Penulis: Chrispiano Da Santo
MANGGARAI, PENA1NTT.COM – Manusia hidup berdampingan dengan alam, memanfaatkan alam untuk mempertahankan kehidupannya di dunia. Kondisi ini seharusnya menuntut suatu tanggung jawab untuk merawat dan memelihara alam.
Namun, kenyataan yang terjadi justru adalah manusia menggunakan alam bukan semata-mata demi memenuhi kebutuhan hidupnya, melainkan didorong oleh kepentingan keuntungan ekonomis.
Alam tidak dilihat lagi sebagai pendamping hidup, tetapi sebagai ladang bisnis , yang berakibat pada pengrusakan alam secara membabi buta.
Konsekuensi dari tindakan sewenang-wenang terhadap alam memberikan dampak buruk terhadap kehidupan manusia.
Kerusakan alam secara langsung sangat mempengaruhi kehidupan manusia, menimbulkan persoalan seperti krisis air bersih, polusi udara, dan berbagai bencana alam.
Alam sebagai rumah tempat manusia tinggal juga merupakan tempat darimana manusia memperoleh makanan untuk bertahan hidup.
Krisis ekologis yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan eksploitasi dan pencemaran sumber daya alam, memiliki dampak etis, terutama dalam hal sikap dan perilaku manusia terhadap lingkungan.
Menanggapi kondisi alam yang semakin kritis, diperlukan suatu perubahan yang berangkat dari perubahan kognitif. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan alam.
Gereja Katolik sebagai institusi rohani menawarkan suatu cara berpikir melalui Ensiklik Laudato Si’. Dalam ensiklik yang dikeluarkan Paus Fransiskus pada 24 Mei 2015 ini, alam juga dilihat sebagai subjek yang perlu untuk dihargai.
Titik fokus dalam Laudato Si’ menyoroti perihal alam sebagai rumah bersama. Alam diperlakukan sebagaimana seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka.
Paus Fransiskus berusaha mengubah persepsi orang yang melihat alam hanya sebatas barang habis pakai yang setelah digunakan ditinggalkan begitu saja.
Realitas yang dihadapi dunia saat ini, seperti Polusi, perubahan iklim, masalah air, dan keanekaragaman hayati, terus memburuk akibat ulah manusia.
Bencana alam yang terjadi menunjukkan bagaimana alam telah mengalami kerusakan sehingga tidak mampu mempertahankan diri dari kemungkinan terjadinya tanah longsor, banjir, dan peristiwa lainnya.
Laudato Si’ menawarkan Kitab Suci sebagai Akar Spiritual Perawatan Bumi. Alam sebagai suatu pemberian ditujukan bagi semua orang, bukan menjadi milik pribadi-pribadi tertentu.
Alam diciptakan dan diusahakan oleh manusia demi kelangsungan hidupnya. Namun, hal ini tidak berarti alam dieksploitasi secara bebas, karena sejak awalnya manusia diciptakan berdampingan dengan alam semesta.
Setiap makhluk ciptaan memiliki nilai intrinsik di hadapan Allah. Dengan menghargai hasil ciptaan sama dengan menghargai Sang Penciptanya.
Alam menjadi manifestasi dari kehadiran Allah di dunia , yang mengundang manusia untuk secara aktif ikut serta dalam karya keselamatan dengan cara merawat dan melindungi ciptaan lainnya.
Akar permasalahan krisis ekologis disoroti pada krisis Moral, Kultural, dan Spiritual. Kemajuan teknologi sangat mempengaruhi bagaimana manusia mengambil sikap terhadap alam.
Hal yang disoroti adalah kenyataan bahwa manusia modern belum menerima pendidikan untuk menggunakan kekuasaannya dengan baik, karena kemajuan teknologi belum disertai dengan pengembangan manusia dalam hal tanggung jawab, nilai-nilai, dan hati nurani.
Kesalahan berpikir yang menganut sistem antroposentrisme dilihat telah menjadikan manusia sebagai pusat atas ciptaan, yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan.
Politik yang hanya mementingkan kepentingan Pasar dan uang daripada keselamatan lingkungan hidup terus memperparah kerusakan yang terjadi pada alam.
Untuk menyelamatkan alam yang berada di ambang kehancuran, Laudato Si’ menawarkan konsep Ekologi Integral. Ekologi Integral melihat alam sebagai satu ciptaan yang sama seperti manusia dan saling terkait satu sama lain.
Ekologi ini terkait dengan ekonomi, ekologi lingkungan hidup, dan ekologi budaya, yang melihat alam bukan saja sebagai warisan alam tetapi juga sebagai warisan budaya.
Hal ini menuntut orang untuk mampu untuk hidup sederhana dan solider dengan alam, sehingga alam dapat menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.
Ekologi tidak saja sebatas untuk direnungkan tetapi butuh tindakan nyata. Ekologi Integral meminta dialog di segala level dan langkah pertama yang perlu dimulai adalah dari lingkungan lokal seperti dalam lingkup keluarga, sekolah, paroki, dan gerakan-gerakan sosial lainnya.
Ekologi bergerak dari perubahan konsep yang melihat alam sebagai objek yang dapat digunakan sebebas-bebasnya, menjadi melihat alam sebagai seseorang yang memiliki nilai intrinsik yang patut untuk dihargai dan dihormati.














