Oleh: Sandrianus Kasiman
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Ada sesuatu yang sangat istimewa ketika dua angkatan yang berbeda, yakni kelas 2023E dan kelas 2025K dari Program Studi PGSD Unika St. Paulus Ruteng, bersatu dalam satu misi pelayanan yang sama.
Kami datang dengan latar belakang berbeda, pengalaman kampus yang beragam, serta karakter unik masing-masing.
Namun, begitu tiba di Paroki Benteng Jawa dan mengemban tanggung jawab kor perayaan Paskah 2026, segala perbedaan itu melebur menjadi satu harmoni pelayanan yang tulus dan penuh kasih.
Inilah keindahan terbesar dari asistensi Paskah ini: tidak hanya mempertemukan mahasiswa dengan umat, tetapi juga merajut ikatan persaudaraan yang hangat antara sesama mahasiswa di bawah satu atap pengabdian.
Pada Rabu sore, prosesi penerimaan adat berlangsung khidmat dan penuh wibawa. Para tetua adat berdiri gagah mengenakan pakaian adat Manggarai, mempertegas betapa berharganya momen ini bagi mereka.
Wajah-wajah mereka mencerminkan kebijaksanaan para penjaga tradisi yang bangga namun tetap hangat.
Di sekeliling mereka, seluruh umat Stasi St. Siprianus Necak—dari orang tua hingga anak-anak kecil—hadir menyaksikan momen bersejarah ini dengan antusiasme yang tulus. Pemandangan yang membuat hati bergetar.
Momen paling membekas adalah saat ritual tuak curu dan kepok tuak dimulai. Ketika cangkir tuak diangsurkan oleh tangan-tangan yang telah renta namun tetap kokoh penuh kasih, ada sesuatu yang bergerak di dalam dada kami.
Ini bukan sekadar minuman bagi tamu, ini adalah simbol nyata ketulusan hati seluruh umat Stasi Necak. Melalui ritual ini, mereka berkata tanpa perlu kata-kata panjang: “Kami terima dan kami percayai kalian sebagai darah daging kami”.
Saat menerima tuak tersebut dengan kepala menunduk hormat, kami bukan hanya menerima minuman; kami menerima tanggung jawab mulia untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan.
Suasana semakin mengharukan ketika para tetua mulai mengucapkan sambutan dalam bahasa Manggarai yang mengalir lembut namun sarat makna.
Meski tidak semua kata kami pahami sepenuhnya, nada bicara yang penuh harapan dan doa itu sampai langsung ke hati tanpa perlu diterjemahkan.
Kami mendengarkan dengan takzim, sebagian mengangguk pelan, sebagian lagi menunduk. Ketulusan seseorang memang tidak selalu butuh pembuktian bahasa; cukup dengan cara mereka memandang, kita tahu tengah berdiri di hadapan orang-orang yang baik hatinya.
Penerimaan adat ini bukan sekadar pembuka rangkaian kegiatan, ini adalah fondasi kokoh bagi seluruh pengabdian kami selanjutnya.
Sejak hari itu, kami tidak lagi merasa sebagai orang asing yang menumpang di desa orang. Kami merasa sebagai anak-anak Necak yang pulang ke rumah. Perasaan diterima dan dikasihi ini menjadi energi utama yang menggerakkan kami untuk memberikan yang terbaik.
Persaudaraan sejati tidak tumbuh dari kesamaan latar belakang, ia tumbuh dari ketulusan hati yang berani membuka diri untuk berjalan bersama.
Tanggung jawab kor yang diemban kelas 2023E dan 2025K bukanlah perkara ringan. Kami memimpin seluruh rangkaian nyanyian liturgi mulai dari Kamis Putih, Sabtu Suci, hingga puncaknya pada Minggu Paskah.
Nyanyian kor adalah napas yang menghidupkan liturgi; saat dilantunkan dengan penghayatan, umat akan terbawa masuk ke dalam doa yang lebih dalam.
Kesakralan perayaan menjadi lebih hangat dan menyentuh hati berkat pelayanan yang penuh dedikasi ini.
Semangat kerja sama antara kedua angkatan ini sangat luar biasa. Mahasiswa senior kelas 2023E hadir sebagai pembimbing yang berbagi pengalaman, sementara kelas 2025K membawa energi segar yang memberi warna baru.
Keduanya saling melengkapi seperti suara sopran dan bass yang berpadu dalam harmoni indah.
Di sinilah pendidikan karakter yang sesungguhnya terjadi: bukan di ruang kelas atau melalui ujian tertulis, tetapi melalui proses nyata bekerja sama dan saling menghargai demi melayani Tuhan serta umat-Nya.
Dari kekhidmatan Kamis Putih hingga sukacita Minggu Paskah, kami hadir dengan setia di setiap momen. Rasa lelah dan gugup sebelum tampil mungkin ada, namun kami memilih untuk tetap berdiri dan bernyanyi.
Ketulusan dari setiap nada yang kami lantunkan inilah yang menyentuh hati umat Stasi Necak. Mereka bisa merasakan mahasiswa ini tidak sedang sekadar tampil; mereka sedang berdoa melalui nyanyian.
Asistensi Paskah ini akan berakhir, namun persaudaraan yang lahir di Stasi Necak tidak akan mudah pergi dari hati kami.
Kami datang sebagai mahasiswa yang membawa ilmu, kami pulang sebagai manusia yang kaya pengalaman dan penuh syukur.
Barangkali itulah tujuan sejati dari pengabdian: bukan untuk mengubah orang lain, sejatinya untuk membiarkan perjumpaan itu mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan penuh kasih.













