MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Menapaki usia ke-56 tahun, SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng kian memperkokoh eksistensinya sebagai pilar pendidikan di tanah Manggarai.
Sebagai sekolah swasta tertua di ujung barat Flores yang berdiri sejak 1970, lembaga ini telah bertransformasi menjadi mercusuar pendidikan Katolik yang disegani.
Berbekal status Akreditasi A, sekolah ini membuktikan kematangan usia yang berjalan selaras dengan keunggulan mutu dalam mengasuh 571 siswa yang kini tengah menatap masa depan.
Dedikasi Tenaga Pendidik dan Tradisi Juara
Keberhasilan lembaga ini berdiri tegak di tengah persaingan zaman tidak lepas dari dedikasi kolektif 51 personel yang terdiri atas 42 tenaga pendidik dan 9 staf tata usaha.
Kepala Sekolah, Fransiskus Rodriques Rusman, menegaskan bahwa pencapaian sekolah hari ini merupakan buah dari sinergi harmonis antara pihak sekolah, Yayasan Pendidikan Nuca Lale, serta dukungan tanpa henti dari pengawas pendamping dan komite sekolah.
Atas dedikasi tersebut, Fransiskus menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus permohonan maaf yang tulus kepada seluruh orang tua siswa atas segala dinamika dan kekurangan dalam pelayanan selama proses pendidikan berlangsung.
“Meskipun tantangan zaman terus berubah, semangat kami untuk melayani dan membentuk pribadi siswa tetap menjadi prioritas utama. Segala pencapaian yang ada merupakan hasil kerja keras bersama yang berakar pada ketulusan hati para pengajar,” ungkap Fransiskus saat kegiatan pengumuman kelulusan tahun ajaran 2025/2026, Senin (04/05/2026).
Baca Juga: Panen Prestasi, SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Raih Juara Kompetisi Lokal Hingga Nasional
Kebijakan Afirmatif dan Kepedulian Sosial
Menyongsong periode pendaftaran siswa baru pada Juni mendatang, SMAK St. Thomas Aquinas meluncurkan kebijakan afirmatif yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Fransiskus menekankan pentingnya kehadiran sekolah sebagai pelipur lara bagi siswa yang kehilangan sandaran orang tua melalui kebijakan konkret berupa pemotongan biaya pendidikan yang signifikan.
Bagi peserta didik yatim atau piatu, sekolah memberikan potongan biaya sebesar Rp600.000.
Sementara itu, bagi siswa yatim-piatu, diberikan potongan lebih besar senilai Rp1.500.000 sebagai jaminan agar mereka dapat tetap fokus belajar tanpa terbebani persoalan finansial.
Kepedulian ini diperkuat dengan komitmen sekolah untuk menempatkan mereka dalam skala prioritas utama untuk mengakses beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP).
“Tidak boleh ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena kehilangan orang tua. Kami ingin mereka fokus meraih mimpi tanpa perlu mencemaskan beban biaya,” tegas Fransiskus.
Baca Juga: SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng Rayakan Sumpah Pemuda dalam Semangat Kebhinekaan
Investasi Prestasi dan Sinergi Yayasan
Selain aspek sosial, sekolah mengukuhkan diri sebagai lumbung prestasi melalui skema apresiasi yang kompetitif.
Gairah kompetisi siswa dipacu dengan kebijakan pembebasan biaya pendidikan bagi peraih kejuaraan di tingkat nasional.
Skema ini diatur secara berjenjang, pembebasan biaya selama tiga tahun bagi juara pertama, dua tahun untuk juara kedua, dan satu tahun untuk juara ketiga.
Bagi pihak sekolah, kebijakan ini merupakan bentuk investasi dan penghormatan terhadap integritas serta kerja keras para juara.
Sinergi ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan Nuca Lale. Melalui perwakilannya, Stef Keboro, yayasan mempertegas komitmen bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara yang wajib dijamin.
Stef menitipkan pesan mendalam kepada para siswa agar senantiasa menjaga kepercayaan besar dari orang tua sebagai modal berharga di masa depan.
“Yayasan berkomitmen untuk terus memacu daya saing ini agar lulusan kita tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan karakter,” jelas Stef.
Testimoni Orang Tua dan Kebanggaan Siswa
Dukungan tersebut diamini oleh Petrus Agung sebagai perwakilan orang tua siswa yang menyatakan kebanggaannya atas transformasi karakter anak-anak mereka selama ditempa di sekolah ini.
Baginya, Aquinas telah berhasil menjalankan fungsinya sebagai rumah kedua yang tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghaluskan budi pekerti.
“SMAK St. Thomas Aquinas benar-benar menjadi rumah kedua yang memberikan rasa aman bagi masa depan anak kami,” ujar Petrus.
Senada dengan itu, Margareta Lisa Agustin selaku perwakilan siswa menekankan bahwa identitas sebagai siswa Aquinas adalah kebanggaan abadi.
Ia menyebut sekolah ini telah memberikan pelajaran berharga bahwa kemenangan sejati lahir dari perpaduan antara kerja keras dan integritas moral yang kokoh.
“Di sini kami belajar bahwa untuk menjadi juara, kerja keras saja tidak cukup. Terima kasih untuk para guru yang tidak pernah menyerah dan selalu setia mendampingi kami,” tutur Margareta.
Kini, dengan perpaduan sejarah panjang, akreditasi unggul, dan kebijakan inklusif, SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng tetap menjadi pilihan utama.
Pendaftaran siswa baru yang dibuka mulai Juni 2026 menjadi gerbang bagi calon pemenang masa depan untuk bergabung dalam ekosistem pendidikan yang mengharmonikan prestasi dan nilai-nilai kemanusiaan.













