Opini  

Harmoni Ilmu di Bawah Rimbun Mangrove

Dawing Darmanto Tapenu, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang

Oleh: Dawing Darmanto Tapenu

PENA1NTT.COM– Belajar sejatinya bukan sekadar memindahkan kata dari buku ke dalam pikiran, melainkan sebuah perjalanan jiwa yang meresapi makna. Namun, di tengah sistem pendidikan yang kerap menekankan hafalan, target nilai, dan ruang kelas yang kaku, makna belajar itu perlahan memudar. Banyak peserta didik merasa terasing dari proses belajar itu sendiri—ilmu terasa berat, bahkan menekan.

Di titik inilah alternatif menjadi penting. Belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang berdinding beton. Ia bisa tumbuh di ruang-ruang yang lebih hidup, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan alam.

Pengalaman itu saya temukan di Komunitas Mangrove Leaf, sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan yang berdiri pada tahun 2021 oleh Kaka Oriani Maiko. Berlokasi di RT 34, RW 41, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, komunitas ini kini dihuni oleh 13 relawan yang dengan sukarela mengabdikan waktu dan tenaga mereka untuk berbagi ilmu.

Di sini, belajar bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan pengalaman yang utuh—di mana pengetahuan bertemu dengan alam, dan proses belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus membebaskan.

Bayangkan duduk santai di bawah rimbunnya pohon mangrove, ditemani deburan ombak dan hembusan angin laut yang menenangkan. Tidak ada dinding kelas yang membatasi pandangan. Tidak ada tekanan yang membebani pikiran. Langit menjadi atap, dedaunan menjadi pelindung, dan alam menjadi ruang belajar yang tak terbatas.

Suasana seperti ini menghadirkan sesuatu yang sering hilang dalam pendidikan formal: rasa nyaman dan kebebasan untuk berpikir.

Kegiatan belajar di Mangrove Leaf berlangsung setiap hari Sabtu untuk Taman Baca Mini pukul 16.00–17.00, sementara pembelajaran lain seperti calistung, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, matematika, dan pendidikan jasmani dilakukan setiap hari Minggu pukul 09.00–11.00. Meski sederhana, kegiatan ini memiliki dampak yang nyata—terutama bagi anak-anak di sekitar wilayah pesisir.

Metode belajar yang diterapkan pun jauh dari kesan kaku. Ilmu disampaikan dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. Bahasa diajarkan melalui lagu, matematika melalui permainan, dan diskusi menjadi ruang dialog yang setara antara pengajar dan pembelajar. Tidak ada jarak yang kaku, tidak ada rasa takut untuk bertanya.

Belajar di sini terasa mengalir—seperti air pasang yang datang perlahan namun pasti. Lebih dari itu, kehadiran mangrove bukan hanya sebagai latar, tetapi juga sebagai guru. Anak-anak belajar tentang lingkungan secara langsung: tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir, tentang fungsi akar bakau yang menahan abrasi, hingga tentang hubungan manusia dengan alam.

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata, pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan. Pendidikan tidak lagi berdiri terpisah dari realitas, tetapi hadir sebagai bagian dari solusi.

Mangrove Leaf membuktikan bahwa pendidikan berbasis komunitas memiliki peran penting dalam menjawab keterbatasan sistem formal. Ia menjadi ruang alternatif yang inklusif, fleksibel, dan berakar pada kebutuhan masyarakat setempat.

Lebih jauh, komunitas ini juga menunjukkan bahwa kualitas belajar tidak selalu ditentukan oleh fasilitas mewah, melainkan oleh pendekatan, kepedulian, dan kehadiran manusia-manusia yang tulus berbagi.

Bagi saya pribadi, menjadi bagian dari Mangrove Leaf bukan sekadar pengalaman mengajar, tetapi juga proses belajar yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa ilmu tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang serius dan berat. Ia bisa hadir dalam tawa, dalam permainan, bahkan dalam hembusan angin laut yang sederhana.

Di bawah rimbun mangrove, saya menemukan kembali makna belajar yang sejati: tumbuh bersama, saling menguatkan, dan menyatu dengan alam.

Maka, Mangrove Leaf bukan sekadar komunitas belajar. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan bisa menjadi sebuah puisi—indah, hidup, dan penuh makna.

Dan mungkin, di tengah berbagai persoalan pendidikan yang kita hadapi hari ini, kita perlu lebih banyak “kelas-kelas mangrove”: ruang belajar yang memanusiakan, membebaskan, dan menumbuhkan harapan.

Penulis: Irenius Putra Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *