KUPANG, PENA1NTT.COM — Nama Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., kini mencuat di tingkat nasional sebagai salah satu figur kepolisian yang menggabungkan ketegasan penegakan hukum dengan kepemimpinan humanis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Di tengah reputasinya sebagai jenderal bintang dua, Irjen Rudi dinilai membawa warna baru dalam pola kepemimpinan kepolisian daerah.
Salah satu fokus kepemimpinannya adalah memberantas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), yang selama ini menjadi problem serius di Provinsi NTT—salah satu daerah pemasok korban TPPO tertinggi di Indonesia. Melalui program besar bertajuk “NTT Zero TPPO”, Irjen Rudi memerintahkan seluruh Kapolres dan jajaran untuk memperkuat pencegahan, mempercepat penindakan, dan memastikan keselamatan calon korban.
Komitmen ini kembali terbukti setelah Ditreskrimum Polda NTT mengungkap kasus TPPO yang melibatkan dua perempuan berinisial MAB dan LH, yang diduga menyalurkan korban berinisial EFT secara nonprosedural menuju Batam.
Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan refleksi langsung dari gaya kepemimpinan Irjen Rudi.
“Ini bentuk keseriusan Bapak Kapolda dalam mewujudkan NTT Zero TPPO. Setiap potensi korban harus dihentikan dan para pelaku wajib diproses,” ujar Kabidhumas Polda NTT tersebut kepada media ini.
Namun ketegasan Kapolda tidak berhenti pada penegakan hukum. Irjen Rudi juga dikenal luas sebagai pemimpin yang hadir secara nyata di tengah masyarakat. Ia turun ke kampung-kampung, wilayah pesisir, dan daerah terpencil untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi—termasuk pembangunan sumur-sumur bor di berbagai titik wilayah NTT yang kerap dilanda krisis air bersih.Menurut Kombes Henry, kepemimpinan Irjen Rudi menghadirkan kehangatan di tengah masyarakat.
“Beliau dikenal bukan hanya sebagai pimpinan kepolisian, tetapi sebagai sosok yang membantu warga secara langsung. Banyak aksi sosial dan kemanusiaan beliau lakukan tanpa publikasi berlebih,” ungkapnya.
Aksi pembangunan sumur bor menjadi salah satu contoh paling berdampak. Di sejumlah wilayah yang selama ini mengandalkan air tangki dengan biaya tinggi, kini warga dapat menikmati akses air bersih yang stabil.
Yulius Amtiran, warga Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, menjadi salah satu saksi perubahan itu.“Air adalah kebutuhan utama. Selama ini kami gunakan tangki dan itu mahal. Sekarang air su dekat. Ini berkah besar bagi kami,” ujarnya terharu.
Bagi warga, sumur bor bukan sekadar fasilitas, tetapi simbol kepedulian pemimpin terhadap persoalan mendasar masyarakat.
“Ini bukti bahwa kami diperhatikan oleh Kapolda NTT. Kami bangga dan bersyukur,” tambah Yulius.
Upaya pemberantasan TPPO juga diperkuat hingga tingkat polres. Di Sikka, Polres setempat berhasil menggagalkan pengiriman delapan calon pekerja ilegal menuju Kalimantan Timur melalui Pelabuhan Lorens Say. Kasus ini dirilis oleh Kasat Reskrim IPTU Djafar Awad Alkatiri, S.H., dan Kasi Humas IPDA Leonardus Tunga, S.M., pada Rabu (19/11/2025).
Keberhasilan-keberhasilan ini membuat nama Irjen Rudi mencuat dalam diskursus nasional mengenai pola ideal kepemimpinan kepolisian daerah. Di tengah tantangan kemiskinan, ketimpangan akses air bersih, dan tingginya kasus perdagangan orang di NTT, gaya kepemimpinan yang menggabungkan ketegasan dan empati terbukti memberi dampak nyata.
“Beliau selalu bilang bahwa tugas polisi bukan hanya menjaga keamanan, tetapi memastikan masyarakat bisa hidup lebih baik. Dan kami melihat itu setiap hari,” ujar Kombes Henry.
Dalam lanskap nasional yang kerap menyoroti citra kepolisian, sosok Irjen Pol Rudi Darmoko menonjol bukan karena pangkat atau jabatan, tetapi karena tindakan—sentuhan nyata yang dirasakan masyarakat, langkah strategis dalam pemberantasan TPPO, dan komitmen tulus untuk menjadikan keamanan dan kesejahteraan berjalan seiring.














