Membangun dari Desa: FISIP-UNDANA Dorong Kedaulatan Pangan Desa Turekisa melalui Rekayasa Model Berbasis Modal Sosial

Tim pembicara FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana) saat menyampaikan materi kepada peserta melalui metode ceramah, diskusi interaktif, pelatihan, dan pendampingan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.(Dok. Pribadi)

BAJAWA, PENA1NTT.COM – Universitas Nusa Cendana (UNDANA) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat melaksanakan workshop dan pelatihan bertema “Rekayasa Model Kedaulatan Pangan Berbasis Modal Sosial: Hilirisasi Pertanian Rumah Tangga di Desa Turekisa, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 28 Juli 2026, pukul 09.00–12.30 WITA di Desa Turekisa ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi pertanian lokal melalui pengembangan model kedaulatan pangan yang berbasis pada kekuatan sosial masyarakat dan pemanfaatan hasil pertanian rumah tangga secara berkelanjutan.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian masyarakat Universitas Nusa Cendana yang diketuai oleh Kristin E. Meka, bersama anggota tim Balkis S. Tanof dan Yosef E. Jelahut. Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana, yakni Novita Langa, Maya Monita Manu Watu, dan Fransiska Salestia Moi. Kegiatan ini didukung melalui Dana Pengabdian Internal UNDANA dengan mitra utama Pemerintah dan masyarakat Desa Turekisa.

Workshop dan pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas masyarakat dan aparatur Desa Turekisa. Kegiatan menghadirkan Dr. Lasarus Jehamat sebagai narasumber dengan moderator Ernestus Holivil. Melalui metode ceramah, diskusi, pelatihan, dan pendampingan, peserta diajak memahami pentingnya membangun kedaulatan pangan tidak hanya melalui peningkatan produksi pertanian, tetapi juga melalui penguatan kelembagaan masyarakat, pengolahan hasil pertanian, serta penciptaan nilai tambah ekonomi dari produk lokal.

Pelaksanaan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat Desa Turekisa yang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian rumah tangga, khususnya komoditas hortikultura, namun masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengelolaan dan pengembangannya. Keterbatasan pengetahuan mengenai pengolahan hasil pertanian, manajemen kelompok tani, strategi pemasaran, serta proses hilirisasi menyebabkan berbagai potensi lokal belum sepenuhnya memberikan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat.

Desa Turekisa dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya kerja sama dan gotong royong masyarakat. Modal sosial tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun model kedaulatan pangan yang berorientasi pada kemandirian masyarakat. Melalui penguatan kapasitas warga, potensi pertanian yang selama ini masih bersifat produksi dapat diarahkan menuju pengembangan produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Lasarus Jehamat menjelaskan bahwa kedaulatan pangan harus dipahami sebagai sebuah sistem yang menghubungkan berbagai aspek, mulai dari potensi lokal, kemampuan masyarakat, hingga proses hilirisasi hasil pertanian.

“Pembangunan kedaulatan pangan tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi harus mampu membangun sistem yang menghubungkan potensi lokal, modal sosial masyarakat, dan proses hilirisasi agar hasil pertanian memiliki nilai tambah. Melalui kerja kolektif, penguatan kelembagaan, dan pemanfaatan sumber daya desa, masyarakat dapat menciptakan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.” Jelas Dr. Lasarus Jehamat

Menurutnya, penguatan kedaulatan pangan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat melalui kerja bersama dan pengelolaan sumber daya desa secara lebih terarah. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penghasil bahan pangan, tetapi juga mampu menjadi pelaku utama dalam proses pengolahan dan pemasaran produk pertanian.

Kepala Desa Turekisa, Aurelius Geu, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa Desa Turekisa memiliki potensi pertanian yang besar, namun masih membutuhkan penguatan dalam aspek manajemen dan arah pengembangan usaha pertanian.

“Di Turekisa ini, hortikultura sangat potensial. Tetapi manajemennya belum jelas. Kita bisa melakukan hilirisasi, tetapi arah hilirisasi itu mau ke mana masih belum jelas. Kelompok tani juga sering dibuat hanya sebatas administrasi. Kegiatan ini memacu kami untuk membangun kemandirian ekonomi yang berkualitas.” Ungkap Aurelius Geu.

Tim pengabdian masyarakat Universitas Nusa Cendana pose bersama setelah kegiatan (Foto: Dok. Pribadi)

Selain pemerintah desa, masyarakat juga menyampaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi hambatan dalam pengembangan pertanian lokal. Salah seorang peserta, Yosefina, mengungkapkan bahwa persoalan pemasaran masih menjadi tantangan utama karena nilai jual hasil pertanian sering kali belum sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat lokal perlu mendapatkan ruang lebih besar dalam rantai ekonomi pangan agar tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat dari hasil produksinya sendiri. Ia berharap program-program pemerintah ke depan dapat lebih memperhatikan penggunaan komoditas lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat desa.

Peserta lainnya, Ibu Sandra, juga menyoroti persoalan tata kelola kelembagaan ekonomi desa, khususnya terkait pengelolaan BUMDes yang dinilai masih menghadapi kendala administratif. Menurutnya, keberadaan kelembagaan ekonomi desa perlu diikuti dengan sistem pengelolaan yang lebih efektif agar benar-benar mampu mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Melalui kegiatan pengabdian ini, masyarakat Desa Turekisa memperoleh peningkatan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan hasil pertanian secara terpadu, mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Selain itu, kegiatan ini juga membuka ruang dialog antara akademisi, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mengidentifikasi berbagai persoalan serta merumuskan strategi pengembangan pangan berbasis potensi lokal.

Manfaat utama yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengolah hasil pertanian rumah tangga menjadi produk bernilai tambah, memperkuat kerja sama antarwarga, serta menciptakan sistem pangan desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis modal sosial, masyarakat diharapkan mampu membangun kekuatan ekonomi lokal yang tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar.

Sebagai langkah lanjutan, tim pengabdian UNDANA bersama masyarakat Desa Turekisa akan mendorong penerapan hasil workshop melalui pendampingan pengembangan produk pertanian, penguatan kelompok masyarakat, peningkatan kualitas hasil olahan, serta pencarian peluang pemasaran. Pendampingan tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membangun model kedaulatan pangan berbasis masyarakat yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

 

Kegiatan pengabdian masyarakat Universitas Nusa Cendana di Desa Turekisa menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan potensi lokal. Dengan memperkuat kapasitas masyarakat, mengoptimalkan sumber daya desa, dan membangun jejaring kerja sama, kedaulatan pangan diharapkan tidak hanya menjadi konsep, tetapi dapat diwujudkan sebagai praktik nyata dalam kehidupan masyarakat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *