BORONG, PENA1NTT.COM — Langkah kaki Wakil Bupati Manggarai Timur, Tarsisius Sjyukur, mendadak terasa kian berat saat menelusuri jalanan Desa Waling, Kecamatan Borong. Di sela-sela kesibukannya memimpin penyaluran bantuan sembako dan logistik tanggap darurat untuk warga terdampak gempa bumi, Tarsisius menyempatkan diri menghentikan rombongan. Ada satu tempat yang wajib ia kunjungi sebelum melangkah lebih jauh: rumah duka salah seorang warga yang gugur menjadi korban jiwa dalam musibah gempa tersebut.
Suasana hening dan diselimuti duka mendalam menyambut kedatangan jajaran Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur. Isak tangis keluarga pecah seketika saat Wabup Tarsisius melangkahkan kaki memasuki rumah duka. Di ruang tergelap bagi keluarga yang ditinggalkan itu, tidak ada sekat antara seorang pejabat daerah dan rakyatnya.
Dengan mata berkaca-kaca dan rasa belasungkawa yang sangat mendalam, Tarsisius merangkul erat tubuh anggota keluarga almarhum/almarhumah yang masih terguncang oleh kepedihan. Dalam pelukan hangat yang bergetar itu, ia menyalurkan kekuatan, menyerap rasa sakit yang dirasakan keluarga, dan membisikkan doa-doa penguat jiwa.
“Atas nama pribadi, keluarga, dan seluruh Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, kami menyampaikan duka cita yang paling dalam. Kami hadir di sini untuk menegaskan bahwa Bapak, Ibu, dan keluarga sekalian tidak sendirian menanggung duka yang berat ini. Duka ini adalah duka kita bersama, duka seluruh masyarakat Manggarai Timur,” ucap Tarsisius dengan nada suara yang tertahan menahan haru.
Kehadiran Wakil Bupati bersama rombongan lintas sektor (Dinas PMD, BPBD, Camat Borong, Kesbangpol, Dinas Peternakan, dan Dinas PPO) di rumah duka memberikan penghiburan nyata. Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh dan duka cita kehilangan jiwa, kepedulian pemerintah hadir langsung merengkuh luka warga yang paling dalam.
Sebelum melanjutkan agenda peninjauan dan penyaluran bantuan ke lokasi lain, Wabup Tarsisius memimpin doa bersama di samping kuburan korban. Ia mengimbau kepada segenap perangkat desa dan masyarakat setempat untuk terus menjaga semangat gotong royong, saling menguatkan, dan memastikan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan perhatian serta pendampingan moral secara berkelanjutan.
Kehadiran fisik dan empati yang tulus dari pimpinan daerah ini menjadi bukti nyata bahwa di atas puing-puing musibah yang melanda, rasa kemanusiaan dan ikatan persaudaraan di Manggarai Timur tetap berdiri kokoh dan tak tergoyahkan.













