Opini  

Setia Itu Pilihan, Melukai Juga Pilihan: Refleksi dari Kasus Kekerasan Seksual

Oleh: Veronika Hildegardis Onawara (Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang)

PENA1NTT.COM – Selama ini, ungkapan “setia itu pilihan” kerap hadir dalam konteks relasi cinta—tentang komitmen, kepercayaan, dan kesungguhan menjaga hubungan. Kalimat itu terdengar hangat, bahkan ideal. Namun, ketika ditempatkan dalam realitas yang lebih gelap seperti kasus kekerasan seksual, maknanya berubah secara drastis. Ia tidak lagi sekadar bicara tentang kesetiaan, melainkan tentang batas paling mendasar: apakah seseorang memilih untuk menghormati orang lain, atau justru melukainya.

Di titik ini, kita dihadapkan pada satu refleksi penting—bahwa pilihan dan tanggung jawab adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam banyak kasus kekerasan seksual, selalu muncul narasi yang mencoba menjelaskan, bahkan tanpa sadar membenarkan tindakan pelaku. Alasan-alasan klasik seperti dorongan nafsu, pengaruh alkohol, tekanan lingkungan, atau situasi yang “kebetulan” mendukung, sering digunakan untuk mereduksi kesalahan.

Seolah-olah pelaku kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Padahal, jika ditelusuri secara jujur, tidak ada tindakan yang terjadi secara tiba-tiba. Ada proses. Ada tahapan yang dilalui—dari niat, kesempatan, hingga keputusan akhir. Dan dalam setiap tahapan itu, selalu tersedia ruang untuk berhenti. Di situlah letak kebenaran yang kerap diabaikan: bahwa tidak melakukan kekerasan adalah pilihan sadar, sebagaimana kesetiaan dalam hubungan juga merupakan pilihan.

Sayangnya, persoalan ini menjadi semakin kompleks karena cara masyarakat merespons. Alih-alih menempatkan pelaku sebagai pusat masalah, perhatian justru sering dialihkan kepada korban. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pun cenderung menyudutkan: mengapa berada di tempat itu? Mengapa berpakaian seperti itu? Mengapa tidak melawan?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya keliru, tetapi juga menunjukkan kegagalan kita memahami esensi dari consent atau persetujuan.

Consent bukan sekadar “iya” atau “tidak”. Ia harus diberikan secara sadar, tanpa tekanan, tanpa rasa takut, dan dapat ditarik kapan saja. Namun dalam praktiknya, consent sering disalahartikan. Diam dianggap setuju. Tidak melawan dianggap menerima. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.

Di sinilah tampak adanya celah besar dalam cara kita memahami relasi antarindividu. Kita diajarkan tentang sopan santun dan norma sosial, tetapi jarang diajak memahami batas personal secara mendalam. Akibatnya, sebagian orang tumbuh dengan cara pandang yang keliru—bahwa keinginan pribadi dapat mengalahkan kenyamanan dan keselamatan orang lain.

Lebih mengkhawatirkan lagi, pelaku kekerasan seksual sering kali bukan orang asing. Banyak kasus justru melibatkan orang terdekat—teman, pasangan, bahkan figur yang dipercaya. Ini membuat dampaknya menjadi lebih kompleks, karena bukan hanya tubuh yang dilukai, tetapi juga kepercayaan yang dikhianati.

Dan ketika kepercayaan itu runtuh, dampaknya tidak berhenti pada satu peristiwa. Ia bisa membekas lama—dalam bentuk trauma, ketakutan, hilangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun relasi di masa depan. Luka ini sering kali tidak terlihat secara fisik, tetapi jauh lebih dalam dan membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Lalu pertanyaannya: mengapa hal seperti ini terus terjadi?

Salah satu jawabannya mungkin terletak pada cara kita bersikap—yang masih lebih fokus pada reaksi daripada pencegahan. Kita marah ketika kasus muncul ke permukaan, tetapi belum cukup serius membangun pemahaman sejak awal. Pendidikan tentang batas, tentang persetujuan, dan tentang tanggung jawab terhadap tubuh orang lain masih belum menjadi prioritas bersama.

Di sisi lain, ada pula budaya yang secara tidak sadar menormalisasi hal-hal kecil yang problematis. Candaan yang merendahkan, komentar yang melewati batas, atau sikap yang merasa berhak menilai tubuh orang lain. Hal-hal ini sering dianggap sepele, padahal jika dibiarkan terus-menerus, dapat membentuk pola pikir yang keliru.

Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita kembali pada satu kata kunci: pilihan.

Sebagaimana kesetiaan tidak terjadi begitu saja, menghormati orang lain juga bukan sesuatu yang otomatis. Ia membutuhkan kesadaran, pengendalian diri, dan kemauan untuk menempatkan martabat orang lain sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Menahan diri sering dianggap sebagai kelemahan, padahal justru sebaliknya. Itu adalah bentuk kekuatan—kekuatan untuk mengendalikan diri, untuk bersikap dewasa, dan untuk menghargai sesama manusia. Karena pada dasarnya, kekuatan terbesar seseorang bukan terletak pada apa yang bisa ia lakukan, melainkan pada apa yang ia pilih untuk tidak lakukan.

Jika setia saja adalah pilihan yang harus diperjuangkan, maka tidak melakukan kekerasan seharusnya menjadi hal yang jauh lebih mendasar. Ia bukan sesuatu yang bisa dinegosiasikan, apalagi diperdebatkan.

Ia adalah batas yang jelas—dan seharusnya, tidak pernah dilanggar.

Penulis: Irenius Putra Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *