DPC GMNI Kupang Kembali Audiensi dengan UNWIRA, Dorong Kebijakan Kampus bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores

DPC GMNI Kupang Kembali Audiensi dengan UNWIRA, Dorong Kebijakan Kampus bagi Mahasiswa Terdampak Gempa Flores (Dok. PENA1NTT.COM)

KUPANG, PENA1NTT.COM — Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kupang kembali mendatangi perguruan tinggi di Kota Kupang untuk menyuarakan kondisi mahasiswa asal wilayah terdampak gempa bumi Flores.

DPC GMNI Kupang melakukan audiensi dengan pihak Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya GMNI mendorong perguruan tinggi mengambil kebijakan yang dapat membantu mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana, Pada Selasa (01/09/2026)

Sebelumnya, GMNI Kupang juga telah melakukan audiensi dengan pihak Universitas Muhammadiyah Kupang untuk membahas persoalan serupa.

Audiensi dengan UNWIRA berlangsung bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Katolik Widya Mandira, Dr. Yohanis Nurak Siwa, S.Pd., M.Pd.

Ketua DPC GMNI Kupang, Jacson Marcus, dalam pertemuan tersebut menyampaikan sejumlah aspirasi terkait kondisi mahasiswa UNWIRA yang berasal dari wilayah terdampak gempa.

Menurut GMNI Kupang, bencana gempa yang melanda sejumlah wilayah di Flores tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga membawa dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi keluarga mahasiswa.

Dampak tersebut pada akhirnya berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan mahasiswa yang sedang menempuh studi di Kota Kupang.

Mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana kini harus menghadapi berbagai persoalan. Kerusakan tempat tinggal, terganggunya aktivitas ekonomi keluarga, hingga kebutuhan untuk membantu orang tua dan keluarga di daerah asal menjadi persoalan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka sebagai mahasiswa.

Kondisi itu menjadi perhatian GMNI Kupang karena mahasiswa yang berada jauh dari lokasi bencana tetap merasakan dampaknya.

Mereka mungkin tidak berada di tengah reruntuhan atau lokasi pengungsian, tetapi tekanan akibat bencana dapat ikut terbawa ke ruang-ruang perkuliahan.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak dapat berubah secara drastis. Biaya tempat tinggal, makan, transportasi, hingga kebutuhan akademik yang sebelumnya dapat dipenuhi, bisa menjadi beban baru ketika sumber pendapatan keluarga terdampak bencana.

Karena itu, GMNI Kupang mendorong agar kampus memiliki kebijakan yang berpihak kepada mahasiswa terdampak, terutama mereka yang mengalami kesulitan akibat kondisi keluarga pascagempa.

Bagi GMNI, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut bantuan material. Yang lebih penting adalah memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus berhadapan dengan tekanan ekonomi keluarga yang semakin berat akibat bencana.

Audiensi tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kondisi riil yang dihadapi mahasiswa asal Flores di perantauan.

Bencana yang terjadi di daerah asal secara tidak langsung menciptakan persoalan baru di lingkungan pendidikan. Ketika keluarga kehilangan tempat tinggal, pekerjaan atau sumber pendapatan, mahasiswa di Kota Kupang berada pada posisi yang tidak mudah.

Mereka harus memilih antara tetap fokus menjalani perkuliahan atau memikirkan kondisi keluarga yang sedang menghadapi situasi darurat.

GMNI Kupang berharap perguruan tinggi tidak melihat persoalan mahasiswa terdampak gempa hanya sebagai persoalan individu atau keluarga.

Menurut organisasi mahasiswa tersebut, kampus juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan bencana tidak menjadi alasan seorang mahasiswa kehilangan kesempatan menyelesaikan pendidikannya.

Audiensi dengan UNWIRA menjadi langkah lanjutan DPC GMNI Kupang dalam membangun komunikasi dengan perguruan tinggi di Kota Kupang.

Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi Flores yang masih berupaya memulihkan diri dari dampak gempa.

GMNI Kupang menilai, perhatian terhadap mahasiswa terdampak harus menjadi bagian dari respons pendidikan terhadap bencana.

Sebab, ketika rumah rusak dan ekonomi keluarga terguncang, persoalan berikutnya bukan hanya bagaimana masyarakat kembali membangun tempat tinggal, tetapi juga bagaimana anak-anak mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Bagi mahasiswa asal Flores yang sedang menempuh pendidikan di Kota Kupang, keberlanjutan kuliah menjadi bagian penting dari harapan keluarga mereka untuk bangkit setelah bencana.

Audiensi tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi lahirnya kebijakan kampus yang lebih responsif terhadap kondisi mahasiswa yang keluarganya terdampak gempa.

DPC GMNI Kupang pun terus mendorong agar suara mahasiswa dari wilayah terdampak tidak berhenti pada ruang-ruang audiensi, tetapi diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang dapat meringankan beban mereka.

Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *