MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di tengah era ketika layar gawai menjadi jendela utama dunia, batas geografis tak lagi menjadi penghalang bagi keindahan daerah untuk dikenal luas.
Menyadari perubahan perilaku global tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai melakukan transformasi signifikan dalam strategi promosi pariwisata dengan mengalihkan fokus ke ekosistem digital selama lima tahun terakhir.
Transformasi ini tidak sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi langkah strategis untuk menangkap peluang pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) yang kini semakin diminati wisatawan.
Hal tersebut disampaikan oleh Albina Jetia Durtin, SE, salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pariwisata Manggarai saat ditemui dalam wawancara di kantor dinas pada 15 Juni lalu.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Pariwisata Manggarai mengoptimalkan berbagai platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, dan TikTok sebagai etalase utama promosi visual.
Beragam agenda besar daerah, termasuk Festival Golo Curu yang mengangkat kolaborasi nilai religi dan budaya, dipublikasikan melalui konten video pendek sinematik di Reels dan TikTok.
“Melalui ruang digital ini, pesona budaya serta keharmonisan hidup masyarakat Manggarai tidak lagi terbatas pada konsumsi lokal, melainkan menjelma menjadi undangan terbuka bagi wisatawan dunia,” ujar Albina.
Untuk memperkuat ketertarikan visual tersebut dengan informasi yang mendalam, Dinas Pariwisata Manggarai juga meluncurkan website resmi Manggarai Official serta aplikasi mobile J-Tourism.
Aplikasi ini dirancang sebagai pusat informasi pariwisata digital sekaligus ekosistem promosi inklusif bagi pelaku usaha lokal.
Melalui J-Tourism, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di desa-desa wisata diberi ruang untuk memperkenalkan keunikan daerah mereka, sementara pemilik penginapan, pemandu wisata, hingga perajin kain tenun songke dapat mempromosikan layanan mereka secara langsung kepada wisatawan.
Lanjut dijelaskan Albina, strategi promosi digital tersebut disusun berdasarkan analisis data perilaku pengguna internet, seperti pemantauan tagar populer dan destinasi yang sedang tren.
Berdasarkan temuan tersebut, Dinas Pariwisata Manggarai bersama kalangan akademisi merumuskan tagline “Manggarai, Land of Harmony” yang menyasar wisatawan pencari keseimbangan antara alam, budaya, dan ketenangan spiritual.
“Guna menjaga keberlanjutan ide dan konten kreatif yang relevan dengan generasi muda, pemerintah daerah juga menjalin kolaborasi dengan komunitas fotografer lokal serta mahasiswa dan dosen dari UNIKA Santu Paulus Ruteng,” tambahnya.
Meski demikian, upaya digitalisasi pariwisata ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan jaringan internet di beberapa destinasi wisata alam yang berada di wilayah terpencil, sehingga menyulitkan pembaruan konten secara real-time.
Selain itu, kebutuhan akan tenaga ahli dan kreator konten yang konsisten serta memiliki keterampilan digital yang mumpuni juga menjadi tantangan tersendiri.
Walau dihadapkan pada berbagai keterbatasan, evaluasi berbasis matriks keterlibatan pengguna (user engagement) menunjukkan hasil yang positif.
Indikator seperti jumlah penayangan konten, peningkatan kunjungan website, serta total unduhan aplikasi J-Tourism terus mengalami tren kenaikan.
Dampak digital tersebut turut tercermin di lapangan melalui meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara di berbagai pintu masuk utama Kabupaten Manggarai.
Pada akhirnya, keterbukaan informasi berbasis digital ini dinilai berhasil mendemokratisasi pariwisata daerah.
“Perhatian wisatawan kini tidak lagi terpusat pada destinasi arus utama saja, tetapi mulai mengarah pada potensi desa-desa wisata baru yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai,” pungkas Albina
Catatan Redaksi: Berita ini merupakan liputan mandiri yang dilakukan oleh Kristina Thesa Inat, Maria Astika Pinas, Viktoriana Nganur, dan Gisela Ivanti Seliman













