Purisari Hotel Buka Suara Soal Dugaan Eksploitasi Siswa PKL, Sampaikan 9 Poin Klarifikasi

Purisari Hotel Buka Suara Soal Dugaan Eksploitasi Siswa PKL, Sampaikan 9 Poin Klarifikasi

LABUAN BAJO – Polemik dugaan eksploitasi terhadap siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu hotel di Labuan Bajo terus menjadi perhatian publik. Menyusul pemberitaan media Floresa berjudul “Pelajar PKL yang ‘Dieksploitasi’ Hotel-Hotel di Labuan Bajo: ‘Kami Ini Seperti Staf, Bedanya Staf Itu Digaji'”, manajemen Purisari Hotel Labuan Bajo akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui hak jawab.

Hak jawab tersebut dikirimkan ke redaksi Floresa melalui surat elektronik pada Jumat (3/7/2026) malam. Namun hingga Sabtu (4/7/2026), manajemen mengaku hak jawab tersebut belum dipublikasikan. Karena itu, pihak hotel menyampaikan penjelasan kepada Media agar masyarakat memperoleh informasi secara utuh dan berimbang.

Perwakilan manajemen Purisari Hotel, Sigit, mengatakan pihaknya tidak menutup diri terhadap kritik dan evaluasi. Namun, menurutnya, informasi yang berkembang di ruang publik perlu dilengkapi dengan penjelasan dari pihak hotel.

“Kami memahami bahwa setiap masukan perlu didengarkan. Kami juga tidak pernah menutup diri dari kritik karena kami percaya setiap proses pasti memiliki ruang untuk diperbaiki. Namun kami merasa perlu menyampaikan penjelasan ini agar informasi yang diterima masyarakat tidak hanya dipahami dari satu sisi saja,” ujar Sigit.

Ia menuturkan, polemik tersebut tidak hanya berdampak pada nama baik perusahaan, tetapi juga menyentuh para supervisor, pembimbing, karyawan, hingga para siswa vokasi yang selama ini mengikuti program pembelajaran di Purisari Hotel.

Menurutnya, sejak awal program PKL dirancang sebagai bagian dari pendidikan vokasi yang bertujuan membentuk karakter, disiplin, etika kerja, serta meningkatkan kompetensi siswa, bukan untuk menggantikan tenaga kerja maupun mengeksploitasi peserta pelatihan.

Untuk meluruskan berbagai informasi yang beredar, Purisari Hotel memaparkan sembilan poin klarifikasi.

1. Siswa PKL Tetap Mendapat Hari Libur

Manajemen membantah informasi yang menyebut peserta PKL bekerja tanpa hari libur.

Menurut mereka, pada minggu pertama peserta memang menjalani masa orientasi selama tujuh hari berturut-turut sebagai bagian dari pengenalan budaya kerja hotel. Setelah masa orientasi selesai, setiap peserta memperoleh satu hari libur setiap minggu.

Pihak hotel mengaku memiliki data absensi berbasis fingerprint yang dapat menunjukkan jadwal kehadiran maupun hari libur seluruh peserta.

2. Siswa PKL Tidak Menggantikan Karyawan Tetap

Purisari Hotel juga membantah anggapan bahwa siswa PKL dijadikan pengganti tenaga kerja tetap.

Manajemen menjelaskan bahwa divisi Housekeeping tetap diisi oleh karyawan tetap. Beberapa pegawai hanya diperbantukan ke divisi lain agar peserta PKL memperoleh kesempatan belajar yang lebih luas.

Seluruh aktivitas trainee, kata mereka, tetap berada di bawah pengawasan supervisor sehingga tidak ada peserta yang bekerja tanpa pendampingan.

3. Peserta Mendapat Uang Saku dan Insentif

Menurut pihak hotel, seluruh peserta PKL menerima uang saku selama menjalani program.

Selain itu, peserta yang masuk dalam peringkat satu hingga sepuluh berdasarkan hasil evaluasi memperoleh insentif tambahan sebagai bentuk apresiasi atas kedisiplinan dan prestasi mereka.

Manajemen menyebut sistem tersebut diterapkan untuk membangun motivasi sekaligus semangat berkompetisi secara sehat.

4. Sistem Penalti untuk Pembinaan Disiplin

Terkait sorotan mengenai sistem penalti, Purisari Hotel menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari pembinaan karakter dan kedisiplinan.

Penalti hanya diberikan terhadap pelanggaran tertentu, seperti keterlambatan masuk kerja, dan tidak diterapkan secara sembarangan.

