Penulis: Paskalia Odo Lasar
KUPANG, PENA1NTT.COM – Sejak momen pertama kepemimpinannya, Paus Fransiskus telah mengirimkan isyarat teologis yang tegas: Gereja bukan lagi “benteng tertutup” yang defensif, melainkan sebuah rumah yang dengan sengaja membuka pintunya lebar-lebar, terutama bagi mereka yang terpinggirkan dan diabaikan.
Gagasan ini jauh melampaui slogan pastoral yang manis. Ia terwujud sebagai dinamika solidaritas yang radikal—sebuah gerakan spiritual dan pastoral yang menghidupkan kembali inti dari pesan Injil.
Intinya adalah berjalan bersama (cum Petro et sub Petro), mendengarkan satu sama lain dengan penuh hormat, dan membangun sebuah Gereja yang menempatkan martabat manusia pada posisi tertinggi.
Solidaritas bagi Paus Fransiskus adalah arah dasar kepemimpinan yang strategis. Beliau secara eksplisit menggeser fokus Gereja dari kerangka pikir struktural yang kaku dan hirarkis menuju sebuah komunitas peziarah yang bergerak. Dalam visi ini, solidaritas tidak pernah dipahami hanya sebagai santunan karitatif yang pasif.
Sebaliknya, ia dimanifestasikan sebagai keberpihakan aktif dan nyata, terlihat jelas dalam perhatiannya yang gigih terhadap isu-isu krusial saat ini, mulai dari krisis migran, ketimpangan kemiskinan global, keadilan ekologis, hingga upaya meredakan konflik.
Solidaritas, dalam esensinya, berarti berdiri teguh bersama mereka yang tak memiliki suara.
Visi solidaritas ini kemudian menemukan perwujudan praktis dan metodologisnya melalui Sinodalitas—proses saling mendengarkan, berdialog, dan merumuskan keputusan secara kolektif.
Sinodalitas adalah wajah partisipasi Gereja di masa kini. Ia mengandaikan sebuah kebenaran fundamental: bahwa umat beriman bukanlah objek pasif dari penggembalaan, bahwa para pemimpin bukanlah penguasa yang terpisah, dan bahwa seluruh Gereja adalah sebuah karavan peziarah yang hanya bisa bergerak maju dalam bimbingan Roh Kudus.
Dengan demikian, solidaritas beralih dari sekadar sikap moral menjadi sebuah metode egaliter dan inklusif untuk membangun komunitas Kristiani.
Seruan moral Paus Fransiskus yang paling beresonansi secara global adalah ajakan agar Gereja berani keluar dari zona nyamannya dan merambah “pinggiran eksistensial.”
Sebuah Gereja yang partisipatif tidak hanya sekadar membuka ruang bagi umat di dalamnya, tetapi juga harus berani menjembatani hubungannya dengan dunia, mengambil bagian aktif dalam kegembiraan dan harapan manusia.
Oleh karena itu, partisipasi umat tidak diukur hanya dari kehadiran dalam liturgi atau rapat pastoral, melainkan dari pengambilan bagian dalam misi Gereja untuk menghadirkan keadilan dan belas kasih Allah secara konkret di tengah masyarakat.
Tentu saja, perjalanan transformatif ini tidak luput dari tantangan besar. Muncul resistensi dan ketakutan akan perubahan, terutama dari sebagian pihak yang menganggap gerakan ini terlalu progresif atau khawatir akan terkikisnya tradisi yang sudah mapan.
Kekhawatiran bahwa sinodalitas dapat melemahkan otoritas hierarki menjadi sumber perlawanan yang signifikan.
Namun, Paus Fransiskus secara konsisten menepis ketakutan tersebut, menegaskan bahwa sinodalitas justru merupakan upaya menghidupkan kembali pola Gereja perdana, di mana para rasul mengambil keputusan bersama, yang sepenuhnya dipandu oleh Roh Kudus.
Dinamika solidaritas yang digelorakan Paus Fransiskus pada akhirnya adalah sebuah undangan profetis yang transformatif.
Ini adalah ajakan untuk memulihkan relasi yang sempat renggang antarumat, untuk menumbuhkan budaya mendengarkan yang tulus dan non-judgemental, serta untuk mengembangkan Gereja yang secara otentik mencerminkan communio—persekutuan yang hidup, bergerak, dan bersaksi tentang harapan di tengah dunia.














