MANGGARAI, PENA1NTT.COM — Di tengah upaya penanganan warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, sebuah kabar duka menyelimuti keluarga aparat Desa Ruis, Kecamatan Reok.
Wilibrodus Janggang, aparat Desa Ruis yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan di posko pengungsian, harus menerima kehilangan putra tercintanya, Arseno Janggang, yang masih berusia 5 tahun.
Arseno meninggal dunia ketika sang ayah sedang menjalankan tugas mendata warga terdampak gempa di Posko Pengungsian Dusun Conggo, Desa Ruis.
Peristiwa memilukan itu terjadi saat Wilibrodus berada di lapangan untuk membantu memastikan pendataan warga terdampak berjalan dengan baik serta mendukung proses penanganan dan penyaluran bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah tugas tersebut, Arseno dilaporkan mengalami sakit secara mendadak.
Keluarga kemudian berupaya membawa bocah tersebut menuju fasilitas kesehatan di Reo untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, Arseno meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sempat mendapatkan penanganan medis.
Kabar duka tersebut kemudian mendapat perhatian dari Pemerintah Desa Ruis.
Kepala Desa Ruis, Wensislaus Alhabsi Sunardi, menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Arseno. Ia mengatakan, kehilangan seorang anak merupakan cobaan yang sangat berat, terlebih ketika sang ayah sedang menjalankan tugas kemanusiaan membantu warga yang terdampak bencana.
“Atas nama pribadi, Pemerintah Desa Ruis, dan seluruh warga, saya mengucapkan duka cita yang paling mendalam atas berpulangnya ananda Arseno Janggang. Tidak ada kata yang mampu menandingi beratnya cobaan ini,” ujar Wensislaus.
Menurutnya, Wilibrodus selama ini turut mengambil bagian dalam pelayanan kepada masyarakat di tengah situasi pascagempa.
“Di saat Saudara Wilibrodus berdiri tegak menguatkan warga yang tertimpa bencana, beliau justru harus kehilangan harta paling berharga dalam hidupnya,” lanjutnya.
Wensislaus menilai peristiwa tersebut menjadi gambaran beratnya tugas para aparat desa dan relawan yang berada di garis depan pelayanan masyarakat ketika bencana terjadi.
Namun, ia menegaskan bahwa kehilangan yang dialami keluarga Wilibrodus jauh lebih besar daripada sekadar pengorbanan dalam menjalankan tugas.
“Ananda Arseno telah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Kami berdoa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan, khususnya Bapak Wilibrodus, diberikan ketabahan serta kekuatan,” katanya.
Minta Perhatian Pemerintah
Di balik peristiwa duka tersebut, Pemerintah Desa Ruis juga berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi masyarakat dan para petugas yang terlibat dalam penanganan bencana.
Wensislaus berharap penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada bantuan logistik dan pemulihan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan, termasuk kondisi para aparat desa, relawan, serta keluarga mereka.
Menurutnya, para petugas di lapangan harus bekerja dalam situasi penuh tekanan dan sering kali mengorbankan waktu bersama keluarga untuk memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pelayanan.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik kerja-kerja kemanusiaan di lapangan, ada keluarga yang juga membutuhkan perhatian dan perlindungan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memperkuat dukungan terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana, terutama mereka yang bekerja langsung di tingkat desa dan posko pengungsian.
Bagi keluarga Wilibrodus, tugas kemanusiaan di tengah bencana kini meninggalkan sebuah luka mendalam. Saat sang ayah berusaha mendata dan membantu warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa, ia justru harus menghadapi kehilangan terbesar dalam keluarganya.
Arseno Janggang kini telah pergi. Namun, duka yang ditinggalkannya menjadi bagian dari kisah kemanusiaan di tengah penanganan bencana gempa di Manggarai.













