Dirilis oleh: Bonaventura Erwin Dhadjo
ENDE, PENA1NTT.COM – Gereja Paroki Santa Maria Worhonio di Kabupaten Ende berdiri sebagai simbol nyata perjalanan iman umat Katolik yang berakar kuat di wilayah tersebut.
Kehadiran gereja ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah masuk dan berkembangnya agama Katolik di Flores, yang dikenal sebagai salah satu basis utama penyebaran iman di Indonesia bagian timur.
Penyebaran ini dimulai sejak kedatangan para misionaris Eropa, terutama dari Serikat Sabda Allah (SVD), pada akhir abad ke-19.
Melalui karya misi yang berkesinambungan, iman Katolik perlahan berakar dan bertumbuh dalam kehidupan masyarakat lokal, termasuk di Worhonio.
Perjalanan dari Bangunan Darurat Menuju Gereja Permanen
Pada masa-masa awal, umat Katolik di Worhonio belum memiliki gereja permanen. Kegiatan ibadat dan pembinaan iman saat itu dilakukan secara sederhana, sering kali di rumah-rumah umat atau di bangunan darurat yang disiapkan bersama.
Meskipun berada dalam situasi keterbatasan, semangat umat untuk mempertahankan dan menghayati iman Katolik tetap kuat.
Kehadiran para imam misionaris, katekis, dan tenaga pastoral lokal menjadi faktor penting dalam menanamkan ajaran Gereja dan membangun komunitas umat yang solid.
Seiring bertambahnya jumlah umat dan meningkatnya kebutuhan akan pusat ibadat yang layak, muncullah kesadaran bersama untuk membangun sebuah gereja.
Atas dasar iman dan semangat gotong royong, umat Worhonio bersama para pemimpin Gereja setempat mulai merintis pendirian gereja yang kemudian diberi nama Gereja Santa Maria Worhonio.
Devosi kepada Bunda Maria dan Peran Ganda Gereja
Pemilihan Santa Maria sebagai pelindung gereja mencerminkan kuatnya devosi umat kepada Bunda Maria, yang dipandang sebagai teladan iman, ketaatan, dan kasih.
Devosi kepada Bunda Maria menjadi ciri khas kehidupan rohani umat Worhonio. Hal ini tampak dalam praktik-praktik doa seperti Rosario bersama, perayaan bulan Maria, serta berbagai kegiatan liturgi dan devosi lainnya yang melibatkan seluruh lapisan umat.
Bunda Maria dipahami bukan hanya sebagai figur religius, tetapi juga sebagai ibu rohani yang dekat dengan pergumulan hidup masyarakat.
Dalam perkembangannya, Gereja Santa Maria Worhonio tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadat, tetapi juga sebagai pusat pembinaan iman dan kehidupan sosial umat.
Gereja ini menjadi ruang perjumpaan, pendidikan nilai-nilai Kristiani, serta sarana memperkuat persaudaraan di antara umat. Berbagai kelompok kategorial seperti lingkungan, kaum muda, dan ibu-ibu gereja berperan aktif dalam mendukung kegiatan pastoral dan sosial.
Gereja ini juga berperan sebagai simpul sosial-budaya, tempat bertemunya nilai iman Katolik dan tradisi lokal Ende.
Dengan bernaung di bawah Keuskupan Agung Ende, Gereja Santa Maria Worhonio terus menjalankan perannya sebagai terang dan garam bagi masyarakat sekitarnya.














