Oleh: Elisabet Tenung
Pendidikan adalah kunci utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, di berbagai wilayah pelosok Indonesia, termasuk di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, pendidikan masih berhadapan dengan realitas yang jauh dari harapan.
Masalah pendidikan di Manggarai Timur tidak hanya soal fasilitas yang terbatas, tetapi juga ketimpangan akses yang belum teratasi. Di beberapa wilayah, masih ditemukan sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan: ruang kelas beralaskan tanah, bangunan nyaris roboh, serta minimnya sarana belajar seperti buku dan alat tulis.
Salah satu potret nyata itu dapat ditemukan di SD Negeri Reweng, Desa Ranagapang, Kecamatan Elar. Sekolah ini mencerminkan wajah pendidikan yang masih tertinggal dari standar kelayakan. Infrastruktur yang tidak memadai menjadi tantangan sehari-hari bagi guru dan siswa. Namun di tengah keterbatasan itu, semangat belajar tidak pernah padam.
Ibu Yasinta Jerita, salah satu guru di SD Negeri Reweng, harus mengajar dua kelas sekaligus—kelas satu dan dua—dalam satu waktu. Dengan jumlah siswa sekitar sepuluh orang, ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi. Ketika ditanya mengenai rencana renovasi sekolah, jawabannya singkat, namun sarat makna: “Belum ada, Pak.” Saat ditanya tentang harapan, ia menjawab dengan tenang, “Keinginan sudah dari dulu, tapi belum pernah.”
Jawaban itu bukan sekadar pernyataan, melainkan cerminan dari suara yang selama ini kurang mendapat perhatian. Suara yang seharusnya didengar, bukan diabaikan dengan berbagai alasan yang tidak berpihak pada realitas.
Di sisi lain, para siswa dan orang tua di Manggarai Timur menunjukkan komitmen yang luar biasa terhadap pendidikan. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka tetap berjuang agar anak-anak bisa bersekolah. Ini adalah bukti bahwa harapan terhadap pendidikan masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
Karena itu, upaya perbaikan tidak bisa ditunda. Pembangunan infrastruktur sekolah harus menjadi prioritas. Pemerataan distribusi guru perlu diperhatikan agar tidak terjadi penumpukan di wilayah tertentu. Selain itu, pemberian beasiswa bagi siswa kurang mampu dan pelatihan keterampilan bagi tenaga pendidik juga menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Namun, semua itu tidak akan berjalan tanpa kolaborasi. Pemerintah, sekolah, dan masyarakat harus bergerak bersama. Pendidikan tidak bisa dibangun secara parsial, melainkan membutuhkan komitmen kolektif yang berkelanjutan.
Sudah saatnya keadilan dalam pendidikan benar-benar ditegakkan. Suara masyarakat tidak boleh berhenti sebagai bahan diskusi di ruang rapat, tetapi harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata. Sebab, masa depan daerah ini sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya hari ini.
Kita memang lahir dari keluarga, tetapi cara kita berpikir, bersikap, dan membangun masa depan dibentuk oleh pendidikan. Jika pendidikan diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya satu generasi, tetapi arah peradaban itu sendiri.













