Penulis: Christiano Ferredinho Nicola
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Charles Robert Darwin (1809–1882) melalui karyanya yang monumental, On the Origin of Species (1859), memperkenalkan Teori Evolusi melalui Seleksi Alam.
Karya ini menjadi kerangka ilmiah yang revolusioner dalam menjelaskan keanekaragaman hayati dan perkembangan spesies, termasuk manusia, mengubah secara fundamental cara pandang dunia terhadap asal-usul kehidupan.
Namun, misteri ini menjadi titik temu paling menarik—dan terkadang kontroversial—antara ilmu pengetahuan dan iman. Di satu sisi, ada kerangka ilmiah Darwin, dan di sisi lain, ada Ajaran Gereja Katolik yang berakar pada Kitab Suci, khususnya Kitab Kejadian, yang mengajarkan bahwa manusia diciptakan secara istimewa oleh Allah sebagai Imago Dei (Gambar Allah).
Narasi ini bertujuan untuk menguraikan kedua pandangan ini dan menjelaskan bagaimana Gereja Katolik modern telah mengembangkan pemahaman harmonis, yang dikenal sebagai Evolusi Teistik, sebagai bukti bahwa sains yang baik dan iman yang benar berasal dari Allah yang sama.
Gereja Katolik secara historis tidak pernah mengutuk teori evolusi sebagai ajaran sesat, membedakan dirinya dari kelompok kreasionis yang menafsirkan Kitab Suci secara harfiah.
Ajaran Katolik secara progresif menerima bahwa sains dan iman saling melengkapi, bukan bertentangan. Paus Pius XII pada tahun 1950, dalam ensiklik Humani Generis, telah membuka jalan dengan menyatakan bahwa pertanyaan mengenai asal usul tubuh manusia dari materi yang sudah ada sebelumnya adalah subjek yang sah bagi ilmu pengetahuan untuk diteliti.
Kebebasan berpendapat ini disertai dengan satu keyakinan fundamental: bahwa jiwa manusia diciptakan secara langsung oleh Tuhan. Sikap ini diperkuat secara signifikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1996, yang menyatakan bahwa teori evolusi “lebih dari sekadar hipotesis” dan harus diterima karena didukung oleh banyak bukti ilmiah.
Paus Fransiskus, kemudian, melengkapi pandangan ini dengan menyatakan bahwa “Evolusi di alam tidak bertentangan dengan gagasan penciptaan,” menegaskan bahwa evolusi adalah cara Tuhan yang bijaksana dalam menciptakan dunia dan proses kehidupan untuk berkembang.
Meskipun Gereja menerima evolusi tubuh, ia menarik batasan yang jelas. Tubuh manusia, menurut pandangan ini, memang dapat berevolusi dari materi yang telah ada melalui proses alamiah yang diarahkan oleh Tuhan, di mana Tuhan dipandang sebagai penyebab pertama yang menetapkan hukum evolusi itu sendiri.
Namun, Jiwa rohani (Imago Dei), yang merupakan sumber akal budi, kehendak bebas, dan moralitas, tidak mungkin berevolusi dari materi. Gereja secara konsisten mengajarkan bahwa jiwa adalah ciptaan langsung (immediate creation) oleh Allah, dianugerahkan pada titik tertentu dalam evolusi material ketika bentuk fisik manusia telah mencapai kematangan yang memadai.
Dalam kerangka Teisme Evolusioner, kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian dipahami sebagai alegori atau narasi simbolis yang mengajarkan kebenaran teologis yang mendalam—seperti Allah sebagai pencipta, manusia sebagai Imago Dei, dan asal mula Dosa Asal—bukan sebagai laporan ilmiah yang harus ditafsirkan secara harfiah.
Tuhan dipandang sebagai penyebab utama yang memulai dan membimbing proses evolusi, bukan sebagai figur yang turun tangan hanya untuk mengisi kekosongan ilmiah.
Namun demikian, opini ini juga menyoroti sejumlah keberatan yang mendasar terhadap Evolusi Makro—yaitu evolusi yang melintasi batas-batas spesies—baik dari perspektif filosofis maupun ilmiah.
Secara filosofis, terdapat pertentangan dengan prinsip akal sehat bahwa makhluk yang lebih rendah dapat naik menjadi makhluk yang lebih tinggi secara kebetulan semata, tanpa campur tangan kekuatan yang lebih tinggi.
Ini mengabaikan prinsip bahwa sesuatu tidak dapat memberikan apa yang tidak dimilikinya. Secara empiris, teori ini juga bertentangan dengan kenyataan bahwa spesies memiliki ciri-ciri khusus dan keterbatasan genetik yang membuat transformasi total (misalnya, tikus menjadi kucing) mustahil.
Lebih jauh, secara filosofis, menyamakan variasi biologis dengan ‘kesalahan’ kebetulan adalah seperti menganggap musik yang harmonis sebagai hasil dari ‘keributan’ belaka.
Dari segi ilmu pengetahuan, tantangan utama adalah bahwa spesies makhluk hidup di alam nyata menunjukkan keterbatasan genetik yang jelas, dan hingga saat ini, tidak ada bukti nyata tentang pembentukan spesies baru dari spesies lain yang mampu bertahan dan berkembang biak.
Selain itu, penemuan fosil tidak menunjukkan perubahan yang berangsur secara terus menerus. Yang ditemukan adalah bentuk yang stabil untuk jangka waktu yang lama, dan terdapat kesenjangan signifikan, atau missing links, yang seharusnya mudah ditemukan jika proses evolusi terjadi secara gradual dan memakan waktu yang sangat lama.
Kemudian, mutasi yang sering dijadikan bukti evolusi, umumnya menunjukkan pengurangan atau modifikasi organ yang sudah ada (regressive), dan tidak dapat menjelaskan penciptaan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada (progressive).
Pada dasarnya, para kritikus berpendapat bahwa Darwin hanya mengamati Evolusi Mikro (perubahan di dalam batas satu spesies), tetapi keliru menerapkannya sebagai rumusan untuk Evolusi Makro.
Sebagai penutup, Teori evolusi Darwin adalah tonggak penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Gereja Katolik secara progresif telah mengakui nilai ilmiahnya selama tidak menafikan peran Allah sebagai pencipta.
Dengan pandangan modern seperti Teisme Evolusioner, Gereja menegaskan bahwa iman dan akal budi adalah dua jalan yang saling melengkapi dalam mencari kebenaran.
Dialog antara sains dan iman ini harus terus dikembangkan agar keduanya dapat saling memperkaya dan menunjuk kepada kebenaran yang bersumber dari Yang Maha Tinggi.














