Penulis: Yosef Benyamin Geroda Barat
KUPANG, PENA1NTT.COM – Di zaman sekarang, banyak orang hidup dalam budaya yang mendorong kita untuk terus membeli, memiliki, dan mencari kesenangan. Budaya seperti ini disebut konsumerisme dan hedonisme.
Konsumerisme membuat orang merasa harus selalu memiliki barang baru untuk merasa bahagia. Hedonisme membuat orang berpikir bahwa hidup harus selalu penuh kesenangan dan kenyamanan.
Kedua hal ini sebenarnya tampak baik, tetapi jika tidak kita kendalikan, bisa membuat kita jauh dari Tuhan dan hidup iman yang sebenarnya.
Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa hidup bukan hanya tentang mencari barang atau kesenangan. Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan untuk mencintai dan melayani.
Namun, dunia saat ini sering membuat orang lupa akan hal itu. Banyak orang bekerja terlalu keras bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin membeli barang yang sedang tren atau ingin hidup lebih mewah.
Ada juga yang lebih memilih bermain, hiburan, dan media sosial daripada berdoa atau datang ke gereja. Perlahan-lahan, iman menjadi tidak lagi menjadi bagian penting dalam hidup, tapi hanya sebagai tambahan.
Konsumerisme dan hedonisme membuat manusia merasa bahwa kebahagiaan hanya ada pada apa yang bisa dibeli atau dinikmati.
Padahal, Gereja mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari hati yang dekat dengan Tuhan. Barang-barang baru memang bisa membuat kita senang, tetapi hanya sementara.
Setelah itu, kita ingin membeli barang lain lagi. Kesenangan pun demikian-ketika sudah selesai, kita kembali merasa kosong. Inilah yang membuat banyak orang merasa lelah dan tidak puas, meskipun mereka memiliki banyak hal.
Pengaruh budaya ini juga terasa dalam keluarga. Banyak keluarga tidak punya waktu berkumpul atau berdoa bersama karena masing-masing sibuk dengan ponsel, game, atau media sosial.
Anak-anak sejak kecil sudah diperkenalkan pada gaya hidup konsumtif: beli mainan baru, minta barang bermerk, atau ikut tren yang ada di internet. Jika nilai-nilai seperti ini tidak diarahkan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mementingkan materi daripada iman dan keluarga.
Gereja Katolik sebenarnya sudah lama mengingatkan bahwa gaya hidup berlebihan dapat mengganggu hubungan manusia dengan Tuhan. Yesus sendiri mengajarkan untuk hidup sederhana dan tidak terikat pada kekayaan.
Gereja tidak melarang umat menikmati hiburan atau membeli barang. Namun, masalahnya adalah ketika barang dan kesenangan menjadi pusat hidup, menggantikan Tuhan.
Ketika seseorang mengutamakan kesenangan, la mudah lupa berdoa, lupa bersyukur, dan kurang peduli kepada sesama. Untuk menghadapi tantangan ini, umat Katolik perlu memiliki sikap yang bijaksana.
Pertama, kita perlu belajar hidup sederhana. Kesederhanaan bukan berarti hidup miskin atau tidak boleh memiliki barang bagus. Kesederhanaan berarti tidak terikat pada barang, tidak mudah tergoda dengan tren, dan tidak memaksakan diri untuk membeli sesuatu yang tidak perlu.
Dengan hidup sederhana, hati kita menjadi lebih bebas dan tidak mudah gelisah. Kedua, kita perlu membiasakan diri untuk berdoa dan datang ke gereja. Ketika kita memberi waktu untuk Tuhan, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa Tuhan adalah pusat hidup kita.
Doa membantu hati kita tetap tenang dan tidak mudah terbawa arus dunia. Misa membantu kita memperbarui iman kita setiap minggu dan mengingatkan apa yang benar- benar penting dalam hidup. Ketiga, umat Katolik diajak untuk berbagi dengan sesama.
Salah satu cara mengalahkan sikap konsumtif adalah dengan memberi. Ketika kita berbagi dengan orang yang membutuhkan, kita belajar mensyukuri apa yang kita miliki dan tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Gereja selalu mengajarkan bahwa perhatian kepada orang miskin adalah bagian penting dari iman. Keempat, sebelum membeli atau melakukan sesuatu, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apakah ini kebutuhan atau hanya keinginan? Apakah ini membantu hidupku lebih baik, atau hanya sekadar ikut tren?
Dengan kebiasaan bertanya seperti ini, kita bisa lebih berhati-hati dan tidak mudah terjebak dalam konsumerisme. Pada akhirnya, tantangan konsumerisme dan hedonisme bukan hanya persoalan di luar diri kita, tetapi juga persoalan hati.
Kita semua bisa tergoda untuk mencari kebahagiaan dalam. barang dan kesenangan. Namun, sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk ingat bahwa kebahagiaan sejati hanya datang dari Tuhan.
Ketika hati kita dekat dengan Tuhan, kita akan merasa cukup, damal, dan bersyukur, meskipun tidak memiliki segala sesuatu. Karena itu, marilah kita berusaha hidup lebih sederhana, lebih banyak berdoa, dan lebih peduli kepada sesama.
Dengan begitu, iman kita tidak hanyut dalam arus dunia, tetapi justru menjadi terang bagi banyak orang yang sedang mencari makna hidup. Gereja memanggil kita untuk menjadi saksi bahwa hidup bukan sekadar memiliki dan menikmati, tetapi mengasihi Tuhan dan sesama.
Di tengah dunia yang sibuk dengan barang dan hiburan, kita bisa menjadi pribadi yang tetap kuat dalam iman, rendah hati, dan membawa kebaikan bagi orang lain.














