MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa di Kelurahan Baru, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), justru berujung keributan.
Persoalan tersebut kini tidak lagi semata-mata menyangkut distribusi sembako dan tenda. Cara seorang pejabat pemerintah berkomunikasi dengan warga terdampak bencana ikut menjadi sorotan.
Sejumlah warga yang mengaku berada langsung di lokasi menyebut keributan terjadi setelah pembagian bantuan selesai. Dalam kesaksian yang diterima PENA1NTT.COM, Lurah Baru Mince Hermina Ly, S.Kom, disebut terlibat adu mulut dengan warga ketika mereka hendak meninggalkan kantor kelurahan.
Pernyataan yang paling disorot adalah ucapan yang disebut dilontarkan Lurah kepada warga:
“Kamu ceke (makan), kamu kenyang itu bantuan dari kelurahan.”
Ucapan tersebut, menimbulkan pertanyaan serius mengenai etika komunikasi pejabat publik kepada masyarakat yang sedang menghadapi situasi bencana.
Berawal dari Persoalan Data Bantuan
Seorang warga RT 012/RW 06 yang menjadi sumber keterangan kepada PENA1NTT.COM mengatakan, persoalan bermula dari data penerima bantuan yang menurut warga tidak mengalami perubahan meskipun sebelumnya pihak RT telah menyampaikan adanya pembaruan data.
“Kami punya lingkungan Jati, kompleks Kedutul, Kelurahan Baru, RT 012/RW 06. Ketika RT datang mengatakan bahwa menurut pihak kelurahan terjadi pembengkakan data, RT sampaikan itu data-data,” ungkapnya.
Menurut dia, warga telah menerima bantuan dalam dua kali penyaluran dengan menggunakan data yang sama.
“Sudah dua kali kami terima bantuan masih data yang sama. Yang ketiga kami mau terima ini, sempat RT ribut di kelurahan,” katanya.
Persoalan kemudian dibawa kembali kepada warga.
RT, menurut sumber tersebut, mengumpulkan warga dari sejumlah wilayah untuk datang bersama-sama ke kantor kelurahan.
“RT kumpulkan kami warga dari Kedutul, Golo Ngampung, dan Empodeng, terus kami semua ke kelurahan,” ujarnya.
Di kantor kelurahan, kata dia, sempat terjadi perdebatan sebelum akhirnya warga mendapatkan sejumlah bantuan.
Enam Tenda Diserahkan kepada Warga
Menurut sumber tersebut, setelah proses pembahasan berlangsung, Lurah Baru kemudian meminta warga yang membutuhkan tenda untuk didata.
“Terakhir sudah ada sedikit berdebat, terus Ibu Lurah bilang, ‘Mari sudah, siapa-siapa yang membutuhkan tenda,’” katanya.
Dari sisa tenda yang tersedia, warga kemudian menerima enam tenda.
“Kami terima dan tanda tangan serah terima tenda dari kelurahan kepada warga RT 012,” jelasnya.
Pada titik tersebut, persoalan semestinya dapat berakhir dengan baik.
Namun, menurut kesaksian warga tersebut, situasi justru kembali memanas setelah pembagian sembako selesai.
Lurah Disebut Memulai Keributan Saat Warga Hendak Pulang
Sumber tersebut mengatakan, setelah menerima sembako dan tenda, warga keluar dari ruangan kantor kelurahan untuk membawa bantuan pulang.
Saat itulah, menurut dia, Lurah Baru keluar dari kantor dan mulai berteriak kepada warga.
“Ibu Lurah sendiri yang mulai keributan ini,” ungkapnya.
Menurut kesaksian tersebut, Lurah mengatakan:
“Saya tahu ada orang di belakang kamu.”
Warga, kata sumber itu, tidak merespons.
Namun, Lurah kemudian disebut kembali berbicara dan mengaitkan persoalan tersebut dengan pemberitaan media.
“Saya tahu dia yang buat saya malu di media.”
Lurah kemudian disebut menyebut nama seseorang.
“Baik sudah e, saya sebut dia punya nama, namanya itu Piter.”
Pernyataan tersebut kemudian mendapat respons dari istri Piter yang saat itu berada di luar.
Menurut sumber, istri Piter langsung mempertanyakan alasan nama suaminya disebut.
“Kamu kenapa sebut nama saya punya suami?”
Situasi pun disebut kembali memanas.
“Kamu Ceke, Kamu Kenyang Itu Bantuan dari Kelurahan”
Ada satu ucapan lain yang menurut warga hingga kini masih mereka ingat.
Dalam kesaksiannya kepada PENA1NTT.COM, sumber mengatakan Lurah Baru sempat melontarkan kalimat:
“Kamu ceke (makan), kamu kenyang itu bantuan dari kelurahan.”
Ucapan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan dalam konteks warga baru saja menerima bantuan sembako.
Bagi warga, bantuan dalam situasi bencana bukanlah sesuatu yang layak dijadikan bahan untuk saling berhadapan.
Masyarakat yang datang ke kantor kelurahan adalah warga yang sedang berada dalam situasi sulit dan membutuhkan pelayanan pemerintah.
Karena itu, jika pernyataan tersebut benar disampaikan sebagaimana kesaksian warga, maka ucapan itu patut dipertanyakan dari sisi etika pelayanan publik dan komunikasi seorang pejabat kepada masyarakat terdampak bencana.
Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Lurah Baru kemudian marah dan berteriak kepada warga.
