Kisah Haru di Manggarai Timur: Astika, Istri Sekda Winsensius Tala, Peluk dan Merawat Bayi Piatu Korban Gempa

Kisah Haru di Manggarai Timur: Astika, Istri Sekda Winsensius Tala, Peluk dan Merawat Bayi Piatu Korban Gempa (Dok. Pena1ntt.com)

MANGGARAI TIMUR, PENA1NTT.COM — Di balik tanah yang retak dan puing-puing bangunan yang tersisa akibat gempa bumi di Manggarai Timur, sebuah tangisan bayi membubung ke udara. Tangisan itu melambangkan kehidupan baru, namun sekaligus mengalirkan duka yang begitu menghujam dada. Seorang bayi perempuan meluncur ke dunia tanpa pernah berkesempatan menatap garis wajah ibunya, apalagi merasakan kehangatan dekapan pertamanya.

Selviana Tijung (31), seorang ibu muda asal Kampung Inahasa, Dusun Watu Hedok, Desa Satar Punda Barat, menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Borong pada Minggu pagi (30/8/2026).

Perjuangannya melahirkan sang buah hati melalui operasi caesar menjadi titik akhir pengabdiannya di dunia. Rumah tinggalnya yang telah luruh diguncang gempa memaksa Selviana melewati masa kehamilan tua di tempat pengungsian, hingga kondisi kehamilannya memburuk dan memicu tindakan medis darurat.

Kepergian Selviana meninggalkan luka yang amat dalam bagi sang suami, Petrus Forfier Insano (37). Di tengah trauma gempa dan tenda pengungsian yang serba terbatas, Petrus harus meratapi kepergian pelipur sebaya hidupnya, sembari memikirkan nasib dua anaknya yang masih balita serta bayi mungilnya yang baru saja lahir.

Namun, di tengah pekatnya duka bencana, kemanusiaan menunjukkan wajah terindah. Ibu Astika, istri dari Sekretaris Daerah Manggarai Timur Winsensius Tala, tergerak hatinya untuk hadir memeluk sang bayi yang kehilangan tempat bernaung. Atas izin dari sang ayah, bayi mungil tersebut kini dibawa dan dirawat penuh kasih sayang di kediaman pribadi keluarga Sekda di Borong.

Di rumah tinggalnya, Astika memandikan, mengenakan pakaian hangat, hingga menimang sang bayi melewati malam-malam pertama kehidupannya. Bayi tersebut tak lagi kedinginan di pengungsian; ia terjaga dalam dekapan yang tulus.

Dengan nada suara yang bergetar menahan haru, Astika menceritakan alasan di balik ketulusan keluarganya mengambil alih perawatan sementara sang bayi:

“Bayi ini sudah ditinggal mamanya saat melahirkan. Sementara bapaknya harus kembali ke tempat pengungsian karena ada dua kakak bayi yang masih kecil-kecil yang harus dijaga. Kondisi keluarga sangat memprihatinkan, apalagi kita masih dalam keadaan siaga bencana gempa bumi. Dari kedua belah pihak orang tua juga sudah tidak ada.”ujar Astika

“Maksud kami hanya ingin memberikan tempat yang aman dan nyaman untuk dede bayi ini, supaya dia terjaga. Kami menyisihkan sedikit waktu dan kemampuan untuk memenuhi seluruh perlengkapan dan kebutuhannya. Sampai pada saatnya nanti, jika bapaknya sudah siap secara mental dan keadaan untuk mengambilnya kembali, kami dengan penuh sukacita akan menyerahkannya.”lanjutnya.

Sementara itu,jenazah almarhumah Selviana dipulangkan ke kampung halaman untuk diistirahatkan dengan tenang di tanah kelahirannya, bayi perempuan yang belum sempat diberi nama itu kini beristirahat nyaman dalam kehangatan keluarga baru yang merawatnya seperti anak sendiri.

Kisah dari Borong ini menjadi pengingat bagi kita semua: meski gempa bumi sanggup merubuhkan tembok rumah dan merenggut nyawa tercinta, bencana tersebut tidak akan pernah sanggup meruntuhkan empati, ketulusan, dan cinta kasih antarsesama manusia.

Di antara duka Flores yang belum usai, ada doa-doa yang terus melayang malam ini agar sang bayi tumbuh kuat, dan agar ketulusan hati yang memeluknya menjadi peneduh di tengah badai ujian.

Penulis: Dion Damba Editor: Irenius Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *