama. Bukan waktunya bertanya siapa yang paling berjasa, melainkan siapa yang masih membutuhkan uluran tangan.
Bagi umat Katolik, pengalaman gempa ini dapat menjadi momentum untuk memperbarui hidup. Jika sebelumnya kita jauh dari Tuhan, mari kembali mendekat.
Jika sebelumnya kita kurang peduli, mari belajar lebih peka. Jika sebelumnya kita hanya memikirkan diri sendiri, mari belajar berbagi. Jika sebelumnya kita mudah terpecah, mari kembali membangun persaudaraan.
Jangan biarkan gempa hanya mengguncang tanah Flores. Biarlah gempa juga mengguncang hati kita.
Mungkin kita tidak dapat menghentikan gempa dan tidak dapat menghapus seluruh penderitaan yang telah terjadi. Namun, kita dapat memilih bagaimana meresponsnya. Kita dapat memilih untuk saling menguatkan daripada saling menyalahkan, berbagi daripada menutup diri, dan hadir daripada menjauh.
Pada akhirnya, pertanyaan “Mengapa kita baru mencari Tuhan ketika bencana datang?” seharusnya tidak berhenti sebagai pertanyaan.
Pertanyaan itu harus menjadi undangan untuk berubah. Ketika keadaan kembali normal, jangan kembali melupakan Tuhan.
Ketika rumah mulai diperbaiki, jangan lupa memperbaiki hati. Ketika aktivitas kembali berjalan, jangan biarkan kepedulian kepada sesama ikut berhenti, meskipun saat ini kita masih dihantui oleh gempa susulan yang belum usai.
Mari menjadikan pengalaman gempa ini sebagai momentum untuk kembali kepada Tuhan, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kasih kepada sesama.
Bagi kita orang muda, inilah saatnya membuktikan bahwa kita bukan hanya generasi yang berbicara tentang perubahan, melainkan generasi yang hadir ketika sesama sedang membutuhkan pertolongan.
Mari berjalan bersama, saling menguatkan, dan berbela rasa. Sebab, badai ini tidak harus kita hadapi seorang diri. Kita bisa menghadapinya dalam satu hati, satu iman, dan satu kasih sebagai saudara.













