RD. Andi Latu Batara
(Pastor Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga – St. Yosef Katedral Ruteng)
Inspirasi: Et Habitavit in Nobis – Ia Tinggal di Antara Kita
Tablo OMK Lumen Gratitae Katedral Ruteng: Balada Jalan Salib: Maria, Inilah Jalanmu Via Dolorosa & Sinode IV Keuskupan Ruteng 2026
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita hening. Kita berdiri di bawah bayang-bayang salib. Kita mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita, Yesus Kristus. Tidak ada kemegahan. Tidak ada sorak-sorai. Yang ada hanyalah kasih yang terluka kasih yang disalibkan.
Saudara-saudari,
Dalam permenungan kita hari ini, kita dibantu oleh tablo OMK Lumen Gratitae Katedral Ruteng: Balada Jalan Salib: Maria, Inilah Jalanmu – Via Dolorosa.
Tema ini membawa kita melihat sengsara Yesus tidak hanya dari sisi-Nya, tetapi juga dari hati seorang ibu-Maria.
Maria berjalan di jalan yang sama: jalan penderitaan, jalan air mata, jalan kehilangan.
Ia melihat Putranya dihina, dipukul, dijatuhi hukuman, dipikul salib-Nya, hingga akhirnya wafat di kayu salib. Dan Maria tidak lari. la tetap berjalan. la tetap setia.
Saudara-saudari terkasih,
Di jalan salib itu, kita melihat sesuatu yang sangat dalam: Allah sungguh masuk ke dalam penderitaan manusia.
Di sinilah kita diingatkan akan motto tahbisan Mgr. Eduardus Sangsun, SVD: Et Habitavit in Nobis – Ia tinggal di antara kita.
Allah tidak jauh. Allah tidak tinggal di tempat yang aman dan nyaman. Ia memilih untuk tinggal di tengah penderitaan kita. Ia hadir: di jalan salib, Ia hadir di tangisan Maria, Ia hadir di luka Yesus, Ia hadir di setiap penderitaan manusia.
Saudara-saudari,
Sering kali kita bertanya: Di mana Tuhan ketika aku/kita menderita? Hari ini kita mendapat jawabannya: Tuhan ada di sana di jalan salib itu.
Ia ada dalam orang sakit yang bergumul, keluarga yang mengalami kesulitan, kaum muda yang mencari arah hidup mereka yang merasa sendirian dan terluka. Karena la tinggal di antara kita.
Saudara-saudari terkasih,
Tema tablo mengatakan: Maria, inilah jalanmu. Ini bukan hanya kata-kata untuk Maria. Ini juga kata-kata untuk kita semua: Inilah jalanmu.
Jalan iman bukan jalan yang selalu mudah. Kadang itu jalan salib. Kadang itu jalan air mata. Tetapi Maria mengajarkan kita satu hal: tetap berjalan bersama Tuhan. Tidak lari. Tidak menyerah. Tetap percaya.
Saudara-saudari,
Kita juga hidup dalam semangat Sinode IV Keuskupan Ruteng 2026 sebuah perjalanan bersama sebagai Gereja.
Dan Jumat Agung memberi kita arah yang sangat jelas: Jika Tuhan tinggal di antara kita, maka kita juga harus tinggal bersama sesama.
Artinya: Gereja harus hadir di tengah penderitaan umat Gereja harus berjalan bersama yang lemah. Gereja harus menjadi terang di tengah kegelapan Seperti Maria yang setia berjalan bersama Yesus, kita pun dipanggil untuk berjalan bersama satu sama lain.
Saudara-saudari terkasih, Ada tiga pesan yang bisa kita renungkan hari ini:
- Tuhan Hadir dalam Jalan Salib Kita: Apa pun salib hidup kita hari ini, kita tidak sendirian. Tuhan ada di sana.
- Kesetiaan dalam Penderitaan: Maria tidak mengerti semuanya, tetapi ia tetap setia. Kita pun dipanggil untuk setia, bahkan ketika kita tidak mengerti.
- Menjadi Kehadiran Tuhan bagi Sesama: Jika Tuhan tinggal di antara kita, maka kita dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran-Nya: menghibur yang berduka, menguatkan yang lemah, menemani yang menderita.
Saudara-saudari,
Sebentar lagi kita akan menghormati salib. Kita akan datang dan mencium salib itu. Saat kita melakukannya, ingatlah: ini bukan sekadar simbol. Ini adalah tanda kasih Tuhan yang nyata.
Dan di dalam hati kita, marilah kita berkata: Tuhan, Engkau tinggal di antara kami. Dalam salib ini, Engkau hadir. Dalam hidup kami, Engkau tidak pernah pergi.
Akhirnya, marilah kita pulang dari perayaan ini dengan iman yang lebih kuat: bahwa dalam setiap Via Dolorosa hidup kita, Tuhan berjalan bersama kita.
Bahwa dalam setiap air mata, Tuhan hadir. Bahwa dalam setiap salib, terdapat kasih yang menyelamatkan.
Et Habitavit in Nobis – la tinggal di antara kita. Dan karena itu, kita tidak pernah sendiri. Amin.