“Kamu warga RT 012, Kelurahan Baru, jangan pernah ambil bantuan di kelurahan ini,” katanya, mengutip ucapan yang menurutnya disampaikan Lurah.
Video Viral, Saksi di Lokasi Ikut Bersuara
Setelah video keributan tersebut beredar dan menjadi perhatian publik di media sosial, sejumlah pengguna Facebook yang mengaku berada di lokasi turut memberikan komentar mengenai awal mula kejadian.
Salah satunya berasal dari akun Facebook Anggi Djorate.
Dalam komentarnya, Anggi membantah jika keributan tersebut bermula dari warga RT 012/RW 06. Ia justru menyebut Lurah Baru sebagai pihak yang terlebih dahulu mengeluarkan kata-kata yang dinilainya tidak pantas.
Anggi menulis:
“Yg memulai keributan bkn warga RT 012 RW 06…tp ibu LURAH yg duluan mengeluarkan kata yg tdk pantas sebagai seorg lurah..keributan disaat warga sdh kluar dr pintu dpn kntor kelurahan baru…kami warga kelurahan baru Rt 012.Rt 06 siap jd saksi klau mau tahu awal mula siapa yg mengeluarkan kata-kata KOTOR duluan.”
Komentar tersebut memperkuat adanya kesaksian lain dari orang yang mengaku berada di lokasi ketika keributan terjadi.
Anggi bahkan menyatakan warga RT 012/RW 06 siap menjadi saksi apabila diperlukan untuk menjelaskan bagaimana awal mula keributan tersebut terjadi.
Namun, pernyataan tersebut tetap merupakan kesaksian dari pihak yang mengaku berada di lokasi dan perlu dikonfirmasi dengan pihak-pihak lain serta rekaman video yang tersedia.
Polemik Lurah Baru Kembali Terbuka
Peristiwa terbaru ini membuat persoalan di Kelurahan Baru semakin panjang.
Sebelumnya, warga Pelabuhan Kedindi mengeluhkan keterbatasan bantuan pascagempa.
PENA1NTT.COM kemudian meminta klarifikasi kepada Lurah Baru. Dalam proses komunikasi tersebut, Lurah sempat melontarkan pernyataan “Neka rabo, saya capek”, yang kemudian mendapat sorotan.
Polemik berikutnya berkembang setelah muncul komunikasi antara Lurah Baru dengan pimpinan PENA1NTT.COM yang dipersoalkan karena menyangkut pemberitaan media.
Camat Reok, Rita Uudin, kemudian menyatakan bahwa dalam menjalankan tugas sebagai aparatur pemerintah, tidak semestinya persoalan kelelahan dijadikan alasan untuk mengesampingkan tanggung jawab pelayanan masyarakat.
Camat juga menyatakan Lurah Baru akan dipanggil untuk dimintai klarifikasi dan apabila ditemukan kesalahan dapat diberikan teguran sesuai mekanisme yang berlaku.
Kini, sebelum persoalan tersebut benar-benar selesai, muncul lagi kesaksian mengenai keributan saat pembagian bantuan.
Persoalan ini tidak boleh berhenti pada siapa yang paling keras berbicara.
Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah memastikan warga terdampak memperoleh bantuan secara adil sekaligus mendapatkan pelayanan yang layak.
Warga tidak datang ke kantor kelurahan untuk meminta sesuatu yang menjadi milik pribadi pejabat.
Mereka datang karena sedang menghadapi dampak bencana.
Mereka membutuhkan sembako. Mereka membutuhkan tenda. Mereka membutuhkan kepastian bahwa nama mereka tercatat dan bantuan yang tersedia benar-benar sampai kepada keluarga yang membutuhkan.
Karena itu, apabila benar terjadi perdebatan dan keluarnya pernyataan sebagaimana disampaikan saksi, Pemerintah Kabupaten Manggarai tidak seharusnya menutup mata.
Pemkab perlu memeriksa kejadian tersebut secara objektif.
Tidak cukup hanya meminta laporan dari bawahan.
Temui warga. Periksa video. Periksa data bantuan. Periksa berita acara. Panggil RT. Minta klarifikasi Lurah.
Semua harus ditempatkan dalam satu meja agar publik mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Rangkaian persoalan di Kelurahan Baru kini telah berkembang jauh dari sekadar soal distribusi sembako.
Kini muncul pula kesaksian mengenai keributan setelah pembagian bantuan serta komentar dari warga yang mengaku menyaksikan langsung kejadian tersebut.
PENA1NTT.COM tidak bermaksud menghakimi siapa pun.
Namun, jabatan publik membawa tanggung jawab publik.
Setiap ucapan pejabat di hadapan warga dapat menimbulkan konsekuensi, terlebih ketika masyarakat sedang berada dalam kondisi rentan akibat bencana.
Karena itu, persoalan ini harus diselesaikan secara terbuka dan berdasarkan fakta.
Jika Lurah Baru merasa ucapan tersebut tidak pernah disampaikan, bantah dan jelaskan. Jika ada konteks yang berbeda, sampaikan kepada publik. Jika terjadi kesalahpahaman, luruskan.
Tetapi jika memang terjadi sebagaimana kesaksian warga dan saksi lainnya, maka evaluasi tidak boleh kembali berhenti pada kata-kata.
Pemerintah harus memastikan pelayanan kepada korban bencana tidak berubah menjadi ruang konflik antara pejabat dan masyarakat.
PENA1NTT.COM membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Lurah Baru Mince Hermina Ly, pihak RT/RW, Pemerintah Kecamatan Reok, maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini.













