Program PULIH, Relawan Unika Ruteng Dampingi Psikologi Warga Penyintas Gempa di Flores

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM—Tim relawan gabungan dari Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng menghadirkan program kampanye kepedulian bertajuk PULIH (Pelukan untuk Lanjutkan Impian Hidup) bagi warga terdampak gempa bumi di Desa Bangka Kuleng, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT, pada Rabu (2/9/2026).

Aksi kemanusiaan ini melibatkan kolaborasi Duta Bahasa NTT, Putra Putri Budaya, Holy Impact Ministry (HIM), Synergoi Paulus, serta tim peternakan.

Kegiatan diawali dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga terdampak.

Selain menyalurkan paket sembako untuk memenuhi kebutuhan pokok, tim relawan dari sektor peternakan juga melakukan pemeriksaan kesehatan serta membagikan vitamin untuk hewan ternak milik warga.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga sumber penghidupan masyarakat yang terganggu akibat bencana.

Apresiasi dan Harapan Warga

Kepala Desa Bangka Kuleng, Marselinus Mohon, mengapresiasi perhatian para relawan terhadap keberlangsungan ekonomi warga.

Menurutnya, sektor pertanian dan peternakan merupakan tumpuan utama masyarakat pascabencana.

Ia menegaskan bahwa bencana gempa tidak hanya merusak harta benda, tetapi juga mengganggu sumber pendapatan warga dari bertani, sehingga kesehatan hewan ternak menjadi sangat krusial untuk menjaga pemulihan ekonomi masyarakat.

“Bencana ini selain menghilangkan harta benda juga mempengaruhi sumber pemasukan warga dari bertani. Karena itu harapan kami saat ini pada hewan peliharaan atau ternak kami. Jika ternak juga mati pasca gempa ini, maka matilah juga harapan kami,” jelas Marselinus.

Selain itu, Marselinus juga mengapresiasi kreativitas para relawan dalam menyusun kegiatan yang dinilai mampu meredakan rasa trauma anak-anak pascabencana.

Banyaknya variasi kegiatan membuat anak-anak dapat menikmati waktu bersama dan memperoleh pengalaman baru.

“Kegiatan yang dilakukan hari ini sangat memuaskan, karena trauma yang dialami anak-anak pasca gempa sedikit teratasi dengan kegiatan yang sudah dilakukan. Saya mewakili masyarakat desa memberikan apresiasi kepada para relawan,” lanjutnya.

Ia juga mengapresiasi kehadiran Pater Calvin Flores Pala, SVD, yang memberikan penguatan rohani, serta berharap pendampingan serupa yang dilakukan para relawan dapat kembali dijadwalkan di desanya.

Rangkaian Kegiatan Pendampingan Relawan Mahasiswa UNIKA

Selain pembagian sembako dan kunjungan langsung, kegiatan juga difokuskan pada pendampingan psikologi melalui program bertajuk PULIH (Pelukan untuk Lanjutkan Impian Hidup) yang diikuti sekitar 110 anak dan remaja setempat.

Program pemulihan trauma ini diisi dengan lima rangkaian sesi, mulai dari bernyanyi bersama, edukasi ilmiah sederhana mengenai fenomena gempa bumi, hingga simulasi mitigasi keselamatan diri saat terjadi goncangan susulan.

Selain itu, anak-anak diberikan ruang untuk membagikan cerita dan pengalaman mereka selama bencana berlangsung, serta ditutup dengan sesi doa reflektif untuk penguatan rohani.

Kegiatan diakhiri dengan pembagian kuis interaktif serta penyaluran paket alat tulis, buku, dan makanan ringan kepada seluruh peserta.

Respons positif kegiatan ini juga disampaikan oleh salah seorang peserta anak, Auldry Feltryn Drego.

Ia mengaku sangat terhibur dan senang karena rangkaian kegiatan yang disajikan relawan sangat menarik.

“Terima kasih kaka-kaka Unika. Saya merasa terhibur, gembira, dan senang lagi hari ini karena kegiatan-kegiatan yang kaka berikan sangat menarik,” ujar Feltryn.

Pendidikan Transformatif, Kolaboratif, dan Berdampak

Secara terpisah, Rektor UNIKA St. Paulus Ruteng, RD. Agustinus Manfred Habur, memberikan apresiasi tinggi atas kepedulian para mahasiswa dan relawan yang terlibat.

Ia menegaskan bahwa di tengah situasi pascabencana, mahasiswa tidak hanya hadir membantu kebutuhan fisik, tetapi juga berani menyentuh luka batin dan trauma anak-anak.

Menurutnya, aksi ini merupakan bentuk nyata dari pendidikan yang manusiawi serta kampus yang transformatif, kolaboratif, dan berdampak.

“Di tengah situasi pasca bencana, mahasiswa tidak hanya hadir untuk membantu kebutuhan fisik masyarakat, tetapi juga berani menyentuh luka batin, trauma, dan harapan anak-anak serta remaja yang mengalami langsung tragedi gempa,” ujarnya.

Lebih lanjut, RD. Manfred berpesan agar pengalaman kerelawanan ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi juga menjadi pembelajaran tentang solidaritas, empati, dan pengabdian.

Ia berharap aksi pendampingan ini dapat membantu anak-anak perlahan berdamai dan sembuh dengan trauma.

“Teruslah hadir bukan hanya sebagai relawan yang datang dan pergi, tetapi sebagai sahabat yang menemani masyarakat untuk bangkit kembali. Jadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran tentang solidaritas, empati, keberanian, dan pengabdian,” tambahnya.

Pesan tersebut kemudian dipertegas RD. Manfred melalui harapan agar pengalaman bencana tidak menjadi akhir dari masa depan anak penyintas bencana.

Dengan dukungan keluarga, masyarakat, relawan, dan lembaga pendidikan, anak-anak diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan mengejar cita-cita.

“Anak-anak Bangka Kuleng tidak boleh mewarisi trauma sebagai akhir cerita. Mereka harus mewarisi harapan, keberanian, pendidikan, dan impian untuk masa depan,” pungkasnya.

Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan oleh Christian Arje Antas (Ketua Synergoi Paulus Periode 2025–2026 & Terbaik 5 Duta Bahasa NTT 2026 

Penulis: Nana Patris AgatEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *