MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM – Kepedulian kemanusiaan terkadang harus melewati jalan yang tidak mudah. Ketika kendaraan tak lagi mampu menembus medan, langkah kaki dan tenaga kuda menjadi pilihan untuk memastikan bantuan tetap tiba di tangan warga terdampak gempa di pelosok Manggarai Timur.
Perjalanan itu dilakoni Doni Parera, Ketua LSM ILMU Kabupaten Manggarai Timur, bersama sejumlah relawan. Mereka menempuh perjalanan kurang lebih 20 jam menuju Dusun Kanun, Desa Golo Lebo, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak gempa bumi.
Bantuan yang dibawa rombongan tersebut merupakan bagian dari kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Doni menjelaskan, bantuan terlebih dahulu diambil dari Posko BNPB di Ronting sebelum dibawa menuju wilayah yang sulit dijangkau.
“Bantuan yang kami bawa ini kerja sama dengan BNPB. Kami mengambil barang dari Posko BNPB di Ronting. Setelah itu baru kami bawa ke tempat-tempat terpencil yang membutuhkan,” kata Doni Parera.
Sementara itu, rombongan berangkat dari Borong sekitar pukul 04.00 WITA. Sejumlah bantuan kemanusiaan dibawa dalam perjalanan yang melewati rute Borong–Ronting–Pota–Riung–Kurubhoko–Lindi–Lempang Paji–Kajuwangi hingga Golo Lebo.
Sejak awal perjalanan, medan yang dilalui sudah cukup berat. Jalan rusak, bebatuan, permukaan licin, serta tanjakan panjang membuat kendaraan harus bergerak perlahan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan yang membawa bantuan menuju masyarakat di wilayah terpencil.
“Perjalanan memang sangat berat. Medannya sulit dan cukup menguras tenaga. Namun, sejak awal kami sudah berkomitmen bahwa bantuan ini harus sampai kepada masyarakat,” ujar Doni.
Singgah di Kurubhoko
Perjalanan panjang membuat kondisi fisik para relawan dan kendaraan mulai terkuras. Rombongan kemudian singgah dan bermalam di Paroki Kurubhoko untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Di tempat tersebut, rombongan mendapat sambutan dari Pater Philips dan Pater Sulkarnain dari Ordo OFM. Dukungan sederhana berupa tempat beristirahat dan suasana kekeluargaan menjadi penyemangat bagi para relawan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Doni menyampaikan apresiasi kepada para Pater yang telah menerima rombongan dengan baik.
“Kami berterima kasih kepada para Pater yang sudah menerima kami. Dalam perjalanan pelayanan seperti ini, dukungan sederhana sangat berarti untuk menguatkan kembali semangat kami,” ujarnya.
Setelah beristirahat, rombongan kembali bergerak menuju Golo Lebo. Namun, perjalanan berikutnya justru menghadirkan tantangan yang lebih berat.
Kendaraan Mulai Bermasalah
Kondisi medan yang berat mulai berdampak terhadap kendaraan yang digunakan untuk membawa bantuan. Doni mengatakan, bagian kaki-kaki kendaraan mengalami masalah. Master kopling juga mengalami kebocoran, sementara ban belakang dalam kondisi aus.
Di sejumlah titik, ban kendaraan bahkan mengalami selip ketika melewati jalan berbatu dan tanjakan. Kondisi tersebut membuat perjalanan semakin lambat dan membutuhkan kehati-hatian ekstra.
Meski menghadapi persoalan teknis, rombongan tetap berusaha melanjutkan perjalanan. Bantuan yang telah diambil dari Posko BNPB di Ronting harus tetap dibawa menuju masyarakat yang menjadi tujuan.
“Kendaraan mengalami beberapa kendala, mulai dari kaki-kaki, master kopling yang bocor, sampai ban belakang yang sudah aus. Tetapi kami tetap berusaha agar bantuan bisa terus bergerak menuju masyarakat,” kata Doni.
Roda Berhenti, Kaki Mengambil Alih
Memasuki wilayah Dusun Kanun, kondisi jalan semakin sulit. Kendaraan akhirnya tidak mampu lagi menjangkau lokasi tujuan. Pada titik tersebut, bantuan diturunkan dari kendaraan. Para relawan kemudian membawa barang secara manual dengan berjalan kaki. Sebagian bantuan lainnya diangkut menggunakan kuda beban milik warga.
