​Menata Kepercayaan Petani: Konsistensi Harga dan Akurasi Digital di Pabrik Porang Piter Henoek Reo

​(Foto Istimewa/Bino Maot: Aktivitas petani porang yang sedang menjual hasil bumi sembari memantau timbangan di lokasi pengolahan.)

Manggarai-Pena1-Ntt.com– Di tengah dinamika industri pertanian di Manggarai, pabrik pengolahan porang milik pengusaha muda asal Reok, Piter Henoek, muncul sebagai pionir baru yang mengedepankan keadilan bagi petani.

Kehadiran pabrik ini tidak hanya menawarkan stabilitas ekonomi, tetapi juga membawa standar baru dalam transparansi perdagangan hasil bumi.

Efisiensi dan Harga: Petani Pilih Jual Langsung

Pantauan lapangan pada Senin (20/04/2026) menunjukkan antrean kendaraan petani yang mengular sejak pagi. Petani kini cenderung meninggalkan jalur tengkulak dan memilih menjual langsung ke pabrik karena dua alasan utama: Harga standar Rp9.800/kg yang kompetitif dan efisiensi waktu.

Dua petani yang ditemui, Bapak Urbanus dan Bapak Gregorius Mariyon, memberikan kesaksian serupa. Urbanus merasa terbantu dengan pelayanan tim yang sigap sehingga waktu tidak terbuang, sementara Gregorius menekankan pentingnya timbangan digital.

“Dengan timbangan digital, apa yang tertera di layar adalah yang kami bayar. Jujur dan tidak ada manipulasi,” tegas Gregorius.

Kesejahteraan Tenaga Kerja dan Kondisi Lingkungan Kerja

Dampak positif pabrik ini juga dirasakan langsung oleh para pekerja lokal. Di tengah produktivitas yang tinggi, operasional pabrik dirancang untuk tetap mengedepankan standar kenyamanan bagi para pekerja maupun lingkungan sekitar.

Perwakilan pekerja mengungkapkan bahwa suasana di dalam pabrik sangat mendukung produktivitas. Pengaturan mesin dan tata kelola ruang kerja dipastikan tetap tenang sehingga tidak mengganggu konsentrasi maupun aktivitas warga.

​”Kami yang setiap hari bekerja di sini merasa lingkungan kerja sangat kondusif dan nyaman. Suasana operasional tetap tenang, sehingga kami bisa bekerja dengan fokus tanpa ada kendala lingkungan, baik bagi kami di dalam maupun bagi pemukiman warga di sekitar. Semua berjalan dengan tertib dan harmonis,” ungkap salah satu pekerja.

Lingkungan kerja yang profesional dan inklusif di bawah kepemimpinan Piter Henoek membuat para pekerja merasa dihargai, yang berdampak langsung pada kelancaran operasional pabrik.

Visi Pemberdayaan Putra Daerah

Piter Henoek menegaskan bahwa pabrik ini didirikan dengan semangat kemanusiaan dan kemitraan. Ia ingin memutus rantai ketidakadilan yang sering dialami petani.

​”Visi kami adalah tumbuh bersama. Harapan saya, petani sejahtera dengan harga Rp9.800/kg dan timbangan yang jujur. Kami ingin Reo menjadi pusat porang unggulan tanpa ada pihak yang dirugikan, baik petani maupun warga sekitar,” tutup Piter.

Hilirisasi yang dijalankan Piter Henoek diharapkan menjadi contoh bagi investasi masa depan di Manggarai yang berbasis pada teknologi, keadilan, dan kenyamanan lingkungan.

Penulis: Bino Maot Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *