Penulis: Romoaulda Fitry Nggujuk (Mahasiswi Kelas 2025N Program Studi PGSD UNIKA St. Paulus Ruteng)
Ruteng, Pena1NTT.Com – Dalam era digital saat ini, penggunaan smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk kalangan pelajar.
Smartphone memang memiliki banyak manfaat, seperti memudahkan akses informasi dan membantu proses pembelajaran daring.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena penggunaan smartphone yang berlebihan di kalangan pelajar.
Menurut pendapat saya, penggunaan smartphone yang berlebihan perlu dibatasi karena dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan akademik, sosial, dan mental pelajar.
Pertama, penggunaan smartphone yang berlebihan dapat menurunkan konsentrasi belajar pelajar.
Banyak siswa yang lebih tertarik membuka media sosial atau bermain game dibandingkan memanfaatkan smartphone untuk kegiatan belajar.
Akibatnya, waktu belajar menjadi berkurang, prestasi akademik menurun, dan kemampuan berpikir kritis tidak berkembang secara optimal.
Hasil penelitian dari beberapa lembaga pendidikan menunjukkan bahwa pelajar yang menggunakan smartphone lebih dari lima jam per hari cenderung memiliki nilai akademik yang lebih rendah dibandingkan mereka yang penggunaannya lebih terkontrol.
Kedua, penggunaan smartphone secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan bersosialisasi.
Pelajar yang terlalu sering menatap layar cenderung kurang berinteraksi secara langsung dengan teman, guru, maupun keluarga. Kondisi ini dapat menghambat perkembangan keterampilan komunikasi dan empati sosial.
Selain itu, mereka berisiko mengalami ketergantungan terhadap dunia maya, sehingga lebih sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan nyata.
Ketiga, dampak negatif lainnya adalah gangguan kesehatan mental dan fisik. Pelajar yang terlalu lama menggunakan smartphone dapat mengalami gangguan tidur, kelelahan mata, bahkan kecemasan atau stres akibat paparan konten yang berlebihan.
Ketergantungan pada smartphone juga dapat memicu perasaan cemas ketika perangkat tidak berada di dekat mereka, yang dikenal dengan istilah nomophobia (no mobile phone phobia).
Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan memberikan lebih banyak dampak negatif daripada manfaat bagi pelajar.
Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan orang tua untuk bekerja sama dalam mengawasi serta mengatur waktu penggunaan smartphone.
Pelajar juga perlu diajarkan untuk menggunakan teknologi secara bijak, hanya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi pengembangan diri dan pendidikan.
Dengan pengawasan dan kesadaran yang baik, smartphone dapat menjadi alat bantu belajar yang efektif, bukan sumber masalah bagi generasi muda.














