Opini  

MEMBANGUN PERADABAN LEWAT BAHASA

Ribka Egiyanti Humau, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang

Oleh: Ribka Egiyanti Humau

Bahasa adalah fondasi utama dalam membangun peradaban manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa sering dipandang sekadar alat komunikasi. Padahal, di balik itu tersimpan kekuatan besar yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Dari percakapan sederhana di rumah hingga arus informasi di media sosial, bahasa memainkan peran penting dalam menentukan arah kehidupan manusia.

Sejak awal sejarah, manusia menggunakan bahasa—baik lisan maupun tulisan—untuk menyampaikan gagasan, nilai, dan pengetahuan. Tanpa bahasa, tidak akan ada ilmu yang diwariskan, hukum yang ditegakkan, atau budaya yang dilestarikan. Karena itu, membangun peradaban sejatinya adalah membangun kesadaran kolektif melalui penggunaan bahasa yang tepat, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pertama, di era digital saat ini, proses belajar sangat bergantung pada bahasa. Buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan menjadi media utama dalam mentransfer pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sekolah, guru menyampaikan materi melalui penjelasan lisan maupun tulisan. Di rumah, orang tua menanamkan nilai melalui nasihat dan cerita. Semua ini menunjukkan bahwa kata-kata adalah jembatan utama dalam proses pembelajaran yang terus berlangsung. Peradaban yang maju selalu ditandai dengan tradisi literasi yang kuat. Semakin banyak masyarakat mampu mengakses dan menghasilkan tulisan, semakin besar peluang kemajuan suatu bangsa.

Kedua, bahasa sangat memengaruhi hubungan sosial dan pembentukan karakter. Dalam interaksi sehari-hari, pilihan kata dapat menentukan suasana yang tercipta. Bahasa yang kasar dan menyinggung berpotensi memicu konflik, sementara bahasa yang santun mampu membangun kedamaian. Dengan demikian, bahasa tidak hanya mencerminkan cara berpikir, tetapi juga membentuk pola sikap masyarakat. Kata-kata yang jujur, santun, dan bermakna akan melahirkan masyarakat yang beradab. Sebaliknya, bahasa yang manipulatif, kasar, dan penuh kebencian dapat merusak tatanan sosial.

Ketiga, bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik dan menggerakkan tindakan. Fenomena ini tampak jelas di media sosial. Unggahan dengan kata-kata inspiratif dapat mendorong banyak orang melakukan hal positif, seperti berbagi dan membantu sesama. Namun, di sisi lain, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian menunjukkan bagaimana bahasa juga bisa menjadi alat perpecahan. Tidak sedikit konflik bermula dari kesalahpahaman atau informasi yang disampaikan tanpa tanggung jawab.

Keempat, bahasa berperan penting dalam membentuk identitas dan budaya. Bahasa daerah, pepatah, dan ungkapan tradisional mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat. Misalnya, ungkapan “mbi kotin bafainekan” yang berarti saling mengingatkan dalam kebaikan antarsaudara. Ungkapan seperti ini tidak sekadar kata-kata, tetapi mengandung ajaran moral yang membentuk karakter generasi muda. Jika bahasa digunakan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai budaya akan tetap hidup dan terjaga.

Dengan demikian, jelas bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pilar penting dalam membangun peradaban. Oleh karena itu, generasi muda sebagai penerus bangsa harus bijak dalam menggunakan bahasa. Bahasa adalah ruang tempat gagasan berkembang, nilai dibentuk, dan perubahan dimulai. Jika digunakan dengan kesadaran dan tanggung jawab, bahasa dapat menjadi kekuatan besar untuk mewujudkan peradaban yang maju, beradab, dan bermartabat.

Penulis: Irenius Putra Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *