Di Tengah Keterbatasan Pascabencana, Dua Bayi Lahir Selamat di Manggarai Timur

Dua bayi laki-laki lahir selamat di Posko Kesehatan Desa Nanga Mbaling, Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur (Dok. Ninonk)

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM — Di tengah situasi tanggap darurat pascabencana, dua bayi laki-laki lahir selamat di Posko Kesehatan Desa Nanga Mbaling, Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis, 27 Agustus 2026.

Pukul 18.39 WITA, Kamis, 27 Agustus 2026, seorang bayi laki-laki lahir di Posko Kesehatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Lima puluh tiga menit kemudian, tangis kelahiran kembali terdengar dari posko yang sama.

Bayi laki-laki kedua lahir pada pukul 19.32 WITA.

Dua kelahiran itu berlangsung ketika pelayanan kesehatan di wilayah tersebut masih dijalankan dalam situasi tanggap darurat pascabencana, dengan fasilitas yang terbatas dan sebagian layanan berlangsung di tenda darurat.

Bayi pertama merupakan anak pasangan Adrianus Yohan dan Diana Fatima Ratna, warga Wae Kara, Kelurahan Ulung Baras. Ia lahir dengan berat 2.500 gram.

Sedangkan bayi kedua merupakan anak pasangan Abdul Murtalib dan Umiyati, warga Desa Xianga, Mbaling. Berat badannya 3.000 gram.

Keduanya lahir dengan selamat.

Berdasarkan keterangan tim medis posko, proses persalinan ditangani oleh tenaga kesehatan dan bidan dengan dukungan relawan. Setelah persalinan, kondisi kedua ibu dan bayi dilaporkan stabil dan masih dalam pemantauan.

Kelahiran itu sekaligus memperlihatkan satu persoalan yang kerap muncul dalam situasi bencana: pelayanan kesehatan tidak dapat berhenti ketika fasilitas dan kondisi lapangan belum sepenuhnya pulih.

Bukan Hanya Persalinan

Camat Sambi Rampas, Teopilus Tahu, S.Ip, mengatakan perhatian terhadap kelompok rentan, terutama ibu hamil dan bayi, perlu dilakukan secara intensif selama masa tanggap darurat.

“Kami berharap tim medis di posko lapangan atau puskesmas darurat melakukan pantauan intensif demi mencegah fatalitas pada kelompok rentan, ibu hamil dan bayi,” ujar Teopilus

Menurut dia, kebutuhan ibu dan bayi tidak selesai ketika proses persalinan berakhir.

Mereka masih membutuhkan asupan gizi, obat-obatan, serta ruang yang layak untuk ibu menyusui selama berada di lokasi pengungsian.

“Tetap mengharapkan dukungan penuh dari tim relawan dan dinas terkait agar kebutuhan gizi, obat-obatan dan ruang menyusui yang layak selama berada di tenda pengungsian dapat terpenuhi,” katanya.

Pernyataan itu menjadi penting karena masa setelah persalinan justru merupakan periode yang membutuhkan pemantauan berkelanjutan, terutama bagi ibu dan bayi yang berada di tengah kondisi pengungsian.

Hak Administrasi Tetap Harus Dipenuhi

Di tengah keadaan darurat, pemerintah kecamatan juga mulai memikirkan persoalan lain yang mungkin luput dari perhatian: administrasi kependudukan bagi dua warga yang baru lahir tersebut.

Ignasius mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Manggarai Timur untuk membantu proses penerbitan akta kelahiran dan pembaruan Kartu Keluarga.

“Selaku kepala wilayah saya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Dukcapil Kab. Manggarai Timur untuk kemudahan dalam penerbitan dokumen Akta Kelahiran dan pembaharuan Kartu Keluarga ketika ada peristiwa kelahiran di posko,” jelasnya.

Dengan demikian, kondisi darurat diharapkan tidak menjadi alasan tertundanya pemenuhan hak administrasi kedua bayi tersebut.

53 Menit di Tengah Situasi Darurat

Pada Kamis malam, dua keluarga mendapat kabar yang sama-sama penting: anak mereka lahir dengan selamat.

Yang membedakan, kelahiran itu terjadi bukan di tengah kondisi normal.

Satu bayi lahir pukul 18.39 WITA. Lima puluh tiga menit kemudian, bayi lainnya lahir di tempat yang sama.

Di luar tenda posko, situasi pascabencana masih berlangsung. Kebutuhan warga, pelayanan kesehatan, logistik, dan pemulihan wilayah masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.

Namun, di tengah situasi tersebut, dua kehidupan baru datang.

Bagi tim kesehatan dan relawan di Posko Kesehatan Sambi Rampas, dua kelahiran itu bukan hanya tentang bertambahnya anggota keluarga.

Ia juga mengingatkan bahwa bahkan ketika sebuah wilayah sedang menghadapi bencana, kebutuhan paling dasar manusia—untuk dirawat, dilahirkan dengan aman, dan mendapat pelayanan—tetap tidak berhenti.

Penulis: NinonkEditor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *