MANGGARAI, PENA1NTT.COM— Ketegaran menyelimuti sebuah rumah sederhana di Welong, Desa Wae Muli, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Pada Jumat (28/08/2026), keluarga Ibu Emiliana Helni bersama suami dan anak sulungnya melangkah ke reruntuhan rumah yang kini menjadi saksi bisu duka mendalam delapan saudara kandung yang mendadak kehilangan tempat bergantung.
Kehadiran Ibu Emiliana Helmi bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan panggilan hati yang tak sanggup membendung belas kasih.
Kisah memilukan ini bermula saat Ibu Emi baru saja tiba di rumah usai menempuh perjalanan dari Labuan Bajo. Di rumah, anak kandungnya yang bertugas di Puskesmas Kota menceritakan momen emosional yang dialaminya saat menangani seorang pasien balita perempuan berusia 4 tahun yang menderita patah kaki.
Saat merawat sang balita, anak Ibu Emi bertanya kepada keluarga yang mengantar. Dengan suara bergetar, keluarga pasien menceritakan kenyataan pahit bahwa kedua orang tua dari balita tersebut telah meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan rumah saat gempa bumi mengguncang wilayah itu pada 15 Agustus 2026 lalu.
Mendengar kisah itu, anak Ibu Emi tak sanggup menahan air mata. Di tengah tugas medisnya, ia menangis haru, memeluk anak tersebut, dan menyisipkan sedikit rezeki untuk membantu. Begitu tiba di rumah, cerita itu disampaikan kepada sang ibu. Hati Ibu Emi terguncang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengajak suami dan anak sulungnya yang berprofesi sebagai tenaga medis (mantri) untuk mendatangi langsung lokasi kejadian.
Dikatakannya, setibanya di rumah korban, pertahanan air mata Ibu Emi runtuh. Tangisnya pecah menyaksikan anak-anak yang kini harus saling memeluk duka tanpa pelukan hangat seorang ayah dan ibu.
Di hadapan awak media, Ibu Emi membagikan detik-detik mencekam yang diceritakan kembali oleh anak-anak korban. Korban sebenarnya memiliki delapan orang anak. Anak pertama dan kedua sudah bersuami dan tinggal di Wae Rebo, anak ketiga bekerja merantau di Kalimantan, anak keempat bekerja sebagai sopir bemo, anak kelima duduk di bangku SMA, anak keenam kelas 6 SD, anak ketujuh kelas 4 SD, serta anak kedelapan adalah balita berusia 4 tahun. Lima orang anak diantaranya tinggal bersama kedua orang tua mereka di rumah tersebut.
Saat getaran hebat terjadi, empat anak yang berada di rumah berhasil berlari menyelamatkan diri ke luar. Ayah mereka sebenarnya sempat berhasil keluar. Namun, menyadari istri dan balita bungsunya masih terjebak di dalam, sang ayah tanpa ragu berlari kembali ke dalam rumah demi menyelamatkan belahan jiwanya. Takdir berkata lain, sang ayah seketika gugur tertimpa material bangunan.
Di saat bersamaan, sang ibu berjuang mati-matian menyelamatkan putri bungsunya. Dalam kepanikan luar biasa dan sisa tenaga terakhir, sang ibu melempar anak bungsunya ke luar rumah demi menyelamatkan nyawa sang buah hati—tindakan kasih sayang terakhir yang menyebabkan kaki sang balita patah. Namun sayang, sang ibu tak sempat menyelamatkan diri dan mengembuskan napas terakhir di bawah reruntuhan bersama sang suami.
Melihat penderitaan anak-anak yang kini menjadi yatim piatu tersebut, Ibu Emi menyerahkan bantuan berupa bingkisan makanan serta uang tunai sebesar Rp2.000.000 untuk sedikit meringankan beban mereka.
Dengan suara terbata-bata menahan sedih, Ibu Emi menyampaikan keprihatinannya yang mendalam:
“Hati saya hancur dan sangat prihatin melihat anak-anak ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka harus kehilangan kasih sayang, perlindungan, dan tempat bersandar kedua orang tuanya sekaligus dalam satu peristiwa yang begitu cepat. Kasih ibu yang melempar anaknya demi keselamatan sang buah hati adalah bukti betapa besarnya pengorbanan mereka hingga akhir hayat,” ucap Ibu Emi.
Ibu Emi juga mengetuk pintu hati berbagai pihak melalui harapan yang ia sampaikan:
“Saya sangat berharap yang punya hati mulia maupun para donatur dapat membuka mata dan mengulurkan tangan untuk memperhatikan kondisi anak-anak ini. Mereka membutuhkan uluran tangan kita, bukan hanya untuk bertahan hidup hari ini, tetapi juga demi kelangsungan masa depan dan pendidikan mereka yang masih sangat panjang,” harapnya.
Kini, di balik puing-puing rumah yang hancur di Desa Wae Muli, anak-anak tersebut belajar mengeja hari esok tanpa penopang utama. Uluran tangan dan kepedulian dari sesama menjadi satu-satunya harapan agar asa mereka tak ikut runtuh bersama masa lalu.













