Berita  

Gigih” Diluncurkan di Manggarai Timur, Nardi Jaya: Ini Bukan Sekadar Biografi, tetapi Jejak Pengabdian yang Tulus

Gigih” Diluncurkan di Manggarai Timur, Nardi Jaya: Ini Bukan Sekadar Biografi, tetapi Jejak Pengabdian yang Tulus(PENA1NTT/Ril Minggu)

PENA1NTT – Peluncuran buku Gigih (Sebuah Catatan Pengabdian) berlangsung penuh makna dan menjadi ruang refleksi tentang pengabdian, keteladanan, serta nilai-nilai pelayanan publik di Kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan tersebut turut dihadiri berbagai tokoh pendidikan, pemerintahan, dan pegiat literasi.

Dalam sambutannya, penulis sekaligus editor buku, Nardi Jaya, menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Daerah Manggarai Timur dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Manggarai Timur yang telah menyediakan ruang intelektual bagi lahirnya diskusi dan refleksi melalui karya literasi.

“Terima kasih yang setulus-tulusnya saya sampaikan kepada Sekretaris Daerah Manggarai Timur dan Dinas PPO Manggarai Timur yang telah menyediakan panggung terhormat ini sebagai ruang perjumpaan intelektual, tempat gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai pengabdian saling bertemu dan dikuatkan,” ujar Nardi.

Menurutnya, setiap buku lahir dari perjalanan hidup yang tidak selalu dimulai dari keinginan untuk dikenang. Hal itulah yang ia temukan ketika pertama kali menawarkan gagasan penulisan biografi kepada Ir. Boni Hasudungan Siregar.

Nardi mengisahkan, dalam pertemuan pertama mereka, Boni Siregar sempat menolak secara halus gagasan tersebut. Dengan rendah hati, mantan Sekretaris Daerah dan Penjabat Bupati itu merasa dirinya belum layak untuk dibukukan.

“Saya rasa belum pantas kalau kisah saya dibukukan,” kenang Nardi mengutip pernyataan Boni kala itu.

Bagi Nardi, penolakan tersebut justru menunjukkan karakter seorang pemimpin yang lebih memilih bekerja dalam kesunyian pengabdian dibanding tampil mencari penghormatan. Sikap itu dinilainya semakin langka di tengah kehidupan publik saat ini.

Namun, arah pembicaraan keduanya berubah ketika Nardi kembali menemui Boni Siregar untuk meminta tulisan sambutan bagi buku keduanya yang berjudul Polisi Humanis. Dari pertemuan itulah lahir kesepakatan baru Boni Siregar bersedia menulis sendiri perjalanan hidup dan pengabdiannya, sementara Nardi berperan sebagai editor.

Nardi mengaku sempat merasa ragu menyunting karya seorang pejabat publik senior. Namun seiring proses berjalan, ia melihat pengalaman tersebut sebagai sebuah kehormatan sekaligus ruang pembelajaran tentang kesederhanaan, ketegasan, dan pengabdian yang tulus.

Ia juga mengungkapkan bahwa sosok Boni Siregar tidak hanya dikenalnya melalui percakapan pribadi, tetapi juga melalui tulisan-tulisan reflektif yang kerap dibagikan di media sosial. Menurutnya, buku Gigih menjadi rangkaian utuh dari jejak pemikiran dan perjalanan pengabdian yang selama ini tersebar dalam berbagai catatan.

“Buku ini bukan sekadar biografi, tetapi potret perjalanan seorang anak bangsa yang memilih jalan pengabdian. Dari Palembang hingga Manggarai Timur, dari masa muda di Viqueque hingga amanah besar sebagai Penjabat Bupati, semuanya menghadirkan pesan bahwa jabatan adalah tanggung jawab untuk melayani,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Nardi juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah pihak yang selama ini ikut menumbuhkan budaya literasi dan ruang belajar bersama di Manggarai Timur, di antaranya Romo Manfred, Dr. Manto Tapung, Om Kris, dan Om Kanis melalui Perpustakaan Pribadi di Golo Karot.

Peluncuran buku Gigih tidak hanya menjadi momentum literasi, tetapi juga pengingat bahwa pengabdian sejati sering lahir dalam kesederhanaan dan ketulusan.

“Setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tulus akan meninggalkan jejak yang bermakna. Dari jejak-jejak itulah masa depan dibangun, dengan kesederhanaan, keteguhan, dan hati yang terus mau melayani,” tutup Nardi Jaya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *