Manggarai-Pena1-Ntt.com— Delapan hari pascagempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026, masyarakat Desa Golo Mendo, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di tenda-tenda pengungsian sederhana,
Karena masih mengalami trauma dan khawatir terhadap gempa susulan yang hingga kini masih dirasakan.
Kepala Desa Golo Mendo, Hilarius Jebarus, mengatakan hingga Senin (24/8/2026), tercatat sebanyak 98 posko pengungsian, termasuk posko mandiri, yang menjadi tempat warga berlindung. Total warga yang berada di pengungsian mencapai sekitar 1.003 jiwa.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan pangan dan logistik warga terus meningkat. Setiap hari, dibutuhkan sekitar 400 kilogram beras untuk memenuhi kebutuhan warga yang berada di posko pengungsian.
Hilarius mengaku harus mencari berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya, termasuk mencari bantuan dari para donatur dan berbagai pihak untuk menyediakan makanan, minuman, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan selama warga masih berada di pengungsian.
“Kami sangat membutuhkan bantuan dari para pihak untuk memenuhi kebutuhan warga yang sampai hari ini masih berada di tenda-tenda pengungsian. Di dalamnya ada balita, orang dewasa, lansia, hingga ibu hamil yang membutuhkan perhatian dan bantuan kita bersama,” ujar Hilarius.
Untuk memastikan bantuan yang diterima dapat dibagikan secara merata, pemerintah desa bersama masyarakat sepakat membentuk satu posko khusus sebagai tempat penampungan seluruh bantuan yang masuk. Posko tersebut sekaligus menjadi pusat dapur umum.
Dari dapur umum itu, makanan yang telah dimasak kemudian didistribusikan ke setiap posko pengungsian. Pemerintah desa juga membentuk tim koordinator pendistribusian makanan untuk memastikan seluruh warga mendapatkan jatah secara merata.
Dengan sistem tersebut, warga di masing-masing posko tidak perlu lagi memasak sendiri karena makanan akan disiapkan dan didistribusikan dari dapur utama.
Langkah itu diambil sebagai upaya untuk menghemat penggunaan bahan makanan sekaligus memastikan bantuan yang masuk dapat dikelola dan disalurkan secara teratur kepada seluruh warga terdampak.
Namun, memasuki hari kedelapan pascagempa, Hilarius mulai kewalahan memenuhi kebutuhan makanan dan minuman bagi ribuan warganya yang masih bertahan di tenda-tenda sederhana.
Persoalan yang dihadapi warga tidak hanya kehilangan tempat tinggal. Sebagian masyarakat juga kehilangan sumber penghasilan karena aktivitas mereka terganggu akibat gempa.
Hilarius menjelaskan, sebagian besar masyarakat Desa Golo Mendo menggantungkan hidup dari pekerjaan harian. Penghasilan yang diperoleh hari ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga pada hari yang sama.
“Masyarakat saya ini hidup dengan sistem harian. Artinya, hasil kerja hari ini untuk makan hari ini. Kalau gempa masih terus terjadi dan mereka tidak bisa bekerja seperti biasanya, tentu mereka kesulitan memenuhi kebutuhan kehidupan keluarganya setiap hari,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Hilarius, bantuan yang dibutuhkan warga saat ini berupa beras, kebutuhan bayi dan balita, kebutuhan lansia, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Ia berharap seluruh pihak yang memiliki kepedulian dapat bersama-sama membantu masyarakat Desa Golo Mendo hingga kondisi kembali aman dan warga dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
“Kami berharap ada perhatian dan bantuan dari semua pihak. Warga kami masih berada di pengungsian dan kebutuhan terus berjalan setiap hari. Kami tidak ingin ada warga yang kekurangan makanan dan minuman selama berada di tempat pengungsian,” kata Hilarius.













