
NTT, Pena1NTT.com — Di usia senjanya, Nikolaus Newa (57), pria asal Desa Ola Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, nekat menempuh perjalanan panjang menyeberangi lautan menuju Kota Ambon. Harapannya sederhana: bertemu dengan perempuan yang ia kenal lewat media sosial Facebook, seseorang yang selama ini ia percaya bisa menjadi teman hidup di masa tuanya.
Namun, sesampainya di Pelabuhan Ambon, kenyataan pahit menyambutnya. Perempuan yang ia tuju justru memblokir akun Facebook-nya, meninggalkan Opa Nikolaus seorang diri di kota yang sama sekali tak ia kenal.
Tanpa sanak saudara, tanpa arah, lelaki yang akrab disapa Opa Nikolaus ini akhirnya ditemukan oleh warga asal NTT yang berdomisili di Ambon. Mereka menolongnya dengan tangan terbuka, memberi tempat tinggal sementara dan berusaha menghubungi keluarganya di Flores.
“Sekarang saudara-saudara kita di Ambon sedang berupaya agar Opa Nikolaus bisa segera dipulangkan ke Flores,” tutur seorang warga Kedang yang turut menolongnya.
Kisah Opa Nikolaus dengan cepat viral di media sosial, mengetuk hati banyak orang. Dalam foto-foto yang beredar, ia tampak duduk lelah di sebuah teras rumah, mengenakan pakaian sederhana, dengan tatapan kosong yang menyimpan rindu dan kecewa. Di sampingnya, beberapa warga tampak menenangkannya dengan penuh empati.
Kini, masyarakat NTT, terutama keluarga besar Desa Ola Lape, tengah berkoordinasi dengan kerabat di Ambon untuk memastikan penjemputan dan pemulangan Opa Nikolaus ke kampung halaman.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah duka seorang lansia yang tertipu harapan di dunia maya. Ia adalah cermin nyata tentang kerentanan manusia di era digital, ketika keinginan untuk dicintai bisa dengan mudah dimanfaatkan atau disalahpahami.
Opa Nikolaus mengajarkan kita bahwa cinta tak seharusnya membawa luka, dan media sosial — betapapun luasnya — tetap harus disikapi dengan hati-hati, terutama oleh mereka yang mudah percaya karena ketulusan.
Semoga langkah pulang Opa Nikolaus menjadi perjalanan menuju kedamaian — bukan sekadar kembali ke tanah kelahiran, tetapi juga kembali menemukan arti kehangatan manusia yang sesungguhnya.














