Manggarai-Pena1-Ntt.com–
Ribuan umat Katolik memadati Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo untuk mengikuti upacara Malam Paskah yang dipimpin langsung oleh Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, pada Sabtu Suci (04/04/2026).
Dalam khotbahnya yang menggugah, Bapak Uskup menekankan makna mendalam dari pesan malaikat dalam Injil Markus: “Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.”
Mgr. Siprianus melontarkan pertanyaan reflektif kepada umat mengenai alasan Yesus memilih Galilea sebagai tempat perjumpaan pertama pasca-kebangkitan, alih-alih Yerusalem yang menjadi pusat peristiwa penyaliban.
Kembali ke Kasih Mula-mula
Menurut Mgr. Siprianus, Galilea adalah simbol “titik nol” atau tempat di mana panggilan pertama kali dijawab oleh para murid di tepi danau. Sementara Yerusalem menyimbolkan trauma, pengkhianatan, dan ketakutan, Galilea adalah ruang pemulihan.
“Dengan kembali ke Galilea, Kristus yang Bangkit ingin memulihkan ingatan para murid tentang ‘Kasih Mula-mula’. Ia tidak menjumpai mereka sebagai terdakwa yang gagal, melainkan sebagai sahabat yang dipanggil kembali untuk misi baru,” ungkap Mgr. Siprianus di hadapan umat.
Transformasi Batin: Menjadi “Galilea” yang Hidup
Uskup Ruteng membawa pesan teologis ini ke ranah personal dengan mengajak umat menjadikan hati dan tubuh mereka sebagai “Galilea” bagi Tuhan di masa kini. Ia menjabarkan tiga poin utama transformasi:
Hati yang Terbuka (Inklusivitas): Menjadikan batin sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja tanpa sekat kebencian, mencerminkan Galilea yang secara historis merupakan tempat percampuran berbagai bangsa.
Tubuh sebagai Kesaksian (Liturgi Hidup): Menegaskan bahwa perayaan kebangkitan harus melampaui dinding gereja. Melalui kerja dan pelayanan sehari-hari, tubuh manusia harus menjadi sarana dunia melihat Kristus yang hidup.
Memulai dari Kerapuhan: Mengambil teladan dari penyebutan nama Petrus secara khusus dalam Injil, Uskup mengingatkan bahwa kegagalan masa lalu telah diampuni dan Tuhan selalu menawarkan babak baru di “Galilea” batin setiap insan.
Perutusan Paskah 2026
Menutup refleksinya, Mgr. Siprianus menegaskan bahwa Paskah 2026 adalah undangan untuk meninggalkan “kubur” kenyamanan dan ketakutan. Umat diutus untuk menjumpai Kristus dalam keseharian—di tengah keluarga, pekerjaan, dan masyarakat.
“Kristus telah mendahului kita di sana; mari kita jumpai Dia dengan sukacita. Selamat Pesta Paskah 2026. Kristus Bangkit, Alleluya!” tutupnya.
Perayaan Malam Paskah di Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo berlangsung khidmat dengan pengamanan dari pihak kepolisian, TNI, dan organisasi kemasyarakatan setempat, melambangkan semangat toleransi yang kuat di wilayah utara Manggarai tersebut.