Menurut mereka, banyak peserta yang menyelesaikan masa PKL tanpa pernah dikenai penalti karena mematuhi seluruh aturan yang berlaku.

5. Data Fingerprint Menjadi Bukti

Pihak hotel kembali menegaskan bahwa informasi mengenai siswa yang tidak memperoleh hari libur tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Seluruh jadwal kerja dan kehadiran peserta, kata mereka, tercatat dalam sistem fingerprint sehingga dapat diverifikasi sewaktu-waktu.

6. Larangan Menggunakan Handphone Demi Pembentukan Karakter 

Manajemen menjelaskan bahwa larangan menggunakan telepon genggam selama jam kerja bukan bertujuan membatasi siswa.

Aturan tersebut diterapkan agar peserta lebih fokus mengikuti proses pembelajaran sekaligus memahami budaya kerja profesional di industri perhotelan.

“Kami percaya kedisiplinan kecil seperti ini merupakan bagian dari pembentukan karakter kerja,” tulis manajemen dalam hak jawabnya.

7. Izin Sakit Wajib Disertai Surat Dokter

Pihak hotel juga menjelaskan bahwa ketentuan melampirkan surat keterangan dokter tidak hanya berlaku bagi peserta PKL, tetapi juga bagi seluruh karyawan.

Menurut mereka, aturan tersebut dibuat agar izin sakit memiliki dasar yang jelas dan menghindari penyalahgunaan.

8. Trainee Tidak Pernah Dijadwalkan Midnight Shift

Purisari Hotel turut membantah informasi yang menyebut siswa PKL bekerja hingga tengah malam.

Manajemen menjelaskan bahwa jadwal kerja memang dapat berubah sesuai kebutuhan operasional maupun proses pembelajaran. Namun trainee tidak pernah ditempatkan pada midnight shift.

“Jadwal kerja paling malam hanya sampai pukul 22.00 WITA,” jelas pihak hotel.

9. Klarifikasi Soal Sepuluh Orang yang Keluar dari Hotel

Menanggapi informasi mengenai sekitar sepuluh orang yang disebut keluar dari Purisari Hotel, manajemen menjelaskan bahwa mereka bukan karyawan tetap, melainkan apprentice atau alumni PKL yang bekerja dengan masa kontrak maksimal satu tahun sebelum melanjutkan pendidikan.

Selama menjadi apprentice, mereka menerima gaji dan service charge sebagaimana karyawan lainnya.

Bahkan, menurut pihak hotel, sebagian dari mereka memperoleh bantuan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Bali. Bantuan tersebut meliputi pendampingan administrasi, tiket pesawat, hingga biaya akomodasi selama proses penerimaan.

Pihak hotel berharap para penerima beasiswa tersebut dapat kembali ke Flores setelah menyelesaikan pendidikan untuk mengabdikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh.

Berharap Penilaian yang Berimbang

Di bagian akhir hak jawabnya, Purisari Hotel menyatakan keberatan apabila seluruh program PKL yang selama ini dijalankan hanya dipandang dari sisi negatif.

Menurut manajemen, seluruh ketentuan mengenai uang saku, insentif, jadwal kerja, tata tertib, hingga mekanisme pembinaan telah disosialisasikan sejak awal kepada sekolah, guru pembimbing, siswa, maupun pihak hotel.

Program tersebut juga disebut telah disusun dengan mengacu pada penyelarasan kurikulum pendidikan vokasi yang mencakup task skills, task management skills, contingency management skills, job/role environment skills, serta transfer skills, sehingga proses pembelajaran dirancang sedekat mungkin dengan kondisi dunia kerja yang sesungguhnya.

“Kami tidak pernah mengatakan bahwa kami sempurna. Kami juga tidak menutup mata bahwa mungkin masih ada hal-hal yang perlu kami perbaiki. Namun kami berharap agar kami tidak langsung ditempatkan sebagai pihak yang mengeksploitasi siswa PKL sebelum seluruh cerita didengar secara lengkap dan berimbang,” tegas manajemen.

Purisari Hotel menegaskan tetap terbuka terhadap kritik dan evaluasi. Di sisi lain, manajemen berharap masyarakat juga melihat berbagai upaya yang telah dilakukan hotel dalam mendukung pendidikan vokasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal, serta membuka kesempatan bagi putra-putri Flores untuk memperoleh pengalaman kerja, membangun karakter, dan melanjutkan pendidikan.

 

Penulis: Irenius Putra Editor: Tim Editor Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *