MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menerapkan model integratif sekolah aman, sehat mental, dan siaga bencana melalui program Flores Resilient School di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 4–6 September 2026.
Program ini dihadirkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan pascabencana di wilayah setempat.
Kabupaten Manggarai dipilih sebagai lokasi kegiatan lantaran menjadi salah satu daerah yang terdampak paling parah akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Bencana tersebut merusak sejumlah fasilitas pendidikan serta menekan kondisi psikologis para guru dan siswa yang harus kembali menjalankan proses belajar mengajar di tengah situasi krisis.
Kondisi ini mendorong Tim PKM UNESA—yang beranggotakan Dr. Retno Tri Hariastuti, M.Pd., Kons., Dessy Rindiyanti Harista, S.Kep., Ns., M.Kep., Dr. Asieline Wahyu Tri Ardyanti, M.M., dan Zahara Safitri, M.Psi., Psikolog—untuk menggulirkan program Flores Resilient School di dua sekolah sasaran, yakni UPTD SMP Negeri 5 Langke Rembong dan SMKN 1 Wae Ri’i.
Para guru dijadikan sebagai sasaran utama program mengingat peran strategis mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan pembelajaran, sekaligus menjadi figur pendukung utama bagi pemulihan psikologis siswa pascabencana.
Dalam pelaksanaannya, para pendidik dibekali beragam materi komprehensif terkait pembelajaran dalam situasi darurat, dukungan kesehatan mental, Pertolongan Psikologis Awal (Psychological First Aid/PFA), literasi bencana, sekolah aman dan pencegahan kekerasan, kurikulum adaptif, hingga manajemen kelas dalam situasi krisis.
Guna memastikan materi dapat diterapkan secara langsung di ruang kelas, pendampingan disampaikan melalui kombinasi metode pemaparan, roleplay, kerja kelompok sebaya, pengerjaan proyek, simulasi, hingga pendampingan langsung.
Tim PKM UNESA, Zahara Safitri, M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya pembekalan holistik bagi para tenaga pendidik dalam menghadapi situasi pascadarurat.
“Guru perlu memiliki kesiapan psikologis dan keterampilan teknis sekaligus, karena merekalah yang pertama kali dihadapkan pada kondisi siswa pascabencana di ruang kelas. Melalui pertolongan psikologis awal dan kurikulum adaptif, kami membekali guru agar mampu tetap menghadirkan pembelajaran yang aman dan bermakna meski dalam situasi darurat,” ujar Zahara.
Selain aspek psikologis dan kurikulum, tim juga memberikan panduan praktis dari sudut pandang kesehatan dalam penanganan situasi darurat di sekolah, sekaligus memfasilitasi sesi manajemen kelas agar guru mampu menjaga keamanan dan kenyamanan belajar siswa.
Program Flores Resilient School ini dirancang untuk melengkapi upaya pemulihan psikososial yang sebelumnya telah berjalan melalui program TEMAN SIAGA.
Tim PKM UNESA berharap model sekolah integratif ini dapat terus berlanjut dan direplikasi di berbagai satuan pendidikan lainnya, khususnya di wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana alam.