Peralihan dari kendaraan ke tenaga manusia dan kuda menunjukkan betapa beratnya akses menuju wilayah tersebut. Di tengah situasi bencana, kondisi geografis menjadi tantangan tambahan bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.
“Ketika kendaraan sudah tidak bisa masuk, bantuan kami turunkan. Sebagian dibawa dengan berjalan kaki dan sebagian menggunakan kuda warga. Memang melelahkan, tetapi tidak ada pilihan lain kalau ingin bantuan ini sampai,” tutur Doni.
Bagi rombongan, keterbatasan kendaraan bukan alasan untuk menghentikan perjalanan. Tujuan utama tetap sama, yakni memastikan bantuan yang telah dipercayakan kepada mereka diterima masyarakat.
Dari Posko BNPB Ronting ke Pelosok Kanun
Perjalanan bantuan dari Posko BNPB di Ronting hingga Dusun Kanun menjadi bagian penting dalam proses distribusi bantuan kepada warga terdampak bencana.
Doni mengatakan, keberadaan relawan di lapangan dibutuhkan untuk membantu menjangkau masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi terbatas.
“Kami berusaha menjadi jembatan antara pihak yang memberikan bantuan dan masyarakat yang membutuhkan. Yang paling penting bagi kami, bantuan itu benar-benar sampai kepada warga,” katanya.
Menurut Doni, tantangan distribusi bantuan tidak berhenti ketika barang tersedia di posko. Persoalan berikutnya adalah bagaimana bantuan tersebut dapat menjangkau warga yang berada jauh dari akses jalan utama.
Dusun Kanun menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan perjuangan lebih untuk ditempuh. Karena itu, perjalanan panjang Akhirnya tiba, setelah melewati perjalanan panjang selama kurang lebih 20 jam, bantuan akhirnya berhasil disalurkan kepada masyarakat Dusun Kanun.
Bagi para relawan, tibanya bantuan di tangan warga menjadi bagian paling penting dari seluruh perjalanan. Medan berat, kendaraan yang mengalami gangguan, serta kelelahan selama perjalanan terbayar ketika bantuan dapat diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
Doni menegaskan, perjuangan tersebut bukan untuk mencari pujian. Kehadiran relawan di lapangan semata-mata untuk memastikan bantuan yang dipercayakan dapat sampai kepada penerima.
“Bagi kami, bukan soal dipuji atau tidak. Yang penting bantuan yang sudah dipercayakan itu sampai kepada masyarakat. Kalau masyarakat terbantu, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi kami,” ujar Doni.
Ketika Kemanusiaan Tidak Mengenal Jalan Buntu
Perjalanan menuju Dusun Kanun menjadi gambaran bahwa kerja kemanusiaan tidak selalu berlangsung dalam situasi yang nyaman. Ada kalanya relawan harus berhadapan dengan jalan rusak, kendaraan yang bermasalah, serta medan yang memaksa mereka meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki.
Dari Posko BNPB di Ronting, bantuan dibawa menembus perjalanan panjang hingga ke wilayah terpencil. Ketika kendaraan tidak lagi mampu melaju, kaki manusia bergerak. Ketika tenaga manusia terbatas, kuda warga menjadi bagian dari perjuangan.
Semua dilakukan demi satu tujuan: memastikan masyarakat terdampak bencana tidak merasa ditinggalkan.
“Meski harus menempuh perjalanan berjam-jam, berjalan kaki, bahkan menggunakan kuda, selama masih ada masyarakat yang membutuhkan, kami akan berusaha hadir,” tutup Doni Parera.
Perjalanan itu mungkin akan berakhir ketika rombongan kembali meninggalkan Dusun Kanun. Kendaraan yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki dan rasa lelah perlahan akan hilang. Namun, bagi masyarakat yang menerima bantuan, kedatangan para relawan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berarti: sebuah pesan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi masa sulit setelah bencana.
Jarak boleh jauh. Medan boleh berat. Kendaraan boleh berhenti. Tetapi selama masih ada kepedulian, selalu ada jalan untuk menghadirkan kemanusiaan. Dari Dusun Kanun, kaki para relawan telah meninggalkan jejak. Bukan sekadar jejak perjalanan, melainkan jejak kepedulian kepada sesama.













