Isak Tangis di Atas Sungai: Duka Mendalam Melepas Almarhumah Selviana, Pengungsi Gempa NTT yang Pulang dalam Peti Mati

Isak Tangis di Atas Sungai: Duka Mendalam Melepas Almarhumah Selviana, Pengungsi Gempa NTT yang Pulang dalam Peti Mati (Dok. PENA1NTT.COM)

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Isak tangis pecah di atas sebuah rakit bambu sederhana yang perlahan bergerak melawan arus sungai. Di atas rakit itu, sebuah peti jenazah berwarna putih diusung dari arah Reo menuju Desa Satar Punda Barat, Kabupaten Manggarai.

Di samping peti tersebut, Petrus Forier Insano, suami almarhumah Selviana, tak kuasa menahan duka. Ia bersimpuh dan memeluk erat peti yang menjadi tempat peraduan terakhir istrinya.

Air mata Petrus jatuh di tengah suara arus sungai. Tidak ada lagi senyum Selviana yang menyambut kepulangannya. Yang tersisa hanya sebuah perjalanan sunyi mengantarkan sang istri menuju tempat peristirahatan terakhir.

Kisah ini menjadi gambaran pilu tentang beratnya kehidupan warga yang terdampak bencana, ketika kehilangan tempat tinggal harus diikuti dengan perjuangan mendapatkan layanan kesehatan dan menghadapi keterbatasan akses menuju wilayah tempat mereka tinggal.

Keluarga Petrus dan Selviana sebelumnya menjadi bagian dari warga yang terdampak gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores. Rumah mereka rusak akibat bencana sehingga keluarga tersebut harus bertahan di tengah kondisi serba terbatas di tempat pengungsian.

Di tengah situasi tersebut, Selviana harus menjalani perjuangan untuk melahirkan anak ketiganya. Kondisi pengungsian, kelelahan, serta akses jalan yang sulit membuat perjalanan menuju fasilitas kesehatan menjadi perjuangan tersendiri.

Selviana kemudian dibawa menuju RSUD Borong untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, dua putrinya yang masing-masing berusia 10 tahun dan 5 tahun tetap berada di tempat pengungsian.

Kedua anak itu menunggu kepulangan sang ibu dengan harapan sederhana: ibu mereka kembali bersama adik bayi yang baru lahir.

Namun, harapan itu berubah menjadi duka.

Selviana meninggal dunia setelah menjalani operasi persalinan secara cesar di RSUD Borong. Ia meninggalkan seorang bayi yang baru dilahirkan serta dua putri kecil yang kini harus tumbuh tanpa pelukan ibunya.

Kabar kepergian Selviana menjadi pukulan berat bagi keluarga. Perjalanan yang semula diharapkan menjadi kepulangan seorang ibu dengan membawa anggota keluarga baru justru berubah menjadi perjalanan terakhir dalam sebuah peti jenazah.

Ironisnya, perjuangan keluarga belum berakhir setelah kematian Selviana.

Keterbatasan akses transportasi dan kondisi infrastruktur membuat jenazah almarhumah harus dibawa menggunakan rakit bambu tradisional untuk menyeberangi sungai.

Pemandangan itu menjadi begitu menyayat hati. Sebuah peti jenazah berada di atas rakit sederhana, sementara sang suami duduk di sisinya dalam balutan kesedihan yang sulit disembunyikan.

Rakit bambu itu perlahan bergerak mengikuti arus. Di atas sungai tersebut, Petrus mengantarkan istrinya menuju kampung halaman untuk terakhir kalinya.

Tidak ada lagi perjalanan menuju rumah sakit. Tidak ada lagi harapan menunggu seorang ibu kembali dari ruang operasi. Yang ada hanya kepulangan terakhir seorang perempuan yang meninggalkan tiga anak dan keluarga yang tengah berjuang bangkit dari bencana.

Kisah Selviana bukan sekadar tentang kematian seorang ibu. Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana bencana dapat memperberat beban masyarakat yang sejak awal hidup dalam keterbatasan akses dan infrastruktur.

Ketika jalan sulit dilalui dan sarana transportasi terbatas, setiap perjalanan menuju fasilitas kesehatan menjadi persoalan serius, terutama bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau.

Isak tangis Petrus di atas rakit menjadi gambaran duka sebuah keluarga yang kehilangan orang tercinta sekaligus pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah yang rusak.

Akses jalan, transportasi, fasilitas kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan juga menjadi bagian penting dari pemulihan masyarakat terdampak bencana. Kini, Selviana telah pulang.

Namun, ia pulang bukan dalam pelukan dua putrinya seperti yang mereka harapkan. Ia pulang dalam sebuah peti, melewati derasnya arus sungai, meninggalkan seorang bayi yang baru lahir dan dua anak kecil yang harus belajar menerima kenyataan bahwa pelukan seorang ibu tak akan pernah mereka rasakan lagi.

 

Penulis: Dion Damba Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *