Densus 88 Bekali Pelajar SMAN 1 Sano Nggoang Waspadai Radikalisme Digital

Densus 88 Bekali Pelajar SMAN 1 Sano Nggoang Waspadai Radikalisme Digital (Foto: Dok Pribadi)

MANGGARAI BARAT, PENA1NTT.COM– Puluhan pelajar dan guru di SMA Negeri 1 Sano Nggoang mendapat edukasi khusus tentang bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di era digital dari Densus 88 Anti Teror Polri, Jumat (8/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di salah satu ruang kelas sekolah itu diikuti sekitar 60 siswa bersama belasan guru. Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan dini agar generasi muda tidak mudah terpapar paham radikal melalui ruang digital yang kini semakin dekat dengan kehidupan remaja.

Tim Cegah Satgaswil NTT Densus 88 hadir langsung memberikan materi dengan pendekatan interaktif yang disesuaikan dengan dunia keseharian para pelajar.

Kepala SMA Negeri 1 Sano Nggoang, Gaspar Senaban, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran tim Densus 88 yang dinilai membawa edukasi penting bagi para siswa.

“kami mengucapkan trimakasih atas kehadiran densus 88 di sekolah kami. selamat datang, mudah-mudahan pengetahuan yang dibagikan hari ini akan bermanfaat bagi anak-anak kami, terutama untuk menjadi bekal bagi anak-anak kami,” ujarnya.

Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

“mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan terus berjalan setiap tahun,” tambahnya.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Silvester Guntur dengan gaya santai namun komunikatif. Ia membuka diskusi dengan menanyakan kebiasaan siswa dalam menggunakan telepon genggam, media sosial, hingga permainan daring seperti Mobile Legends: Bang Bang dan Roblox.

Dari interaksi itu, Silvester kemudian mengingatkan bahwa ancaman radikalisme kini tidak lagi hadir melalui pola-pola konvensional.

“Biasanya metode yang mereka lakukan dimulai dengan bermain game bersama. Karena terasa asik dan menyenangkan, para pelaku ini mulai membangun komunikasi dan kemudian dibuatkan grup bersama. Pada tahap inilah doktrinasi mulai dilakukan. Berbagai gagasan dan ide radikal dicekokkan ke dalam otak anak,” jelasnya.

Menurutnya, anak-anak dan remaja menjadi sasaran empuk karena berada pada fase pencarian jati diri sehingga relatif lebih mudah dipengaruhi.

Silvester mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 110 anak di Indonesia telah terpapar paham IRET. Dari jumlah itu, sekitar 70 orang disebut telah bergabung dalam kelompok radikal bernama True Crime Community.

“Adik-adik tau tidak, bahwa dari 70 orang yang telah bergabung dengan True Crime Community terdapat 13 orang yang telah melakukan aksi teroris,” ungkapnya.

Selain ancaman terorisme, ia menyoroti berbagai bahaya lain di ruang digital, mulai dari narkoba, prostitusi anak, hingga perdagangan manusia.

“Usia remaja adalah usia yang rentan, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk dieksploitasi untuk berbagai kejahatan lain seperti prostitusi anak, narkoba dan kejahatan lain,” katanya.

Ia bahkan menyebut hasil pemantauan menunjukkan adanya grup digital yang dimanfaatkan untuk praktik perdagangan seksual anak.

“Dunia digital memang sangat membantu, tetapi jika tidak bijak dan hati-hati bisa membawa pada kehancuran,” tegasnya.

Dalam sesi materi, Silvester juga menyinggung adanya kasus seorang pemuda asal Manggarai Barat yang diduga pernah direkrut jaringan teror setelah mendapat tawaran pendidikan gratis di luar daerah.

Kasus tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa wilayah Flores, termasuk Manggarai Barat, tidak sepenuhnya steril dari ancaman infiltrasi kelompok radikal.

Ia kemudian menjelaskan secara rinci perbedaan antara intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

“Intoleransi biasanya menjadi tahap awal yang dapat berkembang menjadi radikalisme jika terus dipupuk,” jelasnya.

Sementara kelompok radikal, lanjut dia, cenderung merasa paling benar dan menolak keberagaman.

“Kaum radikal menganggap pandangannya paling benar, menolak perbedaan, mudah mengkafirkan atau memusuhi pihak lain, anti terhadap sistem yang sah, serta membenarkan kekerasan demi tujuan ideologis,” paparnya.

Menurut Silvester, proses seseorang menjadi pelaku teror biasanya berawal dari fase pra-radikalisasi, saat seseorang mengalami krisis identitas, merasa terasing, atau kehilangan arah hidup. Kondisi itu membuat seseorang rentan menerima ideologi ekstrem.

Menutup paparannya, ia mengingatkan pentingnya pengawasan keluarga terhadap aktivitas digital anak.

“Orang tua harus mengecek aktivitas digital anak. Histori Google-nya harus dilihat. Jangan sampai anak kita mengakses situs porno, judi dan situs berbahaya lainnya,” pesannya.

Dalam sesi dialog, seorang siswi bernama Orisa menanyakan mengapa anak-anak sering dijadikan sasaran kelompok radikal. Menjawab hal itu, Silvester menegaskan bahwa kelompok teroris selalu mencari target yang paling mudah dipengaruhi.

“Biasanya anak-anak dan remaja adalah kelompok yang paling mudah untuk dimanipulasi dan dimanfaatkan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa anak-anak yang terpapar paham radikal tetap diposisikan sebagai korban yang harus diselamatkan.

“Selain diproses hukum, mereka juga akan mendapatkan penanganan khusus yang melibatkan psikolog dan tokoh agama,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Densus 88 berharap para pelajar semakin sadar pentingnya literasi digital, mampu memilah informasi, serta memperkuat nilai keimanan dan toleransi agar tidak mudah terseret arus paham menyimpang di dunia maya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *