Manggarai Barat-Pena1-Ntt.com- Pelaku wisatadi kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengeluhkan hilangnya penghasilan akibat penutupan berlayar untuk sementara waktu yang diperpanjang oleh Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Manggarai Barat.
Penutupan berlayar ini dikeluarkan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) tentang potensi cuaca ekstrem, dan diperpanjang hingga 1 Februari 2026. Dampaknya, pariwisata di Labuan Bajo lumpuh, dengan penurunan kunjungan di bandara dan hotel.
EG (38), seorang pemandu wisata, mengatakan bahwa ia dan teman-temannya sangat terpengaruh oleh penutupan ini.
“Kami tidak bisa mendapat uang untuk makan dan membayar kontrakan,” ucapnya melaui pesan Wachapp kepada media ini, Rabu, (28/01/2026).
EG berharap agar pemerintah mempertimbangkan keputusan ini, karena cuaca tidak terlalu ekstrem. Ia merekomendasikan destinasi terdekat yang bisa dikunjungi, seperti Pulau Rinca dan Loh Buaya.
Sementara, di waktu yang sama, Ferdi (36), yang juga merupakan salah satu pelaku wisata, juga menyampaikan keluhan serupa.
“Ekonomi daerah Kabupaten Manggarai Barat 40% didongkrak oleh pariwisata, jadi yang merasakan efek dari penutupan ini bukan hanya pelaku wisata,” Jelasnya
Ferdi berharap agar penutupan aktivitas berlayar tidak terus diperpanjang, karena ini menyangkut mata pencaharian mereka dan keluarga.
“Semoga saja suara ini didengar oleh pemerintah setempat agar sekiranya dapat dibuka secepatnya demi kehidupan kami,” tutupnya.














